Jangan Pernah Mendua dalam Cinta dan Iman

RENUNGAN HARIAN SABTU, 20 JUNI 2026; Pekan Biasa XI

Oleh : RD Ardus Endi

Saudara/I terkasih, inspirasi renungan hari ini bersumber dari dua perikop: bacaan I: 2Taw. 24:17-25; dan bacaan Injil Mat. 6:24-34. Salah satu pesan yang sangat kuat terungkap dari kedua bacaan suci ini adalah pentingnya iman yang hidup atau sikap percaya yang utuh kepada Allah. Kesetiaan dalam merawat iman akan mengantar kita kepada ruang perjumpaan dengan Allah secara utuh. Dengan kata lain, iman yang kokoh kepada Allah menjadi kompas yang menjamin perziarahan rohani kita menuju pelabuhan keselamatan.

Tanpa iman, mustahil keselamatan dan kebahagiaan itu tercipta. Absennya iman dalam hidup akan melahirkan penderitaan yang berkepanjangan. Pengalaman raja Yehuda menjadi bukti nyata bagi kita bahwa tanpa iman yang utuh kepada Allah, hidup menjadi tidak bermakna dan kehilangan arah. Seperti yang dinarasikan dalam bacaan I, Raja Yehuda dan Yerusalem tertimpa murka dan pada akhirnya mengalami kehancuran karena dosa ketidaksetiaan, antara lain “mereka meninggalkan rumah Tuhan dan kemudian beribadah kepada tiang-tiang dan patung-patung berhala” (2Taw. 24:18).

Entah sadar atau tidak, kita kerapkali bersikap seperti raja Yehuda. Kita dengan gampang melupakan Allah yang telah lama menjaga kita lalu lari berpaling kepada dukun dan orang-orang pintar. Seolah-olah, dukun menjadi penentu takdir dan nasib kita. Demikianlah ketika cinta ditolak, dukun mulai bertindak. Bahkan tak jarang, kita dengan mudah meninggalkan iman yang telah lama tumbuh dalam diri lalu berpaling kepada hal-hal yang bersifat berhala. Lalu, ketika luka dan derita datang melanda, kita sudah tidak berdaya karena Allah telah lama kita ambil jarak. Kita lantas bertanya: di manakah Allah? Tidakkah Allah berpihak pada kita?

Baca Juga  Ketum PWI Tekankan Peran Pers sebagai Pengabdi Masyarakat

Berhadapan dengan situasi seperti ini, kita kadang mudah menuduh orang lain sebagai aktor penyebabnya, dan bahkan tak segan-segan menilai Allah sebagai pihak yang tidak adil.Lalu, lupa menengok pada diri. Akan tetapi, Penulis Kitab Tawarikh dengan lantang katakan: “…Oleh karena kalian meninggalkan Tuhan, maka Ia pun meninggalkan kalian! ” (2Taw. 24:20).

Pernyataan ini memperlihatkan kepada kita bahwa bukan orang lain apalagi Tuhan yang menjadi dalangdalam setiap luka dan derita yang menimpa kita, melainkan diri kita sendirilah yang menjadi sebab utama.
Atas dasar itulah, Yesus dalam Injil mengingatkan kita untuk kembali ke jalan yang benar, kembali pulang kepada Allah satu-satunya: Jalan, Kebenaran dan Hidup.

“Kalian tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24). Dengan ini, Yesus menghendaki agar kita jangan pernah mendua dalam cinta dan iman. Iman dan cinta yang utuh kepada Allah, sekali lagi, akan mengantar kita kepada pelabuhan keselamatan. Segala bentuk kecemasan, kegalauan, kegelisahan, kekwatiran dan ketakutan akan sirna, sebab Allah menjadi jaminan bagi hidup kita. Karena itu, tugas kita hanya satu: “…Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).

Saudara/-I terkasih, semoga narasi bacaan suci hari ini benar-benar membuka mata, hati dan pikiran serta membangkitkan komitmen dalam diri kita untuk selalu setia percaya dan beriman teguh kepada Allah. Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amin.

Penulis : RD. Ardus Endi (Imam keuskupan Labuan Bajo)