RAJA AMPAT — Gereja didorong tidak hanya hadir dalam pelayanan spiritual, tetapi juga mengambil peran nyata dalam pemberdayaan ekonomi jemaat. Salah satu bentuk yang dinilai dapat dikembangkan adalah Credit Union (CU) sebagai wadah membangun kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat semangat saling menolong dalam kehidupan bersama.
Hal tersebut disampaikan Pdt. Mardison Simanjorang, Kabid Pelayanan Pembangunan Sinode Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), saat menjadi pemateri dalam seminar pada Konsultasi Nasional (KONAS) XIX Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (FK-PKB PGI) di Raja Ampat.
Dalam wawancara dengan awak media di halaman Gereja Alfa Omega Waisai, Jumat (11/9/2026), Mardison menjelaskan bahwa tema yang dibawakannya dalam seminar adalah “Ekonomi Gereja Terbentuk dan Bekerjanya Credit Union.”
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi jemaat merupakan bagian penting dari panggilan gereja di tengah perubahan zaman yang semakin mendorong individualisme.
Ia menegaskan, semangat saling menolong dan saling membantu tidak boleh hilang dari kehidupan gereja, apa pun perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.
“Ciri dari komunitas orang yang percaya adalah saling membantu. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, sebab demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus,” ujarnya, merujuk pada pesan dalam Galatia 6:2.
Mardison mengatakan, semangat tersebut harus dimulai dari lingkungan paling dekat, yakni keluarga, gereja, dan komunitas jemaat.
Ia mencontohkan kondisi para petani yang menurutnya semakin menghadapi tantangan berat akibat perubahan iklim. Mulai dari biaya produksi, proses tanam hingga panen dan pascapanen, para petani menghadapi ketidakpastian yang dapat memengaruhi pendapatan mereka.
“Siapa yang peduli kepada petani? Gereja harus peduli, karena petani itu sendiri bisa jadi adalah anggota gereja kita,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Mardison melihat Credit Union bukan semata-mata sebagai lembaga yang berkaitan dengan uang, tetapi sebagai sarana untuk mempraktikkan kepedulian dan semangat kebersamaan.
Menurutnya, kontribusi kecil dari anggota, sekalipun hanya Rp20 ribu, dapat menjadi bentuk nyata dari semangat saling membantu apabila dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
Ia kemudian membagikan pengalaman pengembangan CU berbasis komunitas di Simalungun. Menurutnya, lembaga tersebut pada awalnya hanya dibangun oleh 16 orang pada 16 Januari 2007.
Namun, dalam perjalanan hampir 20 tahun, jumlah anggotanya telah berkembang menjadi sekitar 13 ribu orang, dengan aset mencapai sekitar Rp58 miliar hingga Agustus 2026.
“Ini dimulai dari 16 orang. Sekarang anggotanya sekitar 13 ribu orang dengan aset Rp58 miliar,” ungkapnya.
Tidak hanya berhenti pada pengelolaan simpan pinjam, pengembangan CU tersebut juga diarahkan untuk memperkuat sektor riil dan membantu pemasaran produk anggota.
Mardison menyebut, pihaknya baru saja meluncurkan PT Bayu Talenta Agribusiness, yang diarahkan untuk membantu memasarkan produk pertanian anggota secara langsung ke pasar.
Langkah itu dinilai penting agar petani tidak sepenuhnya bergantung kepada tengkulak dan dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik dari hasil produksinya.
“Tujuannya supaya produk pertanian dari anggota bisa dipasarkan langsung. Petani kita tidak dimakan tengkulak. Ini harus dibantu oleh gereja,” tegasnya.
Mardison mengakui, penerapan Credit Union di lingkungan gereja bukan tanpa tantangan. Sejumlah komunitas telah memiliki pengalaman membangun CU, namun ada pula yang mengalami kegagalan hingga akhirnya kolaps.
Menurut dia, pengalaman tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti, melainkan dijadikan pembelajaran dalam memperbaiki tata kelola dan melakukan mitigasi risiko.
“Jangan lari ketika ada masalah. Perlahan-lahan kita mitigasi risiko-risikonya,” katanya.
Ia menekankan, keberhasilan CU tidak boleh hanya diukur dari aspek finansial. Lebih mendasar dari itu, CU harus dibangun atas dasar iman, kepedulian dan ikatan antarmanusia.
“CU itu bukan perikatan uang. Pertama-tama harus merupakan perikatan iman, perikatan hati. Kalau hanya perikatan uang, sangat sekuler,” ujarnya.
Menariknya, keanggotaan CU yang dikembangkan komunitas tersebut juga tidak terbatas pada warga gereja. Mardison menyebut terdapat anggota dari kalangan umat Muslim yang ikut bergabung.
Hal itu, menurutnya, menunjukkan bahwa semangat pemberdayaan ekonomi dan gotong royong dapat menjadi ruang bersama yang melampaui batas-batas kelompok keagamaan.
Dalam kesempatan tersebut, Mardison juga menyampaikan pesan khusus kepada para peserta KONAS XIX FK-PKB PGI, terutama kaum bapak.
Ia mengingatkan bahwa budaya masyarakat Indonesia masih kuat dipengaruhi kultur patriarki dan pola relasi yang sangat maskulin. Karena itu, kaum bapak perlu membangun relasi yang lebih setara dengan kaum perempuan, termasuk dalam kehidupan ekonomi maupun rumah tangga.
Ia mencontohkan kehidupan ekonomi di Siantar yang menurutnya banyak digerakkan oleh perempuan.
“Kaum bapak harus berbagi peran dengan kaum ibu. Jangan salah, karena Allah Bapa kita Mahakuasa, maka bapak di rumah juga merasa harus mahakuasa. Ini masalah,” katanya.
Menurut Mardison, kehidupan keluarga sebagai bagian dari komunitas iman harus dibangun secara egaliter. Ia menyebut konsep ekklesia domestika, yakni keluarga sebagai gereja rumah tangga, harus menjadi ruang untuk membangun relasi yang dipulihkan dan setara.
“Ciri dari orang yang percaya itu komunitasnya egaliter. Eksploitasi berhentilah di rumah. Jangan bapak-bapak dilayani terus,” tegasnya.
Ia berharap kaum bapak yang mengikuti KONAS XIX tidak hanya menjadi penggerak pelayanan gereja, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam membangun keluarga yang setara serta ikut mendorong kemandirian ekonomi jemaat.
Dengan demikian, gereja diharapkan tidak hanya berbicara tentang kesejahteraan, tetapi hadir dan bekerja bersama jemaat untuk mewujudkannya melalui semangat saling menolong, pemberdayaan ekonomi, dan kemandirian bersama.












