“Merangkul Musuh dengan Cinta yang Utuh”

RENUNGAN HARIAN SELASA, 16 JUNI 2026; Pekan Biasa XI

Oleh : RD. Ardus Endi

Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Bacaan-bacaan suci yang kita renungkan hari ini bersumber dari duaperikop bacaan (I: 1Raj. 21:17-29; dan Injil Mat. 5:43-48). Dengan membaca kedua bacaan ini, ada dua pesan pentingyang menurut hemat saya amat relevan dengan konteks kehidupan kita setiap hari.

Pertama, ajakan bagi kita untuk menghidupi semangat tobat. Hal ini terungkap secara inplisit dalam narasi bacaan I. Setelah Ahab mendapatkan teguran dari Nabi Elia lantaran telah menghabiskan nyawa Nabot dan kemudian merampas tanah miliknya, Ahab sungguh menyadari perbuatannya yang keji itu di hadapan Tuhan, ia lalu “mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa” (1 Raj. 21:27). Dan setelah melihat kesungguhan hati Ahab untuk bertobat, Allah kemudian menganugerahkan kepadanya rahmat pembebasan. “…Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya” (1Raj. 21:29b). Tindakan yang diambil oleh Ahab ini memperlihatkan kepada kita bahwa sikap tobat adalah jalan terbaik untuk mendapatkan rahmat pengampunan dan pembebasan dari Tuhan.

Kedua, ajakan untuk mengasihi sesama tanpa memandang perbedaan. Hal ini secara amat tegas diproklamirkan dalam narasi bacan Injil. Dalam seri kotbah-Nya, Yesus menekankan pentingnya sikap mengasihi terutama kepada orang-orang yang seringkali menjadi sosok antagonis dalam hidup kita. Yesus dengan lantang katakan: “Kalian telah mendengar bahwa disabdakan, ‘kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian’” (Mat. 5:43-44).

Dalam dan melalui sabda-Nya ini, Yesus hendak memperlihatkan kepada para murid, termasuk kepada kita semua bahwa sikap mengasihi menjadi lebih bernilai apabila sasarannya sampai kepada orang-orang, yang daripadanya kita justeru mendapatkan perlakuan yang tidak adil alias musuh-musuh kita. Sebab, menurut Yesus, apalah artinya kita berbuat baik kalau hal itu hanya untuk membalas kebaikan dari orang-orang yang telah berbuat kepada kita. “Apabila kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Mat. 5:46). Itu berarti kasih tidak akan memiliki nilai tawar lebih kalau itu hanya terbingkai dalam lingkaran balas budi atau balas jasa saja. Kebaikan atau tindakan kasih itu akan memiliki bobot lebih besar ketika ada komitmen dan keberanian untuk merangkul musuh dengan dosis cinta yang utuh. Bagi Yesus, hal ini harus menjadi pilihan sikap etis pastoral kita semua.

Baca Juga  Bangun Sistem Tangguh, Nusron Wahid Soroti Pentingnya Sinergi dan SDM dalam Penanggulangan Bencana

Saudara/-I terkasih, semoga pesan injil hari ini senantiasa menginspirasi kita semua agar sungguh-sungguh berkomitmen: menghayati semangat tobat dan keberanian untuk merangkul semua orang bahkan musuh sekalipun dengan porsi cinta yang utuh. Ini memang tidak mudah, tetapi percayalah Tuhan senantiasa memberkati kita semua. Amin.

Penulis: RD. Ardus Endi (Imam Keuskupan Labuan Bajo)