MAYBRAT – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Teofani A3 ke-75 pada 21 Oktober 2026, Sellvyana Sangkek mengajak seluruh keluarga besar masyarakat adat Suku A3 untuk terus memperkuat persaudaraan, memperkokoh iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta menjaga nilai-nilai luhur warisan para leluhur.
Masyarakat adat Suku A3 yang dimaksud meliputi masyarakat dari wilayah Ayamaru, Aitinyo, dan Aifat di Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya. Keluarga besar A3 juga tersebar di berbagai wilayah hingga enam provinsi di Tanah Papua.
Dalam rilis yang diterima RajaAmpatNews.com, Selasa (20/10/2026), disebutkan bahwa ajakan tersebut disampaikan Sellvyana Sangkek melalui ucapan selamat dan pesan reflektif dalam rangka peringatan 75 tahun Teofani A3. Ia menilai, perjalanan panjang Teofani bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum untuk mempererat kebersamaan dan meneruskan nilai-nilai spiritual kepada generasi penerus.
“Selamat merayakan HUT Teofani A3 ke-75 tahun. Kiranya perayaan ini menjadi momentum bagi kita semua untuk semakin mempererat tali persaudaraan, memperkokoh iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan para pendahulu kepada generasi penerus,” demikian pesan Sellvyana.
Menurutnya, perjalanan Teofani A3 memiliki makna penting dalam sejarah iman, perjuangan, dan persaudaraan masyarakat pendukungnya. Sejarah tersebut merujuk pada peristiwa Johremo Aitinyo pada 17 Januari 1937 hingga nubuatan Teofani di Kayahai pada 21 Oktober 1951, yang dipandang sebagai bagian penting dari fondasi rohani yang diwariskan hingga saat ini.
Dalam pesannya, Sellvyana juga mengajak keluarga besar masyarakat adat Suku A3 untuk terus menghidupi empat pilar nilai yang menjadi pedoman dalam kehidupan bersama, yakni kesatuan, kerendahan hati, kasih, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Pilar pertama, merah sebagai simbol kesatuan, mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun kebersamaan. Kesatuan perlu terus dirawat melalui semangat persaudaraan, iman, dan harapan bersama.
Pilar kedua, biru sebagai simbol kerendahan hati, menegaskan bahwa kebesaran seseorang tidak semata-mata diukur dari apa yang dimiliki, tetapi juga dari ketulusan dalam melayani sesama.
Selanjutnya, hijau sebagai simbol kasih, menjadi pengingat bahwa kasih merupakan kekuatan yang mempersatukan dan memperkokoh kehidupan bermasyarakat. Sementara itu, ungu sebagai simbol kehormatan kepada semua orang, mengajak setiap anggota masyarakat untuk menghormati orang tua, menghargai sesama, serta menjunjung tinggi martabat setiap manusia tanpa memandang perbedaan.
Sellvyana menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut perlu terus dipelihara agar tidak hanya menjadi simbol dalam perayaan, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun dalam membangun daerah.
“Kasih karunia Tuhan tetap menjadi turun-temurun, dari leluhur kepada kita, dan dari kita kepada anak cucu kita nanti,” demikian pesan yang disampaikannya.
Ia berharap semangat Teofani dan nilai-nilai Injil senantiasa menjadi pedoman bagi keluarga besar masyarakat adat Suku A3 dalam menjaga kedamaian, memperkuat solidaritas, serta berkontribusi bagi pembangunan Papua Barat Daya yang damai, sejahtera, dan diberkati Tuhan.
Ucapan tersebut disampaikan Sellvyana Sangkek yang juga menjabat sebagai Ketua DPD PIKI Papua Barat Daya, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Papua Barat Daya, serta Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Papua Barat Daya.
Peringatan HUT Teofani A3 ke-75 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga warisan iman, merawat persaudaraan lintas generasi, dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda di Tanah Papua.












