Singkirkan Debu Kemunafikan Yang Melekat Dalam Diri

RENUNGAN HARIAN RABU, 17 JUNI 2026; Pekan Biasa XI

Oleh : RD. Ardus Endi

Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Bacaan-bacaan suci yang kita renungkan hari ini bersumber dari dua perikop bacaan (I: 2Raj. 2:1.6-14; dan Injil Mat. 6:1-6.16-18). Salah satu ajakan penting bagi kita, sebagaimana terungkap dalam kedua bacaan ini adalah kita harus berani move on dari segala bentuk kemunafikan. Atau dengan rumusan lain, kita harus berani menyingkirkan “debu” kemunafikan yang melekat dalam diri. Hal ini mendapat penekanan serius dalam seri kotbah Yesus. Kepada para murid dan segenap barisan pengikut-Nya, Yesus dengan lantang mengingatkan agar mereka tidak boleh tercebur dalam arus kemunafikan terutama dalam tiga hal:

Pertama, soal bersedekah atau berderma. Tentang hal ini, Yesus dengan tegas katakan: “…apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang-orang munafik… jika engkau memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang diperbuat tangan kananmu …” (Mat. 6:2-3). Ini menjadi semacam kritikan Yesus terhadap kita yang kerapkali haus akan pencitraan. Menurut Yesus, setiap donasi dan derma yang kita berikan kepada orang lain, hendaknya dilakukan dengan tulus tanpa motivasi terselubung apalagi menuntut imbalan atau pujian.

Kedua, soal berdoa atau beribadah. Terkait hal ini, Yesus mengingatkan dengan sedikit agak keras: “…apabila kalian berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik yang suka mengucapkan doanya di tikungan-tikungan jalan raya, supaya dilihat orang” (Mat. 6:5). Pernyataan Yesus ini adalah sebentuk teguran kepada setiap kita, yang kerapkali haus akan validasi di ruang publik. Kerapkali doa yang didaraskan atau lagu pujian yang dilantunkan bukan lagi untuk kemuliaan nama Allah tetapi justeru menjadi ajang untuk memperolehvalidasi dan mendulang pujian dari banyak orang.

Baca Juga  Grup “Opini Pileg Raja Ampat” Disorot: Narasi Liar dan Ujaran Kebencian Picu Kekhawatiran Publik

Ketiga, soal berpuasa. Dalam hubungannya dengan ini, Yesus menggarisbawahi pentingnya sikap kewajaran dan ugah hari. “Dan apabila kalian berpuasa, janganlah muram mukamu, seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa” (Mat. 6:16). Pernyataan ini memperlihatkan bahwa aktus puasa pertama-tama bukan perkara mode cassing atau tampilan luar, tetapi terutama berhubungan dengan kondisi batin.

Tindakan berpuasa, bukan perkara tata rias secara lahiriah tetapi lebih pada dekorasi secara batiniah, yaitu menata ruang hati. Hati yang selalu bening dan bersih dari segala bentuk kemunafikan akan selalu memancarkan sukacita kasih yang menggembirakan orang lain.

Saudara/-I terkasih, semoga pesan injil hari ini senantiasa menginspirasi kita semua agar dengan penuh keberanian dan penuh komitmen menyingkirkan “debu” kemunafikan yang melekat erat pada diri kita. Hanya dengan demikian, kita pantas menjadi abdi kasih Allah bagi sesama. Tuhan senantiasa memberkati kita semua. Amin.        

Penulis: RD. Ardus Endi (Imam Keuskupan Labuan Bajo)