RAJA AMPAT – Kepedulian terhadap kelestarian alam Raja Ampat kembali disuarakan. Ketua PAM GKI Paulus Warnap, Rudhy Rumbewas, menyatakan dukungannya terhadap aksi Peduli lingkungan yang dilakukan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan Kepala adat serta organisasi kepemudaan di Raja Ampat.
Rudhy mengatakan dirinya menyampaikan sikap tersebut dengan mewakili sejumlah sub-suku yang ada di Raja Ampat, yakni Usba, Wardo, dan Beteuw Kafdarun.
Menurut dia, setiap keputusan yang diambil oleh suku-suku asli yang mendiami Raja Ampat harus dihormati. Ia menilai kepentingan masyarakat adat dan keberlanjutan lingkungan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan.
“Kami menghormati semua keputusan suku-suku asli yang mendiami Raja Ampat,” ujar Rudhy, Sabtu (29/8/2026).
Ia menegaskan, sikap yang disampaikan untuk menjaga alam Raja Ampat bukan semata-mata untuk kepentingan saat ini, melainkan berkaitan dengan masa depan generasi yang akan datang.
Rudhy mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat Raja Ampat tidak hanya bergantung pada aktivitas pertambangan.
Menurut dia, masih banyak potensi lain yang dapat dikembangkan untuk menopang kehidupan dan perekonomian masyarakat tanpa harus mengorbankan lingkungan.
“Manusia hidup bukan hanya dari tambang. Masih banyak peluang lain yang bisa menghidupi masyarakat Raja Ampat,” katanya.
Tak Ingin Alam Raja Ampat Rusak
Rudhy mengatakan keberadaan alam yang masih terjaga merupakan warisan penting bagi anak cucu. Ia berharap generasi mendatang tetap dapat menikmati kekayaan laut dan daratan Raja Ampat seperti yang dirasakan masyarakat saat ini.
Ia menyebut laut dengan ikan yang melimpah, terumbu karang yang terjaga, serta hasil pertanian yang baik sebagai kekayaan yang harus dipertahankan.
“Kami peduli alam Raja Ampat untuk generasi berikutnya. Biar ada cerita bahwa bumi Raja Ampat masih alami dan terjaga dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan potensi dampak pencemaran lingkungan apabila pembangunan tidak dilakukan dengan memperhatikan daya dukung alam. Menurut dia, masyarakat harus memastikan aktivitas ekonomi tidak meninggalkan limbah yang merusak lingkungan dan mengancam sumber kehidupan masyarakat.
Rudhy berharap anak cucu kelak masih dapat menikmati hasil laut dan daratan Raja Ampat tanpa harus kehilangan ekosistem yang menjadi sumber kehidupan mereka.
“Ikan tetap melimpah, terumbu karang tetap terjaga, dan hasil panen tetap melimpah tanpa harus merusak alam Raja Ampat,” katanya.
Dukung Pelestarian Alam dan Budaya
Rudhy juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang menurut dia menempatkan kepentingan masyarakat asli Raja Ampat sebagai pertimbangan utama.
Ia bahkan menyampaikan permohonan maaf sekaligus penghormatan kepada pihak yang dinilai memperjuangkan kepentingan masyarakat asli Raja Ampat.
“Kalau hari ini Bapak berdua lebih mementingkan kepentingan masyarakat asli pada umumnya di seluruh Raja Ampat, kami mewakili sub-suku Usba, Wardo, dan Beteuw Kafdarun mengucapkan terima kasih. Kami mohon maaf dan angkat topi buat Bapak berdua. Semua itu baik adanya,” kata Rudhy.
Ia menegaskan dukungannya terhadap berbagai aksi kepedulian lingkungan yang dilakukan LSM maupun organisasi kepemudaan di Raja Ampat.
Selain itu, ia menyatakan dukungan terhadap program pemerintah yang bertujuan melestarikan alam dan budaya Raja Ampat.
“Salam sehat. Kami mendukung aksi peduli alam yang dilakukan LSM dan OKP lainnya dalam menjaga alam Raja Ampat tetap asri, aman, dan sehat. Kami juga mendukung penuh program pemerintah dalam melestarikan alam dan budaya Raja Ampat untuk generasi anak cucu mendatang,” ujarnya.
Bagi Rudhy, menjaga Raja Ampat bukan hanya persoalan mempertahankan lingkungan hari ini. Lebih dari itu, menjaga alam merupakan upaya memastikan generasi mendatang masih memiliki laut, hutan, tanah, dan budaya yang dapat diwariskan sebagai bagian dari identitas masyarakat Raja Ampat.












