RAJA AMPAT – Pemerintah Kabupaten Raja Ampat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan aksi penanaman 10.000 bibit mangrove sebagai langkah pemulihan sekaligus pengendalian kerusakan lingkungan pesisir.
Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Cormansiwin, Kimindores, Kelurahan Sapordanco, Jumat (30/10/2026), menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir di wilayah yang dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Bupati Raja Ampat, Orideko Iriano Burdam, melalui Asisten I Setda Raja Ampat, Yosep Mirino, mengatakan keberadaan hutan mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir.
Menurutnya, mangrove bukan sekadar vegetasi di kawasan pantai, melainkan benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari ancaman abrasi dan gelombang laut. Ekosistem ini juga menjadi habitat berkembang biaknya berbagai jenis ikan dan biota laut serta berperan dalam penyerapan karbon.
“Raja Ampat dikenal dunia karena kekayaan keanekaragaman hayati lautnya. Namun, di balik keindahan tersebut, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga ekosistem pesisir, salah satunya melalui perlindungan dan pemulihan hutan mangrove,” ujar Yosep saat membacakan sambutan Bupati.
Ia menjelaskan, ekosistem pesisir Raja Ampat saat ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pembukaan lahan, persoalan sampah hingga aktivitas manusia yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan.
Karena itu, penanaman 10.000 bibit mangrove harus dipandang sebagai langkah nyata untuk memulihkan kawasan pesisir sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat.
“Kelestarian mangrove berkaitan langsung dengan keberlanjutan hasil tangkapan nelayan, daya tarik pariwisata, serta mata pencaharian masyarakat pesisir. Jika ekosistem ini rusak, dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kehidupan ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Namun, pemerintah daerah mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Tingkat kelangsungan hidup tanaman hingga tumbuh menjadi hutan mangrove yang sehat menjadi indikator penting dari keberhasilan pemulihan lingkungan.
“Sepuluh ribu bibit yang kita tanam hari ini hanya akan menjadi hutan apabila dirawat. Setiap bibit adalah janji kita kepada masa depan,” katanya.
Untuk memastikan keberlanjutan program, Dinas Lingkungan Hidup bersama instansi teknis diminta melakukan pemantauan, penyulaman terhadap bibit yang mati, serta pemeliharaan secara berkala sesuai kaidah teknis penanaman mangrove.
Pemerintah kelurahan, tokoh agama dan masyarakat Kimindores juga diharapkan terlibat aktif menjaga kawasan penanaman, termasuk mencegah pembuangan sampah dan aktivitas yang dapat merusak tanaman.
Selain itu, pelajar, mahasiswa dan generasi muda didorong menjadi pelopor gerakan peduli lingkungan. Dukungan mitra pembangunan serta lembaga konservasi juga dinilai penting untuk memperkuat pendampingan dan kolaborasi jangka panjang.
Yosep menegaskan, pemulihan lingkungan membutuhkan keterlibatan seluruh pihak dan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
“Menanam bukan sekadar kegiatan hari ini. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita memastikan mangrove ini tumbuh, terawat dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta generasi mendatang,” ujarnya.
Melalui aksi tersebut, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat berharap upaya rehabilitasi mangrove dapat memperkuat perlindungan kawasan pesisir, menjaga habitat biota laut, serta mendukung keberlanjutan sektor perikanan dan pariwisata.
Pemerintah juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan penanaman mangrove sebagai gerakan bersama, bukan sekadar kegiatan sesaat.
“Marilah kita menanam hari ini agar manfaatnya dapat dipetik oleh anak cucu kita kelak. Mari menanam dengan sepenuh hati dan merawat dengan penuh kesabaran serta tanggung jawab,” tutupnya.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Dinas Lingkungan Hidup selaku penyelenggara, serta kepada seluruh pihak yang telah hadir dan berpartisipasi.
Sebagai informasi selain kawasan Cormansiwin, Kimindores, Kelurahan Sapordanco, penanaman juga dilakukan di Ayau dan Kepulauan Ayau Kabupaten Raja Ampat.












