Gubernur Sidak Dapur MBG di Waisai: Mitra Dapur Bongkar Kronologi dan Dugaan Pemicu Keracunan Massal

banner 120x600

WAISAI, RajaAmpatNews — Gubernur Papua Barat Daya bersama rombongan melakukan inspeksi mendadak ke dapur pengolahan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Waisai, Raja Ampat, Selasa (2/12/2025). Sidak ini dilakukan menyusul laporan puluhan siswa yang mengalami gejala gangguan kesehatan usai menyantap makanan program MBG di beberapa sekolah di Waisai.

Dalam pengecekan tersebut, Gubernur memastikan seluruh proses pengolahan dan pendistribusian makanan diperiksa secara menyeluruh, mulai dari kebersihan dapur, prosedur memasak, hingga mekanisme pengantaran makanan ke sekolah-sekolah penerima.

Rugaya Alhamid, mitra pengelola Dapur Satu MBG di Waisai, menjelaskan kepada awak media bahwa pihaknya telah mengikuti seluruh SOP (Standar Operasional Prosedur) yang ditetapkan pemerintah. Menurutnya, kejadian yang menimpa para siswa ini juga mengejutkan pihak dapur.

KET: Rugaya Alhamid, mitra pengelola Dapur Satu MBG di Waisai/ dok. RajaAmpatNews

“Kalau dari dapur, kami masaknya sudah sesuai SOP. Tapi kejadian ini muncul tiba-tiba, jadi semua kaget. Saya juga dengar dari anak-anak bahwa ada postingan di Facebook. Mereka cerita, setelah makan ada sisa jatah siswa yang tidak masuk, lalu dibagikan lagi ke siswa lain. Ada yang sampai makan dua bahkan hampir tiga porsi,” ujarnya.

Rugaya menduga, konsumsi makanan berlebihan itu bisa menjadi salah satu pemicu gangguan kesehatan yang dirasakan para siswa, terutama siswa tingkat SD yang memiliki batas kebutuhan gizi harian tertentu.

“Porsinya sudah ditimbang sesuai kebutuhan anak-anak. Kalau ada kelebihan lalu dimakan berulang kali, bisa saja berdampak ke kondisi tubuh anak. Tapi kita tetap menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan serta penyelidikan kepolisian dan medis,” tambahnya.

Saat ini, operasional Dapur MBG di Waisai dihentikan sementara waktu sambil menunggu hasil uji laboratorium dari sampel makanan yang telah diambil oleh Kepolisian dan Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat. Namun Rugaya mengaku belum dapat memastikan kapan dapur bisa kembali beroperasi.

“Tergantung hasil sampel. Kalau tidak ada temuan kesalahan dan tidak terbukti ada unsur keracunan, dapur bisa jalan lagi,” jelasnya.

Terkait distribusi makanan, Rugaya menegaskan bahwa dapurnya mengikuti aturan ketat soal durasi konsumsi. Dalam SOP MBG, makanan harus segera dimakan dalam rentang dua hingga empat jam setelah diantar. Jika melewati empat jam, makanan tidak boleh dikonsumsi lagi.

“Kami sudah patuhi SOP. Begitu makanan sampai di sekolah, waktunya terbatas. Kalau lewat empat jam, tidak boleh dimakan lagi,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan situasi khusus untuk sekolah yang menjalankan KBM pada siang hari. Atas permintaan guru, makanan tetap diantar pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WIT agar dapat dikonsumsi sebelum masuk kelas.

“Untuk sekolah siang, guru minta tetap diantar pagi supaya anak-anak bisa makan dulu sebelum mulai belajar,” katanya.

Terkait jumlah makanan yang dikirim ke dua sekolah YPK yang paling banyak terdampak, Rugaya merinci: SD YPK menerima 417 ompreng, sedangkan SMP YPK Alfa Omega menerima 431 ompreng.

Belajar dari peristiwa ini, Rugaya berencana memperketat pengawasan di lapangan meskipun SOP dapur telah dijalankan secara ketat.

“Mulai ke depan, setiap pengantaran ke sekolah akan saya tambah satu karyawan untuk mengawasi langsung. Kami takut, kalau di dapur sudah sesuai SOP tapi ada kelalaian di sekolah, itu bisa berdampak buruk bagi anak-anak,” tegasnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya memastikan terus memantau perkembangan kasus ini dan menunggu hasil resmi pemeriksaan sampel makanan serta laporan medis dari rumah sakit. Pemerintah juga menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG demi menjamin keamanan dan kesehatan siswa di seluruh wilayah.

Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu