Jaga Identitas di Tengah Arus Global, Dewan Kesenian Raja Ampat Didorong Jadi Penggerak Pelestarian Budaya

RAJA AMPAT—Pelantikan Dewan Kesenian Kabupaten Raja Ampat menjadi momentum penting dalam upaya menjaga dan melestarikan budaya lokal di tengah derasnya pengaruh globalisasi. Hal ini disampaikan Kordinator Sementara Dewan Kesenian Provinsi Papua Barat Daya, David Kapisa, saat diwawancarai RajaAmpatNews, Senin (4/5/2026).

David mengungkapkan, hingga saat ini Dewan Kesenian tingkat provinsi di Papua Barat Daya belum terbentuk secara definitif. Meski demikian, pihaknya telah mendapatkan rekomendasi dari gubernur untuk sementara waktu mengoordinasikan dan membawahi dewan kesenian di tingkat kabupaten/kota.

KET: Kordinator Sementara Dewan Kesenian Provinsi Papua Barat Daya, David Kapisa, saat diwawancarai RajaAmpatNews, Di halaman Gedung pari Convention, Senin (4/5/2026)./Foto: Agustinus Guntur/RajaAmpatNews.

“Kami sementara berjalan dengan mandat untuk mengoordinasikan dewan kesenian di daerah, agar seni dan budaya tetap terjaga. Pelantikan Dewan Kesenian Kabupaten Raja Ampat ini adalah langkah luar biasa,” ujarnya.

Ia mengapresiasi dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, termasuk Bupati, Wakil Bupati, serta sejumlah organisasi perangkat daerah seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Pariwisata, yang dinilai memiliki peran strategis dalam penguatan budaya lokal.

Menurut David, pelestarian budaya harus menjadi tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan bahwa tanpa upaya serius, budaya lokal berpotensi terkikis bahkan hilang, terutama di tengah arus masuk budaya luar yang semakin masif.

“Kalau tidak dijaga, generasi mendatang bisa kehilangan identitas budaya mereka. Kita harus memastikan bahasa daerah dan nilai-nilai kearifan lokal tetap diajarkan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga jenjang lebih tinggi,” tegasnya.

Ia juga mencontohkan kondisi masyarakat Aborigin di Australia yang dinilai mengalami kemunduran dalam pelestarian budaya akibat kuatnya pengaruh budaya luar.

“Kami sudah melihat langsung. Banyak dari mereka mulai kehilangan bahasa dan adatnya. Ini jangan sampai terjadi di Papua, khususnya di Raja Ampat,” tambahnya.

David menekankan pentingnya menggali dan mengangkat potensi budaya yang masih terpendam di masyarakat, termasuk di tingkat distrik, kampung, dan komunitas kecil. Menurutnya, pengembangan seni budaya tidak hanya berdampak pada pelestarian identitas, tetapi juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

Baca Juga  Kapal Karam di Perairan Pulau But Raja Ampat, Awak Diduga Kabur – Identitas Pemilik Masih Misterius

“Kerajinan tangan, seni pertunjukan, dan budaya lokal bisa menjadi daya tarik wisata. Ini membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui UMKM,” jelasnya.

Sementara itu, Rekan Koordinator Sementara Dewan Kesenian Provinsi Papua Barat Daya, Fredik Naa, menambahkan bahwa meski secara administratif wilayah terbagi dalam provinsi dan kabupaten/kota, namun seni dan budaya harus tetap menjadi satu kesatuan.

“Kota, kabupaten, dan provinsi boleh terpisah, tetapi budaya tidak boleh terpisah. Ini identitas kita sebagai orang Papua,” ujarnya.

Fredik juga mengingatkan agar keberadaan dewan kesenian tidak bersifat sementara atau sekadar seremonial. Ia mendorong adanya komitmen berkelanjutan dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal.

Lebih lanjut, ia mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten Raja Ampat membangun fasilitas khusus seperti gedung pertunjukan budaya yang dapat dijadikan agenda rutin bagi wisatawan.

“Raja Ampat sudah dikenal dunia sebagai destinasi wisata. Kalau wisata alamnya terkenal, maka budaya juga harus ikut dikenal. Bisa dibuat jadwal pertunjukan rutin bagi wisatawan, sehingga selain menikmati alam, mereka juga mengenal budaya kita,” katanya.

Sekretaris Umum Dewan Kesenian Daerah Raja Ampat, Sawaluddin Taesa, SH., M.Si., menegaskan bahwa keberadaan dewan kesenian diharapkan mampu menjadi “rumah besar” bagi seluruh sanggar seni di wilayah Raja Ampat, mulai dari utara, timur, barat hingga selatan.

Ia mengajak para pegiat seni, budaya, dan sejarah di tingkat kampung hingga distrik untuk bersatu dan berkolaborasi dalam mengangkat kembali warisan budaya yang mulai hilang maupun yang belum tergali secara maksimal.

“Ini saatnya kita bersama-sama mengangkat kembali seni budaya yang telah hilang maupun yang terancam hilang untuk dikaji dan dilestarikan bersama,” ujarnya.

Menurutnya, Raja Ampat memiliki kekayaan budaya yang besar namun belum sepenuhnya terekspos, seperti Tari Wor, Tari Sawat, Tari Lanjin, serta berbagai tarian tradisional lainnya yang tersebar di Pulau Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool.

Baca Juga  Aliansi Cipayung Sorong: Reformasi Polri Harus Sesuai Konstitusi

Sawaluddin optimistis, dengan dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan serta Dewan Kesenian Provinsi Papua Barat Daya, berbagai program pelestarian budaya di Raja Ampat dapat berjalan lebih optimal.

“Ada harapan besar ke depan. Dengan dukungan berbagai pihak, kita bisa menjaga dan melestarikan seni budaya Papua, khususnya di Raja Ampat, agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tutupnya.

Pelantikan Dewan Kesenian Kabupaten Raja Ampat diharapkan menjadi titik awal sinergi antara pemerintah, pelaku seni, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya agar tetap lestari di tengah perubahan zaman.

Writer : Agustinus Guntur