Penuh Haru, SD YPPK Santa Maria Regina Waisai Resmi Lepas 30 Siswa Angkatan IX T.A 2025/2026.

RAJA AMPAT — Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai acara pengumuman kelulusan, penamatan, dan pelepasan 30 siswa-siswi Angkatan IX Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar oleh Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) SD Santa Maria Regina Waisai, Sabtu (6/6/2026), di lingkungan sekolah setempat.

Kegiatan tersebut menjadi momentum istimewa bagi para siswa yang telah menuntaskan pendidikan dasar selama enam tahun sekaligus menandai awal perjalanan mereka menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Turut hadir dalam kegiatan itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat Herman Frans Soor, Ketua Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Keuskupan Manokwari-Sorong Simon Isak Mendopma, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Asri Haji Salim, Ketua Komite SD Santa Maria Regina Waisai Alfred Suruan, Ketua Dewan Stasi Santa Maria Mater Dei Waisai Julianus Rahawarin, Kepala Sekolah SD YPPK Santa Maria Regina Waisai Sr. Helnis Deke, para guru, siswa, serta orang tua murid.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat, Herman Frans Soor, mengajak seluruh pihak untuk bersyukur atas pencapaian para siswa yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar mereka.

“Kita patut bersyukur karena Tuhan masih memberikan nafas kehidupan dan kesempatan kepada kita semua untuk hadir di momen yang berbahagia ini. Hari ini kita bersama-sama menyaksikan hasil perjuangan 30 anak didik yang telah menyelesaikan pendidikan selama enam tahun di sekolah ini,” ujar Herman.

Ia menyampaikan apresiasi kepada YPPK atas kontribusinya dalam membantu pemerintah daerah menjalankan tugas pendidikan di Kabupaten Raja Ampat, khususnya dalam mendidik dan membina generasi muda.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, kami menyampaikan terima kasih kepada YPPK yang telah mengambil bagian penting dalam mendidik anak-anak Raja Ampat. Peran YPPK sangat besar dalam membantu pemerintah membangun pendidikan di daerah ini,” katanya.

Menurut Herman, guru memiliki tanggung jawab besar yang tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga membentuk karakter siswa agar menjadi generasi yang berakhlak dan memiliki moral baik.

“Guru hari ini tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga mendidik. Kita ingin anak-anak yang lulus dari sekolah memiliki kemampuan akademik yang baik sekaligus karakter yang baik. Pembentukan moral menjadi bagian penting dari proses pendidikan,” tegasnya.

Baca Juga  Pelayanan Adminduk Tetap Buka Saat Libur Nasional, Disdukcapil Raja Ampat Pastikan Warga Tetap Terlayani

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan orang tua dalam proses pendidikan karakter anak. Herman berharap para orang tua dapat memahami tugas guru dalam membina disiplin dan membentuk kepribadian siswa demi masa depan yang lebih baik.

“Kita semua memiliki tanggung jawab bersama dalam mendidik anak-anak. Guru dan orang tua harus berjalan bersama agar anak-anak Raja Ampat tumbuh menjadi generasi yang cerdas sekaligus berkarakter,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Keuskupan Manokwari-Sorong, Simon Isak Mendopma, menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik semata, tetapi juga dari pembentukan karakter peserta didik.

Menurutnya, terdapat dua indikator utama untuk menilai keberhasilan seseorang dalam dunia pendidikan, yakni kualitas pengetahuan dan pembentukan karakter.

“Seseorang yang berhasil dalam dunia pendidikan diukur dari dua sisi penting. Pertama adalah kualitas pengetahuan yang diterima peserta didik, dan kedua adalah pembentukan karakter. Anak mungkin memiliki kecerdasan atau kemampuan akademik yang baik, tetapi jika tidak dibarengi karakter yang baik, maka pendidikan itu belum memiliki makna yang utuh,” ujar Simon.

Ia menegaskan bahwa pembentukan karakter anak pertama kali dimulai dari lingkungan keluarga, khususnya peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama.

“Karakter pertama seorang anak dibentuk oleh orang tua. Mau anak itu menjadi pribadi yang baik atau tidak ke depan, semuanya berawal dari keluarga. Ada pepatah mengatakan, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika keluarga memberikan teladan yang baik, maka anak juga akan tumbuh dengan baik,” katanya.

Simon menyebut bahwa tanggung jawab orang tua tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik anak seperti makanan, minuman, pakaian, maupun pengobatan, tetapi juga membangun karakter melalui nasihat dan pendampingan.

Baca Juga  Ketua TP PKK Raja Ampat Tekankan Peran Strategis PKK Kampung dalam Pembekalan 10 Program Pokok PKK

“Nasihat adalah pendidikan pertama yang diterima anak di dalam keluarga. Karena itu, tanggung jawab pendidikan tidak sepenuhnya ada di sekolah, tetapi juga ada pada orang tua. Pendidikan karakter harus dimulai dari rumah,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa sekolah hanya memiliki waktu terbatas dalam mendidik anak, sementara sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama keluarga.

“Guru mendampingi anak-anak di sekolah dari pagi hingga siang hari. Setelah itu mereka kembali ke rumah. Karena itu, pendidikan karakter harus terus dilanjutkan oleh orang tua agar terbawa hingga ke jenjang pendidikan berikutnya,” jelas Simon.

Di sisi lain, Simon juga mengingatkan para guru agar terus meningkatkan kualitas diri dan kompetensi dalam dunia pendidikan. Menurutnya, guru memiliki tiga tugas utama, yakni mendidik, mengajar, dan mengasuh peserta didik.

“Guru harus memiliki pengetahuan yang baik dan kualitas pendidikan yang baik pula. Sebab nilai-nilai pengetahuan yang diterima anak-anak di sekolah akan membentuk kualitas pendidikan mereka di masa depan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SD YPPK Santa Maria Regina Waisai, Sr. Helnis Deke, menyampaikan pesan menyentuh kepada para siswa menjelang prosesi pelepasan atribut sekolah.

Ia mengenang momen rekoleksi sebelum ujian yang mengangkat tema Aku dan Merah Putih sebagai refleksi perjalanan para siswa selama mengenakan seragam sekolah dasar.

“Kemarin saat rekoleksi sebelum ujian, tema kita adalah Aku dan Merah Putih. Itu menjadi sesi terakhir kalian mengenakan pakaian merah putih. Hari ini atribut itu akan dilepaskan, yang berarti kalian bukan lagi anak SD,” tutur Sr. Helnis.

Ia menegaskan bahwa pelepasan para siswa bukan berarti akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan langkah awal menuju masa depan yang lebih luas.

Baca Juga  Pilgub PBD,  Gabriel Asem Daftar Bacagub ke Partai Demokrat Diikuti Warga Masyarakat

“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para orang tua atas kepercayaan yang telah diberikan selama enam tahun kepada sekolah ini untuk mendidik anak-anak. Hari ini kami mengembalikan mereka kepada bapak dan ibu, bukan untuk berhenti, tetapi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” ungkapnya.

Menurutnya, sekolah telah menanamkan pondasi pendidikan dan karakter yang kuat sebagai bekal para siswa menghadapi masa depan.

“Kami berharap 30 anak ini menjadi pilar yang kuat bagi Waisai, Raja Ampat, dan Tanah Papua di masa depan. Apa yang telah dipelajari di sekolah ini kiranya menjadi bekal berharga untuk meraih cita-cita,” ujarnya.

Sr. Helnis juga memberikan motivasi kepada para siswa untuk terus melanjutkan pendidikan, baik di SMP YPPK maupun sekolah lainnya, serta tetap membawa nilai-nilai baik yang telah diperoleh selama belajar di SD YPPK Santa Maria Regina.

“Di mana pun kalian melanjutkan pendidikan, peganglah apa yang telah kalian pelajari di sini. Kami semua mendoakan agar kalian sukses meraih masa depan,” pesannya.

Prosesi pelepasan atribut siswa berlangsung penuh haru. Tangis bahagia, tepuk tangan, serta rasa bangga dari orang tua dan guru mengiringi momen simbolis tersebut sebagai tanda berakhirnya masa pendidikan dasar bagi 30 siswa Angkatan IX SD YPPK Santa Maria Regina Waisai.

Writer: Agustinus Guntur