SORONG – Penutupan Temu Raya Ke-V Persekutuan Anggota Muda (PAM) Gereja Kristen Injili (GKI) Se-Tanah Papua di Klasis Malamoi, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (15/7/2026), tidak hanya menjadi penutup rangkaian pertemuan ribuan pemuda gereja, tetapi juga menjadi momentum lahirnya pesan kritis mengenai tanggung jawab generasi muda terhadap krisis lingkungan yang terus mengancam Tanah Papua.
Ribuan peserta Temu Raya menanam sekitar seribu bibit pohon di Kompleks SMK YPK Bethel Aimas sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian alam. Aksi tersebut menjadi simbol komitmen bahwa gereja tidak hanya berbicara tentang kehidupan spiritual, tetapi juga hadir menjawab persoalan ekologis yang semakin nyata.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap hutan, perubahan fungsi lahan, pencemaran lingkungan, hingga dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan masyarakat Papua, penanaman pohon dinilai memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan seremonial penutupan.

Kepala Biro Pemuda dan Remaja (PAM) Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Eddyson Sekenyap, menegaskan bahwa gerakan tersebut merupakan pengingat bahwa alam Papua bukanlah ruang kosong yang bebas dieksploitasi, melainkan rumah bersama yang wajib dijaga.
“Terima kasih. Dalam rangka penutupan Temu Raya PAM GKI Se-Tanah Papua ditandai dengan penanaman seribu pohon di Kompleks SMK YPK Bethel Aimas di Tanah Malamoi. Ini sebagai simbol bahwa Tanah Papua bukan tanah kosong dan alam jaga ko, ko jaga Tanah Papua. Kiranya Tuhan memberkati,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi atas berbagai persoalan lingkungan yang belakangan terus menjadi perhatian publik di Papua. Deforestasi, kerusakan daerah aliran sungai, hingga berkurangnya ruang hidup masyarakat adat menjadi tantangan yang tidak bisa dihadapi hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, termasuk lembaga keagamaan.
Temu Raya PAM GKI dinilai memberikan pesan bahwa gereja memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran ekologis. Ribuan pemuda yang hadir dari berbagai klasis di Tanah Papua diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan aksi nyata di daerah masing-masing, mulai dari menjaga hutan, mengurangi pencemaran, hingga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kelestarian lingkungan.

Namun, aksi penanaman pohon juga menyisakan tantangan. Keberhasilan gerakan ini tidak diukur dari jumlah bibit yang ditanam, melainkan dari tingkat keberhasilan pohon tersebut tumbuh dan dirawat dalam jangka panjang. Tanpa pemeliharaan yang berkelanjutan, penanaman pohon berisiko menjadi agenda seremonial yang kehilangan dampak nyata bagi lingkungan.
Karena itu, komitmen yang lahir dari Temu Raya ini diharapkan tidak berhenti setelah para peserta kembali ke daerah masing-masing. Nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan perlu diterjemahkan dalam program konkret di setiap jemaat, seperti penghijauan, pengelolaan sampah, perlindungan mata air, dan pendidikan lingkungan bagi anak-anak serta generasi muda.
Penutupan Temu Raya Ke-V PAM GKI Se-Tanah Papua akhirnya menghadirkan pesan yang jelas: menjaga iman tidak dapat dipisahkan dari menjaga ciptaan Tuhan. Ketika hutan rusak, sungai tercemar, dan ruang hidup masyarakat semakin terancam, gereja dipanggil bukan hanya menjadi saksi, tetapi juga pelaku yang aktif merawat bumi. Seribu pohon yang ditanam di Malamoi menjadi awal dari sebuah komitmen, sementara keberlanjutan aksi itulah yang akan menjadi ukuran keberhasilannya.
Wtiter: Dony Kumuai












