Arus Mudik Lebaran 2026 di Raja Ampat Meningkat, Tiket Kapal Cepat Ludes Terjual

WAISAI, RajaAmpatNews – Arus mudik Lebaran 2026 di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, menunjukkan peningkatan signifikan. Lonjakan jumlah penumpang terlihat di Pelabuhan Waisai pada Rabu (18/3/2026) pagi, khususnya untuk rute penyeberangan menuju Sorong.

Sejumlah calon penumpang dilaporkan tidak mendapatkan tiket kapal cepat karena seluruh tiket telah habis terjual di loket resmi pelabuhan. Kondisi ini menyebabkan banyak warga tertahan dan tidak dapat melakukan perjalanan mudik sesuai jadwal yang telah direncanakan.

Salah satu calon penumpang yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dengan situasi tersebut.

“Banyak penumpang tidak memiliki tiket. Tiket sudah habis terjual di loket, jadi kami tidak bisa berangkat,” ujarnya kepada wartawan di lokasi Pelabuhan.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean panjang sudah terjadi sejak pagi hari. Sejumlah calon penumpang terlihat menunggu di bawah terik matahari, baik di halaman pelabuhan maupun di ruang tunggu. Tidak sedikit di antara mereka yang telah datang lebih awal, namun tetap tidak memperoleh tiket, terutama untuk jadwal keberangkatan pagi.

Keterbatasan armada kapal disebut menjadi salah satu penyebab utama permasalahan ini. Saat ini, hanya satu armada yang beroperasi melayani rute Waisai–Sorong dan sebaliknya, yakni dari PT Belibis Putra Mandiri Papua. Kapasitas kapal yang terbatas dinilai tidak sebanding dengan tingginya jumlah penumpang, khususnya menjelang puncak arus mudik Lebaran.

Berdasarkan informasi di lapangan, jadwal operasional kapal cepat tersebut dalam satu pekan hanya tiga kali keberangkatan ganda, yakni pada Rabu, Jumat, dan Minggu pukul 09.00 WIT dan 14.00 WIT. Sementara pada hari lainnya, kapal hanya beroperasi satu kali, yaitu pukul 14.00 WIT.

Sejumlah warga menyampaikan kritik terhadap pemerintah daerah, khususnya Dinas Perhubungan Kabupaten Raja Ampat, yang dinilai belum optimal dalam mengantisipasi lonjakan penumpang tahunan ini. Mereka berharap adanya penambahan armada kapal atau peningkatan kapasitas agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.

“Kami berharap pemerintah bisa menyediakan kapal yang lebih besar atau menambah jumlah armada. Supaya semua penumpang bisa terangkut dan tidak terjadi kekacauan seperti ini,” kata calon penumpang lainnya.

Selain warga lokal, sejumlah wisatawan asing juga dilaporkan terdampak. Beberapa di antaranya tidak dapat melanjutkan perjalanan karena kehabisan tiket, meskipun telah berada di pelabuhan sejak pagi hari.

Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah bersama DPRK setempat. Tanpa langkah antisipatif yang konkret, lonjakan penumpang yang terjadi setiap tahun berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan gangguan keamanan di area pelabuhan.

Hingga laporan ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah penanganan maupun rencana penambahan armada untuk mengurai kepadatan arus mudik di wilayah tersebut.

Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu