RAJA AMPAT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Raja Ampat mencatat sedikitnya 60 titik kebakaran telah ditangani dan dipadamkan dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Sebagian besar titik api tersebut terjadi di wilayah Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Kepala BPBD Kabupaten Raja Ampat, Guntur Tamima, mengatakan tingginya kejadian kebakaran tidak terlepas dari kondisi cuaca yang semakin kering dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Guntur, kondisi kemarau membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Api yang awalnya berasal dari pembakaran skala kecil dapat dengan cepat merambat dan meluas apabila tidak segera ditangani.
“Selama satu bulan terakhir, ada sekitar 60 titik api yang sudah kami padamkan, khususnya di wilayah Waisai,” kata Guntur. Rabu.(19/8/2026).
Ia menjelaskan, selain meningkatnya kejadian kebakaran, musim kemarau juga berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah. Berdasarkan pendataan sementara, BPBD Raja Ampat, terdapat sekitar 400 sumur bor yang mengalami kekeringan.

Kondisi tersebut, kata Guntur, berpotensi semakin menyulitkan masyarakat apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang. Ketersediaan air bersih menjadi salah satu kebutuhan utama yang harus diantisipasi pemerintah bersama masyarakat.
“Sumur bor yang mengalami kekeringan jumlahnya sekitar 400-an, yang kami data saat ini” ujarnya.
Menyikapi meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau, BPBD Raja Ampat mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.
Guntur menegaskan, kebiasaan membuka lahan dengan membakar dapat menimbulkan risiko kebakaran yang lebih besar, terutama ketika kondisi lahan dan hutan dalam keadaan kering.
Menurut dia, api yang digunakan untuk membersihkan lahan dapat dengan mudah menjalar ke area lain akibat kondisi cuaca panas dan kering serta hembusan angin. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Karena ketika membakar, dampaknya bisa menyebabkan kebakaran yang lebih besar, terutama terhadap lingkungan dan kawasan hutan,” kata Guntur.

BPBD juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran di sekitar permukiman maupun kawasan hutan. Langkah pelaporan secara cepat dinilai penting agar petugas dapat segera melakukan penanganan sebelum api meluas dan sulit dikendalikan. Dampak musim kemarau tidak hanya dirasakan masyarakat di Waisai.
Kondisi serupa juga mulai terjadi di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Raja Ampat, termasuk Misool. Kondisi geografis Raja Ampat yang terdiri atas banyak pulau menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan bencana kebakaran maupun kekeringan.
Jarak antarpulau serta keterbatasan akses transportasi dapat memengaruhi kecepatan mobilisasi personel dan peralatan ketika terjadi kebakaran di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan kabupaten.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat di setiap kampung dan distrik dinilai menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kebakaran meluas.
BPBD Raja Ampat mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan api dalam kondisi menyala, termasuk setelah melakukan aktivitas memasak, membersihkan lahan, maupun kegiatan lain yang menggunakan api.
Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, terutama pada lahan yang telah mengering akibat kemarau. Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan BPBD Raja Ampat terus mendorong upaya pencegahan sebagai langkah utama menghadapi meningkatnya potensi kebakaran selama musim kemarau.
Pencegahan dinilai lebih efektif dibandingkan melakukan pemadaman setelah api telanjur meluas. Terlebih, kebakaran di kawasan hutan dapat menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap lingkungan dan masyarakat.
Selain mengancam vegetasi, kebakaran juga berpotensi mengganggu kualitas udara serta mengancam kawasan permukiman apabila api bergerak mendekati rumah warga.

Guntur kembali mengingatkan masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
“Kita berharap masyarakat dapat membantu pemerintah dalam mencegah kebakaran. Jangan membuka lahan dengan cara membakar, apalagi dalam kondisi kemarau seperti sekarang,” katanya.
Dengan kondisi kemarau yang masih berdampak di sejumlah wilayah Raja Ampat, BPBD mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan setiap kejadian kebakaran.
Upaya tersebut diharapkan dapat menekan jumlah titik api sekaligus mencegah kebakaran hutan dan lahan yang lebih besar di Kabupaten Raja Ampat.










