SORONG— Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Papua Barat Daya, Dr. Sellvyana Sangkek, SE.,M.Si, mengajak generasi muda untuk menjadi pribadi yang toleran, cinta damai, serta berperan aktif dalam menangkal paham radikalisme dan mencegah terorisme.
Pesan tersebut disampaikan Sellvyana dalam kegiatan Rapat Koordinasi FKPT Provinsi Papua Barat Daya yang berlangsung di Hotel Belagri and Convention Sorong, Jumat (23/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, ia menyampaikan materi dengan tema “Generasi Muda Papua Barat Daya yang Toleran, Cinta Damai, Tangkal Radikalisme dan Cegah Terorisme.”
Dalam pemaparannya, Sellvyana mengatakan generasi muda tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman yang harus diawasi, melainkan sebagai harapan yang perlu dipercaya, dibekali, dan diberdayakan untuk membangun masa depan yang damai.

Ia menyoroti perkembangan teknologi informasi yang membawa peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Menurutnya, derasnya arus informasi di era digital membuka kesempatan bagi anak muda untuk berkembang. Namun, ruang digital juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi yang membenarkan kekerasan, menumbuhkan kebencian, dan memecah belah persatuan.
Karena itu, ia menilai pencegahan radikalisme dan terorisme tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, aparat keamanan, keluarga, sekolah, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat.
“Peran utama FKPT bukan menggantikan tugas siapa pun, melainkan melengkapi upaya semua pihak,” ujar Sellvyana dalam pemaparannya.
Sellvyana menjelaskan terdapat empat pendekatan yang perlu diperkuat FKPT bersama seluruh pemangku kepentingan untuk membentengi generasi muda dari pengaruh paham radikalisme dan terorisme.
Pertama, memperkuat literasi digital agar generasi muda mampu memilah informasi, mengenali berita bohong atau hoaks, serta memahami narasi yang mengarah pada kebencian dan kekerasan. Kemampuan berpikir kritis di ruang digital menjadi penting agar anak muda tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.
Kedua, membuka ruang dialog yang aman dan inklusif bagi generasi muda untuk menyampaikan pertanyaan, kegelisahan, maupun kekecewaan tanpa merasa dihakimi atau dicurigai. Menurutnya, komunikasi yang terbuka merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan dan mencegah berkembangnya pengaruh negatif.

Ketiga, memberdayakan potensi dan kreativitas pemuda melalui berbagai kegiatan positif, seperti kewirausahaan, seni dan budaya, olahraga, serta aktivitas sosial yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap identitas sebagai anak Papua.
Ia menekankan bahwa energi dan kreativitas generasi muda perlu diarahkan pada kegiatan produktif yang membuka peluang, memperkuat kemandirian, dan mendorong kontribusi nyata bagi masyarakat.
Keempat, menguatkan nilai persaudaraan melalui semangat “Kitorang Basudara.” Nilai kebersamaan yang diwariskan leluhur tersebut dinilai menjadi modal sosial penting untuk merawat kerukunan, menghargai perbedaan, dan mencegah berkembangnya sikap saling bermusuhan.
Bagi FKPT, semangat persaudaraan bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, kampung, maupun ruang digital.
Lebih lanjut, Sellvyana menegaskan bahwa perdamaian tidak hadir dengan sendirinya, tetapi harus dijaga, dibangun, dan diwariskan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ia mengajak generasi muda Papua Barat Daya untuk mengambil peran aktif sebagai pelopor perdamaian dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan sosial di lingkungan masing-masing.
“Kalian bukan objek pencegahan, kalian adalah pelopor perdamaian,” tegasnya.
Menurutnya, masa depan Papua Barat Daya harus dibangun melalui kreativitas, persatuan, dan semangat kebersamaan, bukan melalui kekerasan, senjata, maupun perpecahan.

Ia juga mengajak orang tua untuk membangun lingkungan keluarga yang terbuka, guru untuk menanamkan nilai toleransi di sekolah, serta tokoh adat dan tokoh agama untuk terus memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat. Sementara itu, pemerintah diharapkan menghadirkan kebijakan yang mendukung pembangunan manusia, pemerataan kesejahteraan, dan kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang.
Melalui Rapat Koordinasi FKPT Provinsi Papua Barat Daya yang berlangsung di Hotel Belagri and Convention Sorong tersebut, diharapkan upaya pencegahan radikalisme dan terorisme dapat berjalan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat serta mengedepankan pendekatan edukatif, persuasif, dan pemberdayaan.
Semangat “Kitorang Basudara” pun menjadi pesan utama yang ingin terus ditanamkan, bahwa masyarakat Papua Barat Daya memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga tanah ini tetap damai, merawat persatuan, dan mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.












