Aksi Perubahan “OPTIMAL”: Langkah BP4D Raja Ampat Wujudkan Perlindungan Hari Tua yang Bermartabat

Ket: Kepala BP4D Raja Ampat, Ferdinand Rumsowek mendukung aksi perubahan Optimal sebagai salah satu inovasi untuk memberikan pelayanan maksimal bagi lansia di Distrik Kota Waisai, Raja Ampat/Dok.Pribadi
Ket: Kepala BP4D Raja Ampat, Ferdinand Rumsowek mendukung aksi perubahan Optimal sebagai salah satu inovasi untuk memberikan pelayanan maksimal bagi lansia di Distrik Kota Waisai, Raja Ampat/Dok.Pribadi
banner 120x600

Waisai, Raja Ampat News — Pemerintah Kabupaten Raja Ampat melalui Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D) terus berupaya memperkuat kebijakan pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat, termasuk kelompok lanjut usia (lansia). Salah satu terobosan terbaru yang muncul dari lingkungan BP4D adalah program “OPTIMAL”, singkatan dari Optimalisasi Perlindungan Hari Tua Masyarakat Lansia 65 tahun di Distrik Kota Waisai,Kabupaten Raja Ampat.

Program ini merupakan bagian dari Aksi Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) yang digagas oleh Isak Willem Wanma, SE, Kepala Sub Bidang Kependudukan dan Kesejahteraan Sosial BP4D Raja Ampat. Saat ini, Isak sedang mengikuti PKP yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Dalam Negeri Regional Makassar, di mana setiap peserta diwajibkan menciptakan inovasi atau proyek perubahan di instansinya masing-masing.

Menurut Isak, gagasan “OPTIMAL” berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi lansia di Raja Ampat yang sebagian besar belum mendapatkan layanan sosial secara terpadu. Lansia sering kali menghadapi keterbatasan akses informasi, pelayanan kesehatan, serta pendampingan sosial yang memadai. Melalui “OPTIMAL”, BP4D ingin menghadirkan pendekatan baru dalam pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan menyentuh sisi kemanusiaan.

“Kami ingin agar para lansia di Raja Ampat tidak hanya menjadi objek data, tetapi benar-benar merasakan kehadiran pemerintah di usia senja mereka. ‘OPTIMAL’ dirancang untuk memastikan bahwa pelayanan bagi lansia dilakukan secara terintegrasi antara OPD, dengan basis data yang akurat serta pendekatan yang lebih humanis,” jelas Isak Willem Wanma.

Program “OPTIMAL” meliputi beberapa tahapan utama, antara lain: pendataan terpadu lansia di setiap distrik dan kampung, penguatan koordinasi lintas sektor antara BP4D, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan pemerintah kampung, hingga pembentukan sistem informasi sederhana yang dapat memetakan kebutuhan dasar lansia secara cepat dan terukur. Dalam implementasinya, program ini juga akan melibatkan tokoh masyarakat, kader posyandu lansia, serta relawan sosial di tingkat kampung.

Kepala BP4D Raja Ampat, Ferdinand Rumsowek, memberikan apresiasi atas gagasan tersebut. Ia menilai, “OPTIMAL” adalah contoh nyata bagaimana ASN dapat berkontribusi langsung dalam menjawab persoalan sosial masyarakat melalui inovasi kecil namun berdampak besar.

“Program ini menunjukkan bahwa semangat inovasi di lingkungan BP4D terus tumbuh. Isak telah memberikan contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari empati dan niat tulus untuk melayani. Kami berharap OPTIMAL dapat menjadi model yang direplikasi oleh OPD lain dalam menangani kelompok rentan,” ujar Ferdinand.

Sementara itu, Bupati Raja Ampat, Orideko Iriano Burdam, menyambut positif hadirnya inovasi tersebut. Ia menegaskan bahwa program seperti “OPTIMAL” sejalan dengan visi pembangunan daerah ‘Raja Ampat Bangkit, Produktif Menuju Kesejahteraan’, yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

“Kami bangga dengan semangat ASN yang mampu menghadirkan ide-ide kreatif dan berorientasi sosial. Program OPTIMAL bukan hanya proyek pelatihan, tetapi bentuk tanggung jawab moral kita terhadap generasi yang telah berjasa membangun Raja Ampat. Lansia adalah bagian dari sejarah kita, dan sudah seharusnya kita berikan pelayanan terbaik bagi mereka,” tegas Bupati Orideko.

Melalui kolaborasi lintas sektor, “OPTIMAL” diharapkan menjadi fondasi awal sistem perlindungan sosial daerah yang lebih terintegrasi. Program ini tidak hanya akan membantu memperkuat basis data lansia, tetapi juga membuka ruang komunikasi yang lebih intens antara pemerintah dan masyarakat, sehingga kebijakan yang diambil dapat lebih tepat sasaran.

Lebih dari itu, aksi perubahan ini juga diharapkan menumbuhkan budaya kerja ASN yang inovatif, empatik, dan solutif, sesuai dengan semangat reformasi birokrasi yang dicanangkan pemerintah.

Dalam refleksinya, Isak Willem Wanma menyampaikan bahwa “OPTIMAL” bukan sekadar proyek perubahan untuk memenuhi tugas pelatihan, tetapi panggilan hati untuk memberi makna pada pelayanan publik.

“Bagi kami, ini bukan soal administrasi semata, tetapi bentuk kasih dan tanggung jawab moral terhadap generasi yang telah lebih dulu berjuang. Melalui langkah kecil ini, kami percaya kesejahteraan lansia bukan hanya angka dalam laporan, tetapi wujud nyata kepedulian pemerintah,” tutup Isak dengan penuh harap.

Melalui semangat tersebut, BP4D Raja Ampat berkomitmen menjadikan “OPTIMAL” sebagai langkah awal menuju pelayanan publik yang lebih berpihak pada kemanusiaan, di mana setiap warga, termasuk lansia, merasa dilindungi dan dihormati dalam menjalani hari tua yang bermartabat.

Writer: Petrus Rabu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *