Sampah Plastik Mengancam Laut Raja Ampat, Pemkab Luncurkan Gerakan Sekolah Adiwiyata 2026

RAJA AMPAT – Pemerintah Kabupaten Raja Ampat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) meluncurkan Program Sekolah Adiwiyata 2026 melalui Gerakan Aksi Nyata 30 Hari untuk membangun budaya peduli lingkungan di kalangan pelajar.

Program ini mendorong sekolah membiasakan pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

Peluncuran program tersebut dipusatkan di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Senin (19/10/2026). Sambutan Bupati Raja Ampat, Orideko Burdam, dibacakan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Raja Ampat, Adam Malik, di hadapan kepala sekolah, guru, siswa, dan para pihak yang terlibat.

Dalam sambutan tersebut, Orideko menegaskan bahwa keindahan laut dan pulau-pulau Raja Ampat merupakan kekayaan alam yang harus dijaga bersama. Ancaman sampah plastik tidak hanya merusak keindahan kawasan wisata, tetapi juga berpotensi membahayakan terumbu karang, biota laut, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.

“Raja Ampat dianugerahi laut dan pulau yang indah, dikenal dunia sebagai surga bahari. Anugerah ini bukan untuk dihabiskan, melainkan titipan yang wajib kita jaga,” demikian pesan Bupati dalam sambutan yang dibacakan Adam Malik.

Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari, termasuk di sekolah. Melalui Gerakan Aksi Nyata 30 Hari, pemerintah daerah ingin mendorong terbentuknya lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, asri, dan berkelanjutan.

Program ini juga mengusung semangat tobat ekologis, yakni kesadaran untuk meninggalkan kebiasaan yang merusak alam dan mulai mengambil tindakan nyata untuk merawat lingkungan.

Orideko meminta kepala sekolah dan guru menjadi teladan dalam membangun kebiasaan hidup bersih, mengelola sampah, serta menghemat sumber daya. Sementara itu, para siswa diharapkan menjadi pelopor perubahan melalui tindakan sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya dan membawa botol minum guna ulang atau tumbleruntuk mengurangi sampah plastik sekali pakai.

Baca Juga  Dikukuhkan Bupati Orideko, 40 Paskibraka Raja Ampat Siap Bertugas pada Upacara HUT RI ke-81

Selain melibatkan warga sekolah, dinas terkait, pemerintah distrik, kelurahan, dan kampung juga diharapkan berperan aktif mendampingi sekolah serta menggerakkan partisipasi masyarakat.

Gerakan 30 Hari Harus Berlanjut Menjadi Kebiasaan

Pemerintah daerah menekankan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti setelah program berlangsung selama 30 hari. Perubahan perilaku menjadi tujuan utama agar kepedulian terhadap lingkungan dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Pelaksanaan aksi juga diharapkan dilakukan secara terukur dan dilaporkan secara jujur sehingga perkembangan program dapat dievaluasi.

Ratus pelajar mengikuti launching Tobat Ekologis Sekolah Adiwiyata 2026. Dipangai WTC. Senin, (19/10/2026). Dok. RARS/istimewa.

Sebagai tindak lanjut peluncuran, kegiatan akan dilanjutkan dengan aksi bersih Kota Waisai yang melibatkan warga sekolah dan masyarakat. Kegiatan ini diarahkan untuk mendorong keterlibatan langsung dalam menjaga kebersihan pantai, jalan, dan lingkungan permukiman.

Peserta juga diimbau membawa tumbler sebagai bentuk komitmen mengurangi penggunaan wadah minuman sekali pakai.

Melalui Program Sekolah Adiwiyata 2026, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat berharap sekolah dapat menjadi pusat pembentukan karakter peduli lingkungan, sekaligus menumbuhkan generasi yang memahami pentingnya menjaga kelestarian alam.

Upaya tersebut menjadi penting bagi Raja Ampat yang memiliki kekayaan bahari dan keanekaragaman hayati sebagai aset lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga, dan masyarakat secara berkelanjutan.