“Awalnya kuota yang diberikan kepada Kabupaten Raja Ampat hanya 100 peserta. Namun karena tingginya minat, kami langsung berkoordinasi dengan panitia provinsi dan nasional. Hasilnya, kuota ditambah menjadi 200 peserta,” jelas Yansen.
Waisai, RajaAmpatNews – Ratusan pelajar dari berbagai SMA/SMK di Kabupaten Raja Ampat antusias mengikuti seleksi Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK Papua) Tahun 2025 yang digelar di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat, Selasa (20/5/2025).
Tingginya antusiasme para pelajar menjadi bukti semangat generasi muda Raja Ampat untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara gratis melalui jalur afirmasi yang diperuntukkan bagi Orang Asli Papua (OAP). Program ini memberikan akses masuk ke perguruan tinggi dan politeknik negeri di seluruh Indonesia.
Program ADIK Papua sendiri merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan institusi pendidikan, dengan tujuan meningkatkan akses dan pemerataan pendidikan tinggi bagi anak-anak Papua dan daerah khusus lainnya. Selain pembiayaan uang kuliah, program ini juga mencakup bantuan biaya hidup bagi peserta yang lolos seleksi.

Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Raja Ampat, Asri Haji Salim, melalui Ketua Panitia Seleksi ADIK 2025 yang juga Kepala Seksi Kurikulum SMA/SMK, Yansen Rumbewas, M.Pd., mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar pada tahun ini mencapai angka yang sangat tinggi.
“Awalnya kuota yang diberikan kepada Kabupaten Raja Ampat hanya 100 peserta. Namun karena tingginya minat, kami langsung berkoordinasi dengan panitia provinsi dan nasional. Hasilnya, kuota ditambah menjadi 200 peserta,” jelas Yansen.
Hingga saat ini, tercatat 118 pelajar telah resmi mendaftar untuk mengikuti proses seleksi. Yansen menegaskan bahwa pendaftaran masih terbuka apabila ada pelajar yang masih ingin bergabung, dan panitia siap mengajukan tambahan kuota kembali ke tingkat provinsi maupun nasional.
Meski kuota pendaftaran mencapai 200 peserta, Yansen menjelaskan bahwa belum semua akan diterima. Hal ini dikarenakan proses seleksi menggunakan sistem penilaian berbasis nilai rapor, dan setiap perguruan tinggi memiliki kewenangan sendiri dalam menentukan peserta yang lolos.
“Penerimaan ditentukan langsung oleh perguruan tinggi berdasarkan hasil verifikasi nilai rapor dan kebutuhan masing-masing kampus. Jadi, tidak semua dari 200 peserta otomatis diterima,” ujarnya.
Lebih dari sekadar bantuan biaya pendidikan, program ADIK Papua dinilai sebagai simbol nyata perhatian negara terhadap masa depan generasi muda Papua, termasuk di Raja Ampat. Semangat kompetitif yang tumbuh dari program ini mendorong pelajar untuk berjuang meraih cita-cita melalui jalur pendidikan.
Ke depan, pemerintah daerah berharap program ini terus dilanjutkan dan bahkan diperluas. Dengan begitu, semakin banyak anak muda Raja Ampat bisa menempuh pendidikan tinggi tanpa terbebani oleh biaya, demi masa depan yang lebih cerah bagi individu, daerah, dan bangsa.













