BLUD Raja Ampat Dorong Pengelolaan Laut Berkelanjutan Lewat Program Strategis dan Inovatif

Pendataan digital hasil tangkapan dan sistem pengawasan kapal wisata perkuat implementasi ekonomi biru di Raja Ampat

WAISAI, RajaAmpatNews– Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Raja Ampat terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kebijakan nasional Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Melalui sejumlah program strategis yang dijalankan pada bulan November 2025, BLUD Raja Ampat meluncurkan berbagai inovasi dalam pendataan perikanan dan pengawasan pemanfaatan kawasan konservasi, yang berfokus pada prinsip blue economy dan perikanan terukur.

Dalam konferensi pers di Waisai, Alan Ramandey, Staf BLUD Raja Ampat, menjelaskan bahwa terdapat dua program strategis utama yang tengah dijalankan. Program pertama yaitu Pendataan Modus Crew Operated Data Recording System, yang merupakan metode baru pendataan hasil tangkapan ikan dengan melibatkan masyarakat nelayan secara langsung.

“Program ini pertama kali diluncurkan di Kofiau, di mana kami bekerja sama dengan para nelayan untuk mencatat hasil tangkapan mereka. Data hasil tangkapan difoto di papan ukur, kemudian tim monitoring BLUD akan melakukan identifikasi jenis dan ukuran ikan tersebut,” jelas Alan, Rabu,(29/10/2025).

Menurutnya, sistem ini akan memperkuat akurasi data perikanan dan mendukung implementasi kebijakan perikanan terukur dari KKP, yang menjadi salah satu pilar pembangunan ekonomi biru Indonesia.

Tim BLUD Raja Ampat saat di lapangan

Sementara itu, program strategis kedua yang sedang dikembangkan adalah Sistem Pemantauan Pengendalian dan Pengawasan Kapal Wisata (SISPANDALOS). Program ini dirancang untuk memitigasi potensi degradasi sumber daya alam akibat aktivitas kapal wisata yang beroperasi di kawasan konservasi Raja Ampat.

“Melihat fenomena banyaknya kapal wisata yang beroperasi di kawasan konservasi, kami mengembangkan sistem klasterisasi wilayah di Kepulauan Misool menjadi empat area. Tujuannya agar kapal wisata tidak menumpuk di satu titik, tapi tersebar di beberapa lokasi secara bergiliran,” terang Alan.

Dalam sistem ini, kapal wisata akan memanfaatkan skema booking online melalui laman resmi BLUD. Mekanisme yang diterapkan adalah first come, first serve, di mana setiap klaster dapat digunakan oleh lima kapal dalam waktu maksimal 72 jam sebelum bergantian dengan kapal lain.

“Rencananya, sistem ini akan mulai diimplementasikan pada tahun depan setelah melalui tahap uji coba. Semuanya akan terintegrasi dengan sistem pemantauan Jagalaut dan SISPANDALOS yang juga dilengkapi dengan fitur pemasangan mooring untuk mendukung kebijakan no anchoring di perairan Raja Ampat,” tambahnya.

Hingga saat ini, BLUD telah memetakan 41 titik potensial pemasangan mooring, dengan enam di antaranya akan segera di-deploy tahun ini, seluruhnya berlokasi di wilayah Misool.

Selain itu, BLUD juga terus melaksanakan program pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pembangunan rumah ikan yang dimulai sejak Agustus 2025. Program ini bertujuan menyediakan habitat buatan bagi ikan sekaligus membantu nelayan agar tidak perlu melaut terlalu jauh.

Program pembinaan dan pemberdayaan masyarakat

Di tempat yang sama, Imanuel Mofu, salah satu anggota tim monitoring BLUD Raja Ampat, menjelaskan bahwa rumah ikan ini menjadi upaya konkret untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat. 

“Rumah ikan ini nantinya akan dikelola oleh masyarakat sendiri. Mereka yang menentukan area, kuota, dan waktu pemanfaatan. Ini akan dimasukkan ke dalam revisi rencana pengelolaan wilayah konservasi,” ujarnya.

Pemantauan terhadap rumah ikan dilakukan secara berkala setiap satu hingga dua bulan. Dari hasil pemantauan terakhir pada bulan Oktober dan November, BLUD mencatat perkembangan positif di sejumlah titik monitoring. 

“Dari 25 titik rumah ikan yang terpasang di perairan Fafanlap dan sekitarnya, delapan titik menunjukkan peningkatan populasi ikan dan biota laut lainnya,” jelas Imanuel.

Selain rumah ikan, BLUD juga mendukung kegiatan sasi di beberapa kampung seperti Kapatcol dan Aduwei. Hasil monitoring menunjukkan adanya peningkatan populasi biota bernilai ekonomi seperti teripang, lobster, dan berbagai jenis ikan.

“Data-data yang kami kumpulkan dari rumah ikan dan wilayah sasi di Misool Selatan dan Utara saat ini sedang diolah. Kami berharap hasilnya dapat menjadi dasar dalam perencanaan pengelolaan sumber daya laut yang lebih efektif dan berkelanjutan,” tutup Imanuel.  

Melalui berbagai inovasi ini, BLUD Raja Ampat berupaya menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan ekonomi sumber daya laut, sekaligus memperkuat posisi Raja Ampat sebagai kawasan konservasi laut kelas dunia yang dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan partisipasi masyarakat.

Writer: Dony Kumuai II Edtor: Petrus Rabu