RAJA AMPAT – Semangat untuk kembali membangkitkan olahraga tinju di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, khususnya di Ibu Kota Waisai, mulai digaungkan. Pelatih tinju Raja Ampat, Efer Mambraku, menyatakan kesiapannya untuk kembali membina dan mendampingi generasi muda yang ingin menekuni olahraga tinju.
Menurut Efer, perkembangan olahraga tinju di Raja Ampat sangat bergantung pada semangat, motivasi, serta kemauan para pelaku olahraga untuk terus membina atlet-atlet muda.
“Masalah tinju di Kabupaten Raja Ampat, khususnya Ibu Kota Waisai, sebenarnya hanya dari semangat. Kalau ada semangat dan motivasi untuk mengembangkan tinju, saya kira tidak ada persoalan,” ujar Efer. Selasa,(25/8/2026).
Ia mengatakan, olahraga tinju dapat menjadi salah satu wadah positif bagi anak-anak sekolah dan generasi muda di Raja Ampat. Namun, selama ini sebagian anak muda masih kebingungan mencari tempat latihan maupun pembinaan yang berkelanjutan.
“Kadang anak-anak di Raja Ampat ini bingung mau ikut olahraga tinju, tetapi tidak ada perkembangan. Mereka bertanya, latihan di mana dan siapa yang membina mereka,” katanya.
Karena itu, Efer mengajak seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap olahraga tinju untuk bersama-sama membangun kembali pembinaan tinju di Raja Ampat.

Menurut dia, dibutuhkan kerja sama, dukungan, serta sikap saling menopang agar olahraga tinju dapat berkembang dan melahirkan atlet-atlet berprestasi.
“Kalau ada yang punya semangat untuk membangkitkan tinju dan membawa tinju ini berkembang, mari kita sama-sama mendukung dan saling menopang satu dengan yang lain,” ujarnya.
Berawal dari Pembinaan Sejak 2005
Efer mengatakan, dirinya memiliki pengalaman panjang dalam pembinaan olahraga tinju di Raja Ampat. Ia menyebut, salah satu tonggak pembinaan tinju di daerah tersebut dimulai sekitar 2005 bersama sejumlah tokoh dan pelatih tinju, termasuk John Kapisa, almarhum Wilem Lapon, dan Marthen Kamanasa. Saat itu, mereka membentuk sebuah tim untuk mengembangkan olahraga tinju di Raja Ampat.
Menurut Efer, perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan tinju di Raja Ampat.
Ia juga mengenang pesan almarhum Wilem Lapon yang meminta dirinya untuk terus melanjutkan pembinaan olahraga tinju.
“Almarhum Wilem Lapon pernah berpesan kepada saya, kalau suatu saat beliau sudah tidak ada, saya harus melanjutkan dan mendampingi olahraga tinju ini agar tetap berkembang,” tutur Efer.
Pesan tersebut, kata dia, masih menjadi motivasi hingga saat ini.
Keterbatasan Fasilitas Jadi Kendala
Meski memiliki semangat untuk menghidupkan kembali olahraga tinju, Efer mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang harus dibenahi. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas dan peralatan latihan.
Menurut dia, keberadaan sarana latihan menjadi hal penting untuk mendukung proses pembinaan atlet secara berkelanjutan.
Ia berharap perhatian dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), dapat terus ditingkatkan melalui penyediaan sarana dan prasarana latihan tinju. Efer juga mengingatkan pentingnya pengelolaan peralatan olahraga secara bersama-sama.
Menurut dia, peralatan yang telah dibeli atau digunakan dalam pertandingan sebaiknya disimpan dan dikelola dengan baik sehingga dapat digunakan kembali untuk pembinaan berikutnya.
“Jangan setiap kali kita berangkat pertandingan harus membeli alat lagi. Kalau sudah ada, kita harus belajar menghemat dan mempercayakan peralatan itu kepada orang yang bertanggung jawab untuk menyimpannya,” katanya.
Siap Kembali Membina Atlet Muda Efer menegaskan dirinya siap kembali membangkitkan olahraga tinju di Kabupaten Raja Ampat, terutama di Waisai, apabila dukungan fasilitas dan pembinaan dapat berjalan dengan baik.
“Saya rindu sekali untuk mengembangkan olahraga tinju di Kabupaten Raja Ampat, khususnya Kota Waisai,” ujarnya.
Namun, ia mengaku masih memiliki kekhawatiran terhadap berbagai persoalan internal yang pernah terjadi dalam perjalanan olahraga tinju di Raja Ampat.
Ia berharap perbedaan latar belakang maupun pengalaman tidak menjadi alasan untuk saling menjatuhkan. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana seluruh pihak memiliki tujuan yang sama untuk memajukan olahraga dan mencetak atlet berprestasi.
“Kalau kita mau maju, jangan saling menjatuhkan. Jangan ada yang merasa paling berhak atau paling berjasa. Yang penting bagaimana kita bersama-sama membangun tinju Raja Ampat,” katanya.
Efer menilai olahraga tinju berbeda dengan olahraga beregu seperti sepak bola. Dalam tinju, prestasi seorang atlet sangat ditentukan oleh kemampuan individu, disiplin, mental, latihan, dan pembinaan yang konsisten.
Karena itu, ia berharap pembinaan atlet tinju di Raja Ampat dapat dilakukan secara serius dan berkelanjutan sehingga anak-anak muda memiliki ruang untuk mengembangkan bakat mereka.
“Saya sekarang siap untuk bangkitkan olahraga tinju kembali. Hanya saja saya masih trauma dengan hal-hal yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Tetapi kalau kita semua punya niat yang baik dan tujuan yang sama, saya siap untuk kembali membina,” kata Efer.
Ia pun mengajak pemerintah daerah, insan olahraga, pelatih, mantan atlet, serta masyarakat untuk bersama-sama membuka kembali ruang pembinaan tinju bagi generasi muda Raja Ampat.

Menurut Efer, kebangkitan olahraga tinju tidak hanya tentang pertandingan dan meraih medali, tetapi juga memberikan pilihan kegiatan positif bagi generasi muda sekaligus membuka jalan bagi mereka untuk mengejar prestasi hingga tingkat daerah, nasional, bahkan internasional.
“Kalau kita punya semangat, kita bisa mulai dari Raja Ampat. Mari kita bangkitkan kembali tinju dan berikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk menunjukkan kemampuan mereka,” pungkasnya.












