WAISAI, RajaAmpatNews — Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat terus berinovasi dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis teknologi digital. Melalui kegiatan Sosialisasi Sistem Informasi Pariwisata Raja Ampat (SIPARI) yang digelar di Kampung Yellu, Distrik Misool Selatan, pada Kamis, (30/10/2025), Dinas Pariwisata memperkenalkan sistem digital terpadu yang dirancang untuk memperkuat promosi dan layanan wisata di wilayah kepulauan Raja Ampat.
Kegiatan tersebut diikuti oleh aparatur kampung, pengelola homestay, pelaku usaha wisata, serta masyarakat kampung wisata. Hadir sebagai narasumber utama, Kurniawan, Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata, dan Pedro Kawer, Plt. Kepala UPTD Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat.
Dalam sambutan pembukaannya, perwakilan Kepala Distrik Misool Selatan menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pariwisata atas pelaksanaan kegiatan ini. Ia menilai, sosialisasi tersebut sangat bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pelaku wisata lokal dalam memberikan pelayanan prima kepada wisatawan. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan peran pemandu wisata lokal (local guide) agar pelayanan wisata di kawasan Misool semakin optimal.

SIPARI Sebagai Wujud Transformasi Digital Pariwisata Raja Ampat
Dalam pemaparannya, Kurniawan menjelaskan bahwa pengembangan Sistem Informasi dan Layanan Wisata Raja Ampat (SIPARI) merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat promosi dan pelayanan wisata secara digital.
Menurutnya, SIPARI berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara wisatawan, pelaku usaha, dan pemerintah daerah. Sistem ini bertujuan meningkatkan akses informasi, transparansi layanan, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan.
Beberapa fitur utama SIPARI meliputi:
- Pusat Informasi Wisata, berisi data destinasi, homestay, atraksi, dan panduan perjalanan.
- Pemetaan Digital (GIS) untuk membantu wisatawan menemukan lokasi wisata dan fasilitas pendukung.
- Layanan Reservasi dan Pengaduan, yang memungkinkan wisatawan melakukan pemesanan dan memberikan umpan balik.
- Portal Data Statistik, sebagai alat pemantauan kunjungan wisata dan perencanaan berbasis data.
Kurniawan juga menegaskan pentingnya keterlibatan pelaku wisata lokal melalui konsep community-based tourism. Ia mendorong para pelaku usaha untuk aktif memperbarui profil usaha, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memanfaatkan pelatihan digital marketing yang akan disiapkan oleh Dinas Pariwisata.
“Dinas berkomitmen memberikan pendampingan teknis agar masyarakat dapat mengoperasikan sistem ini secara mandiri,” ujarnya.
Selain itu, Dinas Pariwisata juga memperkuat strategi promosi melalui pendekatan digital dengan mengusung branding ‘Raja Ampat, The Last Paradise’. Ia mendorong para pelaku wisata di Misool untuk aktif memproduksi konten visual dan narasi lokal (local storytelling) guna memperkenalkan kekayaan budaya dan alam Raja Ampat ke dunia.
Tantangan utama dalam penerapan SIPARI, lanjutnya, adalah keterbatasan jaringan internet, kemampuan sumber daya manusia, serta koordinasi lintas sektor. Sebagai solusi, Dinas Pariwisata menyiapkan kerja sama dengan penyedia jaringan, pelatihan masyarakat, serta kolaborasi antara Dinas Pariwisata, Dinas Kominfo, dan pemerintah kampung.
Pemateri kedua, Pedro Kawer, memaparkan secara teknis penggunaan aplikasi SIPARI bagi wisatawan. Ia menjelaskan tahapan penggunaan mulai dari pencarian informasi, pendaftaran akun, pemilihan destinasi, hingga proses pembayaran digital.

Pedro juga menayangkan video tutorial untuk memudahkan pemahaman peserta. Menurutnya, SIPARI tidak hanya mempermudah wisatawan, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memasarkan produk dan layanan mereka secara daring.
Dalam sesi diskusi, peserta menyampaikan berbagai masukan konstruktif. Thalib Macap, Ketua Asosiasi Homestay Misool, mengusulkan adanya pelatihan Bahasa Inggris bagi pelaku homestay dan pemandu wisata, serta peningkatan akses transportasi menuju Misool. Ia juga menanyakan perkembangan SK pengelolaan Geosite Geopark untuk tiga lokasi di wilayah tersebut. Ammar Sapua, pelaku usaha homestay, menyoroti pentingnya pemeliharaan fasilitas di sejumlah spot wisata seperti Dapunlol, Dafalen, dan Karawapop.
Ali Ohorenan, pengelola dive center dan guide lokal, menekankan bahwa Geopark dan Pariwisata merupakan satu kesatuan dalam konsep pariwisata berkelanjutan berbasis konservasi. Ia juga mengingatkan agar isu pungutan liar tidak disimpulkan tanpa verifikasi yang jelas terhadap pihak berwenang.
Peserta juga mengusulkan agar dalam pengembangan SIPARI ke depan ditambahkan fitur jadwal kapal, tarif wisata, serta kontak darurat. Usulan tersebut disambut baik oleh Dinas Pariwisata dan akan menjadi pertimbangan dalam pembaruan sistem berikutnya.
Mengakhiri kegiatan, Kurniawan mengajak seluruh peserta untuk terus bersinergi menjaga citra Raja Ampat sebagai destinasi wisata dunia yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan implementasi SIPARI bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan pelaku wisata lokal.
“Transformasi digital ini bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang bagaimana kita bersama-sama menjaga kualitas pengalaman wisata dan memperkuat ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan pernyataan komitmen untuk mendukung implementasi Sistem Informasi Pariwisata Raja Ampat (SIPARI) sebagai langkah menuju transformasi digital pariwisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu












