WAISAI, RajaAmpatNews – Menjelang perayaan Hari Raya Natal 25 Desember dan Tahun Baru 1 Januari 2026, warga Kota Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kembali dihadapkan pada persoalan klasik berupa kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis minyak tanah. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat karena minyak tanah masih menjadi kebutuhan utama rumah tangga, khususnya untuk memasak.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa sejak beberapa pekan terakhir, pasokan minyak tanah di sejumlah pengecer maupun pangkalan resmi terbilang terbatas. Warga terpaksa berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan minyak tanah. Bahkan, sebagian masyarakat harus membeli dengan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Salah seorang warga Waisai, Maria Rumbino, mengaku kesulitan memperoleh minyak tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, kelangkaan ini sangat dirasakan menjelang Natal, saat kebutuhan rumah tangga meningkat.
“Menjelang Natal seperti ini, kebutuhan dapur pasti bertambah. Tapi minyak tanah susah sekali didapat. Kalaupun ada, harganya sudah mahal,” ujarnya, Senin (16/12/2025).
Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Koordinator UKM, salah satu unit koperasi usaha kecil menengah (IKM NUSANTARA) Kabupaten Raja Ampat, Frits Moom. Ia mengkritik lemahnya pengawasan terhadap peredaran minyak tanah di Waisai yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat kecil.

Menurutnya, kelangkaan minyak tanah yang terus berulang setiap menjelang hari besar keagamaan dan pergantian tahun menandakan adanya persoalan serius dalam sistem distribusi. Ia menduga penyaluran minyak tanah tidak tepat sasaran dan berpotensi disalahgunakan oleh oknum tertentu.
“Ini bukan persoalan baru. Setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, masyarakat selalu mengeluh. Artinya, ada yang salah dalam pengawasan dan penyaluran minyak tanah di Waisai,” tegasnya.
Ia menilai, pemerintah daerah bersama instansi terkait harus segera turun tangan untuk memastikan distribusi minyak tanah berjalan sesuai ketentuan. Selain itu, aparat penegak hukum diminta tidak ragu menindak tegas pihak-pihak yang diduga melakukan penimbunan maupun mempermainkan harga demi keuntungan pribadi.
“Minyak tanah ini merupakan BBM bersubsidi dari pemerintah. Seharusnya dinikmati oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan, bukan dijadikan komoditas untuk mencari keuntungan di atas penderitaan rakyat,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia mendesak Pemerintah Kabupaten Raja Ampat agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap agen dan pangkalan resmi minyak tanah di Waisai. Transparansi data penerima dan kuota distribusi dinilai penting agar masyarakat mengetahui secara jelas ke mana minyak tanah tersebut disalurkan.
Sementara itu, masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret menjelang Natal dan Tahun Baru, agar kebutuhan energi rumah tangga dapat terpenuhi. Warga juga meminta adanya penambahan pasokan serta pengawasan ketat di lapangan guna mencegah kelangkaan dan lonjakan harga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti kelangkaan minyak tanah di Waisai. Masyarakat berharap persoalan ini tidak terus berulang setiap tahun, terutama pada momen-momen keagamaan yang seharusnya dirayakan dengan penuh sukacita dan ketenangan.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu













