RAJA AMPAT — Lomba Yosim Pancar (Yospan) yang digelar Dewan Kesenian Raja Ampat di Gedung Olahraga Waisai, Jumat (28/8/2026), diikuti 10 peserta dari Kota Sorong dan Kabupaten Raja Ampat.
Sekretaris Dewan Kesenian Raja Ampat, Sawaluddin Taesa menyampaikan dari total peserta tersebut, dua merupakan perwakilan dari Kota Sorong, sedangkan delapan peserta lainnya berasal dari Raja Ampat. Keikutsertaan peserta dari dua daerah itu membuat perlombaan tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kemampuan seni, tetapi juga mempertemukan pelaku seni dalam upaya menjaga keberlangsungan budaya Papua.
“Proses penilaian dilakukan secara langsung dan terbuka. Setiap peserta yang selesai tampil langsung mendapatkan komentar dan masukan dari dewan juri terkait penampilan mereka,” ungkapnya.
Penilaian tersebut menurutnya dilakukan oleh empat orang dewan juri yang memberikan penilaian berdasarkan penampilan peserta secara profesional. Nilai diberikan setelah peserta menyelesaikan penampilannya, sehingga proses penjurian dapat diketahui dan diikuti secara transparan.
Pola penilaian secara langsung itu juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengetahui kekuatan maupun kekurangan penampilan mereka. Dengan demikian, lomba tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga menjadi ruang evaluasi bagi peserta untuk meningkatkan kualitas dalam berkesenian.
Lomba Yospan ini mengusung tema “Mengangkat Budaya” dengan subtema “Bergerak, Berkarya dan Melestarikan Budaya Papua”. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keberadaan seni tradisional Papua, khususnya Yospan, agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremoni, tetapi membutuhkan ruang bagi pelaku seni untuk tampil, berkompetisi, sekaligus mengembangkan kemampuan mereka.












