BLUD KKP Raja Ampat Sosialisasikan Rencana Pemasangan  Mooring Buoy Guna Mendukung Wisata Bahari Ramah Lingkungan

Waisai, RajaAmpatNews — Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) UPTD KKP Raja Ampat menggelar kegiatan Sosialisasi Raja Ampat Mooring System (RAMS) serta persiapan pemasangan Mooring Buoy di wilayah Kepulauan Fam, Senin (3/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Balai Pertemuan KSOP Kampung Pam ini diikuti oleh berbagai mitra kerja, antara lain Konservasi Indonesia (KAI), KOPP Raja Ampat, serta perwakilan tiga kampung di Kepulauan Fam—yakni Kampung Fam, Saukabu, dan Saupapir—bersama masyarakat setempat.

Kepala BLUD UPTD KKP Raja Ampat, Safri, menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya pengelolaan kawasan konservasi laut secara berkelanjutan melalui sistem RAMS, dengan fokus utama pada penyediaan dan pengelolaan tambatan kapal ramah lingkungan (Mooring Buoy).

“Kami sosialisasi terkait dengan Raja Ampat Mooring System di mana salah satu tugas pengelola kawasan adalah menyediakan mooring buoy. Tahun ini target kami di awal Desember akan memasang empat unit mooring. Diharapkan pemasangan ini dapat mengurangi kerusakan terumbu karang akibat kapal yang membuang jangkar sembarangan,” ujar Safri.

Ia menambahkan, pemasangan mooring buoy merupakan langkah kolaboratif antara pemerintah, lembaga mitra, dan masyarakat lokal. Melalui sistem ini, masyarakat diharapkan dapat terlibat langsung dalam menjaga dan mengawasi kawasan agar kelestarian ekosistem laut tetap terjaga.

“Kami akan libatkan masyarakat dalam pemasangan dan pengawasan. Kalau kawasan ini terjaga, keindahan terumbu karang tetap lestari, dan otomatis akan menarik lebih banyak wisatawan ke Raja Ampat,” tambahnya.

Berdasarkan hasil survei sementara, terdapat delapan titik yang telah diverifikasi untuk pemasangan mooring buoy di Kepulauan Fam. Masyarakat juga mengusulkan tiga titik tambahan, sehingga total rencana pemasangan mencapai sebelas titik.

Sementara itu, Meidiarti Kasmidi, Koordinator Konservasi Indonesia (KAI) dan Manajer Program Raja Ampat, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program Pokja RAMS yang sebelumnya telah memasang mooring buoy di perairan Friwen.

“Kegiatan di Fam ini merupakan lanjutan dari skenario penyediaan mooring buoy di Raja Ampat. Bila tidak ada hambatan, pemasangan di Fam akan dilakukan pada minggu kedua Desember 2025. KAI mendukung pendanaan dan penyediaan mooring sebagai bagian dari kolaborasi bersama BLUD dan pihak lainnya,” jelas Meidiarti.

Ia menegaskan, sistem mooring bukan sekadar pemasangan alat, melainkan juga mencakup perawatan, perbaikan, serta pengelolaan pendanaan berkelanjutan agar fasilitas tersebut tetap berfungsi optimal.

“Kami berharap dengan adanya mooring buoy, masyarakat lebih sadar menjaga terumbu karang. Karena terumbu karang ini adalah piring makan orang Raja Ampat. Jadi menjaga karang berarti menjaga sumber kehidupan,” ujarnya.

Dari pihak masyarakat, Kepala Kampung Saukabu, Ariel Fakdawer, menyambut baik kegiatan tersebut dan berharap program ini dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi warga setempat.

“Kami mendukung penuh kegiatan ini karena memberi ruang bagi masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan laut. Semoga program ini berjalan lancar dan membawa manfaat bagi seluruh warga Kepulauan Fam,” ucapnya.

Program Raja Ampat Mooring System (RAMS) diharapkan menjadi langkah nyata untuk mengurangi kerusakan terumbu karang akibat aktivitas perkapalan, sekaligus memperkuat pengelolaan wisata bahari berkelanjutan di Raja Ampat—surga laut dunia yang dikenal akan keindahan dan kekayaan ekosistemnya.

Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu