YOGYAKARTA — Keinginan untuk kembali dan berkontribusi membangun tanah kelahiran menjadi motivasi kuat bagi sejumlah generasi muda Papua dalam menentukan arah pendidikan mereka. Berbekal cita-cita tersebut, mereka memilih menimba ilmu di Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), guna memperdalam pengetahuan dan keterampilan di bidang pertanahan serta tata ruang.
Dalam Siaran Pers Biro Humas dan Protokol Kementerian ATR/BPN yang diterima RajaAmpatNews.com Senin, (22/6/2026) dijelaskan, Pilihan itu bukan tanpa alasan. Bagi para putra Papua, persoalan agraria, tata ruang, hingga sengketa tanah masih menjadi tantangan nyata yang membutuhkan sumber daya manusia kompeten dan memahami kondisi daerah. Karena itu, pendidikan di bidang pertanahan dinilai menjadi salah satu jalan strategis untuk menyiapkan diri mengambil peran dalam pembangunan Papua di masa depan.
Salah satu taruna yang membawa semangat tersebut adalah Alfando Almendo, Taruna Tingkat II asal Manokwari, Papua Barat. Ia menuturkan, keputusannya berkuliah di Politeknik Agraria STPN dilandasi tekad sederhana namun kuat, yakni ingin pulang dan ikut membangun daerah asalnya.
“Yang saya pikirkan ketika memutuskan berkuliah di Politeknik Agraria STPN sederhana saja, nantinya saya ingin terlibat membangun daerah saya. Papua masih membutuhkan banyak pembangunan dan tentu membutuhkan sumber daya manusia yang memahami bidang pertanahan dan tata ruang,” ujar Alfando.
Menurut Alfando, masih banyak persoalan pertanahan yang ditemui di Papua, mulai dari aspek administrasi, kepastian hukum, hingga kebutuhan penataan ruang yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Kondisi itulah yang mendorongnya tertarik mendalami ilmu agraria agar kelak dapat berkontribusi langsung dalam membantu menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut saat kembali ke kampung halaman.
Tak hanya menilai bidang keilmuan di STPN relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah, Alfando juga mengaku banyak memperoleh pengalaman berharga melalui sistem pendidikan berasrama yang diterapkan kampus tersebut. Baginya, kehidupan taruna tidak semata berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja sama dengan sesama mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
“Di sini kami tidak hanya belajar akademik, tetapi juga belajar disiplin, kepemimpinan, dan hidup bersama dengan teman-teman dari seluruh Indonesia. Ini menjadi modal penting untuk bisa bersinergi dengan teman-teman dari banyak daerah untuk membangun Papua,” katanya.
Semangat serupa juga dimiliki Rafael Korwa, Taruna Tingkat II asal Merauke, Papua Selatan. Ketertarikannya pada dunia pertanahan berawal dari kegemarannya melihat peta sejak kecil. Ketika kemudian mengenal dunia survei dan pertanahan lebih dalam, Rafael menyadari bahwa bidang tersebut memiliki peran yang sangat luas dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Dari kecil saya memang suka melihat peta. Setelah mengetahui dan mempelajari bidang pertanahan, saya jadi tahu bahwa ilmu ini sangat penting untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat, termasuk masalah sengketa tanah yang sering terjadi di lingkungan saya,” ungkap Rafael.
Rafael menilai, masih banyak masyarakat yang belum memahami hak atas tanah, administrasi pertanahan, maupun aspek hukum yang melekat pada kepemilikan lahan. Di wilayah seperti Papua, yang memiliki karakteristik pertanahan cukup kompleks, kondisi tersebut kerap memunculkan persoalan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Karena itu, kehadiran generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang agraria menjadi sangat penting.
“Harapannya setelah lulus nanti saya bisa kembali dan membagikan ilmu yang saya dapatkan kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat bisa lebih memahami hak-haknya dan tidak mudah dirugikan dalam urusan pertanahan,” tuturnya.
Bagi Alfando dan Rafael, menempuh pendidikan di Politeknik Agraria STPN bukan sekadar upaya meraih gelar atau membangun karier pribadi. Lebih dari itu, pendidikan tersebut menjadi jalan untuk mempersiapkan diri sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan pertanahan dan tata ruang di daerah asal mereka. Keduanya berharap ilmu yang diperoleh selama masa pendidikan dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat Papua, khususnya dalam mendorong tata kelola pertanahan yang lebih tertib, adil, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Kisah dua putra Papua ini sekaligus menggambarkan bahwa kebutuhan akan sumber daya manusia yang memahami bidang agraria tidak hanya hadir di pusat-pusat pembangunan, tetapi juga sangat mendesak di daerah-daerah yang masih menghadapi tantangan besar dalam urusan pertanahan dan tata ruang. Di tengah pembangunan yang terus bergerak, kehadiran generasi muda terdidik yang siap kembali ke daerah menjadi modal penting bagi masa depan Papua.
Politeknik Agraria STPN pun menjadi salah satu ruang strategis bagi generasi muda dari berbagai daerah, termasuk Papua, untuk menyiapkan diri mengambil peran tersebut. Melalui pendidikan yang menekankan penguasaan ilmu pertanahan, tata ruang, survei, hingga pembentukan karakter kepemimpinan, kampus ini diharapkan mampu melahirkan kader-kader agraria yang siap mengabdi bagi bangsa dan daerahnya.
Bagi lulusan SMA/sederajat yang tertarik mendalami bidang pertanahan dan tata ruang, pendaftaran Taruna/Taruni Politeknik Agraria STPN masih dibuka hingga 18 Juni 2026. Informasi mengenai persyaratan, tahapan seleksi, dan tata cara pendaftaran dapat diakses melalui situs resmi Politeknik Agraria STPN.
Writer: Agustinus Guntur












