Sinergi lintas sektor perkuat arah pembangunan lestari di jantung segitiga terumbu karang dunia
WAISAI, RajaAmpatNews — Pemerintah Kabupaten Raja Ampat bersama sejumlah mitra pembangunan menggelar Workshop dan Rapat Koordinasi Pemerintah Daerah Bersama Mitra Pembangunan Berkelanjutan Raja Ampat, yang berlangsung di Aula Wayag, Kantor Bupati Raja Ampat, Jumat (17/10/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam, Sekretaris Daerah Yusuf Salim, tokoh pemerhati pembangunan Papua Safrudin Sabonama, anggota Majelis Rakyat Papua Barat Daya, unsur Forkopimda, pimpinan OPD, lembaga adat, asosiasi homestay, yayasan konservasi, serta sejumlah LSM mitra pembangunan.
Sebagai fasilitator, Safrudin Sabonama menekankan pentingnya menjaga warisan alam Raja Ampat sebagai anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dilestarikan secara berkelanjutan.
“Raja Ampat ini kecil, tapi daya tariknya besar. Tuhan menaruh berkat di tanah ini agar menjadi berkat pula bagi dunia. Karena itu, pemerintah, masyarakat, dan mitra harus bersinergi menjaga kelestarian alam serta memastikan manfaatnya dirasakan oleh rakyat,” ujar Sabonama.
Ia juga menilai keberanian Bupati Raja Ampat dalam menyuarakan kepentingan masyarakat di tingkat provinsi dan nasional sebagai bentuk kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.
Raja Ampat, Jantung Keanekaragaman Hayati Laut Dunia
Perwakilan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Wawan, dalam pemaparannya menjelaskan posisi strategis Raja Ampat yang berada di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia (Coral Triangle), kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia.
“Sekitar 75 persen spesies karang dunia ada di Raja Ampat. Keindahan bawah lautnya setara, bahkan melebihi Amazon dalam konteks biodiversitas laut,” ungkapnya.
Sejak tahun 2004, lanjut Wawan, berbagai mitra pembangunan telah menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan konservasi laut di Bentang Kepala Burung Papua. Dari yang semula hanya 12 kawasan konservasi, kini telah berkembang menjadi 23 kawasan yang mencakup wilayah dari Raja Ampat hingga Kaimana.
“Pengelolaan konservasi bukan hanya soal menjaga ekosistem, tetapi juga memastikan masyarakat pesisir mendapatkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Mereka bukan sekadar penjaga, tetapi juga penerima manfaat dari kekayaan lautnya,” ujarnya.

Bupati Orideko: Pembangunan Harus Menghadirkan Manfaat bagi Rakyat
Dalam arahannya, Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak akan berjalan efektif tanpa kolaborasi yang erat antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Saya mengajak semua mitra untuk bersama kami mengemas pembangunan agar rakyat Raja Ampat ikut menikmati hasilnya,” tegas Bupati.
Bupati juga menyoroti keterbatasan kewenangan daerah dalam pengelolaan laut pasca-diterapkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, yang membatasi peran pemerintah kabupaten dalam pengawasan sumber daya kelautan.
“Kami punya laut yang kaya, tapi tidak bisa berbuat banyak karena kewenangan dibatasi. Padahal ancaman seperti pengeboman ikan masih terjadi. Karena itu, koordinasi lintas lembaga sangat penting,” ujarnya.
Selain itu, Bupati Orideko menekankan pentingnya memberi ruang bagi masyarakat lokal dan generasi muda untuk terlibat aktif dalam sektor pariwisata dan konservasi.
“Masyarakat sudah menjaga laut dan darat selama puluhan tahun, tapi belum menikmati hasilnya. Ke depan, mereka harus menjadi bagian dari pengelolaan dan memperoleh manfaat ekonomi yang adil,” pungkasnya.
Sebagai penutup, para peserta menyepakati perlunya rencana aksi bersama antara pemerintah daerah dan mitra pembangunan untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi laut dan darat di Raja Ampat. Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi langkah nyata mewujudkan Raja Ampat yang lestari, sejahtera, dan berdaya saing, tanpa meninggalkan nilai kearifan lokal yang menjadi roh utama pembangunan di daerah kepulauan tersebut.
Writer: Agustinus Guntur II Editor: Petrus Rabu












