RAJA AMPAT – Direktur Institut USBA, Charles A. Imbir, mengapresiasi langkah Bupati Raja Ampat dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang menginisiasi penanaman 10.000 bibit mangrove sebagai upaya memulihkan ekosistem pesisir sekaligus mengendalikan kerusakan lingkungan.
Menurut Charles, program tersebut menjadi langkah penting, terutama bagi wilayah pulau-pulau kecil di Distrik Ayau dan Kepulauan Ayau yang rentan terdampak perubahan iklim, abrasi pantai, serta sedimentasi.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan penanaman mangrove yang dipusatkan di Area Cormansiwin, Kimindores, Kelurahan Sapordanco, Jumat (30/10/2026).
Selain di Cormansiwin, penanaman mangrove juga direncanakan berlangsung di wilayah Ayau dan Kepulauan Ayau yang menghadapi persoalan kerusakan pesisir.
Charles mengungkapkan, kondisi lingkungan di sejumlah pulau kecil di kawasan tersebut semakin memprihatinkan. Abrasi dan sedimentasi telah mengubah bentang pesisir, bahkan beberapa pulau dilaporkan mengalami penyusutan hingga hilang.
“Pulau-pulau kecil di Ayau sangat rentan terhadap perubahan iklim. Abrasi sudah terjadi, bahkan ada beberapa pulau yang mengalami sedimentasi dan ada yang sudah hilang. Karena itu, penanaman mangrove ini menjadi langkah penting untuk menjaga wilayah pesisir,” ungkap Charles.
Ia berharap, program tersebut tidak hanya berorientasi pada penanaman bibit, tetapi juga mampu membangkitkan kembali semangat masyarakat adat untuk terlibat aktif dalam menjaga lingkungan di wilayahnya.
“Dengan penanaman mangrove di pesisir Ayau dan Kepulauan Ayau, kami berharap dapat kembali membangkitkan semangat masyarakat adat sekaligus meningkatkan kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Charles menyoroti dampak kerusakan ekosistem pesisir terhadap kehidupan masyarakat, khususnya nelayan tradisional. Menurutnya, perubahan kondisi lingkungan turut memengaruhi ketersediaan sumber daya ikan sehingga nelayan harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan.
“Sekarang jangkauan nelayan dalam mencari ikan dan sumber daya alam lainnya semakin jauh karena kondisi lingkungan yang mengalami abrasi dan sedimentasi,” jelasnya.
Karena itu, ia berharap penanaman mangrove dapat membantu memulihkan habitat ikan, menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan laut, serta mendukung keberlanjutan mata pencaharian masyarakat adat.
“Melalui pemulihan mangrove, kita berharap habitat ikan kembali terjaga sehingga masyarakat adat dapat memperoleh sumber penghidupan dari wilayah yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka,” tutup Charles.
Upaya ini diharapkan menjadi bagian dari komitmen bersama antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat adat dalam menjaga kelestarian lingkungan Raja Ampat, khususnya kawasan pulau-pulau kecil yang semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim.












