KONAS XIX Dorong PKB Raja Ampat Bangun Ekonomi Jemaat dari Potensi Laut

RAJA AMPAT — Keberadaan oven pengasapan ikan di Raja Ampat diharapkan tidak sekadar menjadi fasilitas pengolahan hasil laut, tetapi mampu berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi jemaat dan keluarga melalui peran aktif Persekutuan Kaum Bapak (PKB).

Harapan tersebut disampaikan Temy Lengkong saat peserta Konsultasi Nasional (KONAS) XIX Forum Komunikasi Pria Kaum Bapak Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (FK-PKB PGI) 2026 melakukan kunjungan ke lokasi pengolahan ikan dan produk pangan berbasis potensi lokal di kawasan Perumahan 200, Kelurahan Warmasen, Distrik Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Kamis (10/9/2026).

Temy menekankan, pemanfaatan oven pengasapan membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar keberadaannya memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Ia berharap pemerintah daerah bersama PKB di Raja Ampat dapat membangun kolaborasi dalam mengembangkan usaha ekonomi produktif yang memanfaatkan potensi lokal, khususnya hasil laut.

“Harapan kami benar-benar ada kolaborasi antara pemerintah dengan Pria Kaum Bapak yang ada di Raja Ampat, supaya bisa meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi untuk memanfaatkan alat oven pengasapan ini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Oskar Sauyai, Wakil Ketua KONAS XIX FK-PKB PGI 2026 sekaligus Sekretaris PKB Klasis Raja Ampat. Menurutnya, oven pengasapan memiliki nilai strategis bagi masyarakat Raja Ampat yang sebagian besar kehidupannya memiliki keterkaitan erat dengan laut.

Oskar mengatakan, pengolahan ikan melalui metode pengasapan dapat dikembangkan menjadi bagian dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mempertahankan budaya dan tradisi masyarakat pesisir.

“Kami percaya bahwa dalam KONAS ini kita mengangkat bagaimana UMKM yang sementara kita lihat ini bisa menciptakan budaya dan tradisi dari laut. Kita hidup dari laut, dan bagaimana ikan yang kita gunakan melalui pengasapan ini bisa menjawab kebutuhan masyarakat Raja Ampat melalui UMKM,” kata Oskar.

Baca Juga  Dorong Percepatan UU Kepulauan, Raja Ampat Harap Kewenangan Kelola Laut Diperluas

Menurutnya, pengembangan usaha sederhana berbasis hasil laut dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi keluarga. Ketika dikelola secara serius dan berkelanjutan, usaha tersebut juga berpotensi memberikan dampak positif bagi kehidupan jemaat dan gereja.

“Dengan adanya pengasapan ikan ini, kita bisa menghidupkan PKB, khususnya Persekutuan Kaum Bapak yang ada di Raja Ampat. Mereka bisa mengerti, bisa tahu dan bisa berusaha. Usaha kecil itu pasti menghidupkan keluarga dan bisa menghidupkan gereja,” ujarnya.

Oskar berharap oven pengasapan tersebut tidak berhenti sebagai bantuan peralatan, tetapi benar-benar dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif oleh PKB Klasis Raja Ampat.

“Kami berharap alat ini bisa mengangkat persekutuan kaum bapak yang ada di Kabupaten Raja Ampat,” pungkasnya.

Kunjungan peserta KONAS XIX FK-PKB PGI 2026 tersebut sekaligus menunjukkan bahwa rangkaian kegiatan nasional tersebut tidak hanya menjadi ruang pertemuan dan pembahasan program organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat secara langsung potensi pemberdayaan ekonomi keluarga dan jemaat.

Melalui pengembangan UMKM berbasis hasil laut, PKB diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam mendorong kemandirian ekonomi jemaat, sekaligus mengoptimalkan potensi lokal Raja Ampat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.