Prof Padmosantjojo Soroti Kesenjangan Layanan Bedah Saraf di Papua, Alat Medis Jadi Tantangan

RAJA AMPAT – Pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya layanan bedah saraf dan penanganan pasien stroke, di wilayah Papua menjadi perhatian Prof. Dr. K.R.M.H. Padmosantjojo, Sp.BS(K) dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono.

Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara bersama Awak media saat melakukan kunjungan bersama rombongan Dokter Spesialis Saraf di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Ampat, Sabtu (17/10/2026).

Padmosantjojo menegaskan, masyarakat di Papua, termasuk Raja Ampat, harus memperoleh pelayanan kesehatan yang setara dengan masyarakat di wilayah Indonesia lainnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan penguatan sumber daya manusia, ketersediaan peralatan medis, serta kerja sama berbagai pihak.

Menurut dia, upaya pemerataan layanan kesehatan tidak cukup hanya dengan mendidik dan menyiapkan tenaga medis spesialis. Fasilitas kesehatan juga harus didukung peralatan yang memadai agar tenaga medis dapat memberikan pertolongan secara optimal kepada pasien.

Ia mencontohkan, pengembangan tenaga kesehatan di sejumlah wilayah Papua, seperti Biak, Manokwari, Sorong, Wamena, dan wilayah lainnya, perlu diikuti dengan penyediaan sarana serta peralatan medis yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan.

“Kalau saya sudah mendidik tenaga medis, mereka harus didukung peralatan. Kalau tidak ada peralatan, untuk apa ada orangnya? Yang seharusnya bisa ditolong, akhirnya tidak bisa ditolong,” ujarnya.

Ia menilai, ketersediaan gedung rumah sakit yang megah belum menjamin kualitas pelayanan apabila tidak diimbangi dengan fasilitas medis dan peralatan yang memadai. Karena itu, pembangunan infrastruktur kesehatan harus berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan alat kesehatan.

Padmosantjojo juga menekankan pentingnya kerja sama untuk mencari sumber pendanaan guna memenuhi kebutuhan peralatan medis. Menurut dia, kolaborasi tersebut diperlukan agar fasilitas kesehatan di Papua tidak hanya memiliki bangunan yang baik, tetapi juga mampu memberikan pelayanan nyata kepada masyarakat.

Baca Juga  Disambut Meriah Ribuan Pelajar, Wapres Gibran Rakabuming Raka Cek Langsung Program MBG di SD Negeri 2 Waisai

“Jangan sampai sudah punya gedung yang bagus, tetapi tidak ada peralatan dan pelayanan yang memadai. Yang paling penting bukan hanya gedungnya, tetapi bagaimana pasien bisa mendapatkan pertolongan,” tegasnya.

Selain pemerataan layanan bedah saraf, ia menyoroti pentingnya penanganan pasien stroke di Papua. Menurut dia, masyarakat harus memiliki akses terhadap pelayanan yang dibutuhkan ketika mengalami stroke, tanpa terkendala keterbatasan fasilitas maupun kemampuan ekonomi.

Ia mempertanyakan bagaimana masyarakat yang mengalami stroke dapat memperoleh pengobatan apabila fasilitas penanganan belum tersedia secara memadai, terutama bagi warga yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk mengakses layanan kesehatan yang dibutuhkan.

“Kalau orang di Papua ini stroke, berobat ke mana? Kalau tidak punya duit, mau apa?” ujarnya.

Padmosantjojo berharap, penguatan pelayanan kesehatan di Papua dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas tenaga medis, penyediaan peralatan, hingga perluasan akses pelayanan bagi masyarakat.

Kunjungan ke RSUD Raja Ampat tersebut menjadi momentum untuk menyoroti pentingnya kesiapan fasilitas kesehatan daerah dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan sumber daya manusia, peralatan medis, dan kerja sama lintas pihak, pelayanan kesehatan di Raja Ampat dan wilayah Papua diharapkan semakin mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Pemerataan layanan kesehatan, menurut dia, harus diwujudkan melalui kemampuan fasilitas kesehatan dalam memberikan pertolongan kepada pasien, bukan semata-mata melalui pembangunan gedung rumah sakit.