RAJA AMPAT — Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan kembali ditunjukkan Orang Muda Katolik (OMK) Santo Carlo Acutis, Greja Katolik Stasi Santa Maria Mater Dei Waisai, Kabupaten Raja Ampat. Sebanyak 16 unit tempat sampah berbahan drom bekas berhasil dibuat dan ditempatkan di sejumlah fasilitas umum, termasuk 10 unit yang secara khusus ditempatkan di kawasan Pantai Waisai Torang Cinta (WTC).
Aksi tersebut dilaksanakan pada Minggu (13/9/2026) sebagai bentuk kepedulian OMK terhadap kebersihan lingkungan, khususnya kawasan Pantai WTC yang merupakan salah satu ruang publik sekaligus destinasi wisata di Kota Waisai, Raja Ampat.
Menariknya, drom-drom bekas tersebut tidak sekadar dimanfaatkan kembali sebagai tempat sampah. Para anggota OMK terlebih dahulu merancang dan mendesainnya agar memiliki tampilan yang lebih menarik, kemudian mengecatnya dengan kombinasi warna kuning dan putih.
Sentuhan desain dan perpaduan warna tersebut membuat drom bekas yang sebelumnya sudah tidak terpakai berubah menjadi tempat sampah yang lebih rapi, menarik, dan layak ditempatkan di ruang publik.

Proses pembuatan dilakukan secara bersama-sama oleh anggota OMK selama dua hari. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat gotong royong sekaligus upaya memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.
Dari 16 unit tempat sampah yang berhasil dibuat, sebanyak dua unit ditempatkan di sekolah Katolik, dua unit di SMP Katolik, dua unit di lingkungan gereja Katolik, sementara 10 unit lainnya ditempatkan di kawasan Pantai WTC.
Ketua OMK Santo Carlo Acutis, Stasi Santa Maria Mater Dei Waisai Raja Ampat, Alfianus Japa, mengatakan aksi tersebut lahir dari kepedulian pemuda terhadap kondisi lingkungan sekitar, terutama Pantai WTC yang masih menghadapi persoalan sampah.
Menurutnya, OMK sebelumnya telah dua kali melakukan aksi bersih lingkungan di kawasan tersebut. Namun, tidak lama setelah kegiatan dilakukan, mereka kembali menemukan sampah berserakan di sejumlah titik.

“Kami melihat persoalan sampah di Pantai WTC tidak cukup hanya diselesaikan dengan kegiatan bersih-bersih. Karena itu, kami mencoba membuat langkah sederhana dengan menyediakan tempat sampah agar masyarakat memiliki tempat untuk membuang sampah,” ujar Alfianus.
Ia menjelaskan, pemanfaatan drom bekas juga menjadi bagian dari kreativitas OMK dalam mengatasi persoalan lingkungan. Barang yang sebelumnya tidak terpakai diolah kembali melalui proses desain dan pengecatan sehingga memiliki fungsi baru dan dapat digunakan untuk kepentingan bersama.
Ia berharap keberadaan tempat sampah tersebut dapat mendorong masyarakat semakin sadar menjaga kebersihan dan tidak lagi membuang sampah sembarangan.
“Pantai WTC adalah bagian dari wajah Raja Ampat. Kalau kita ingin kawasan ini tetap indah dan menjadi destinasi wisata yang nyaman, maka kebersihannya harus menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.
Sementara itu, Pembina OMK Santo Carlo Acutis, Stasi Santa Maria Mater Dei Waisai Raja Ampat, Rafael Tulung, mengapresiasi inisiatif Orang Muda Katolik yang memilih bergerak melalui aksi nyata.

Menurut Rafael, kegiatan tersebut tidak hanya berbicara mengenai penyediaan tempat sampah, tetapi juga tentang membangun kesadaran generasi muda untuk mengambil bagian dalam menjaga lingkungan.
“Apa yang dilakukan Orang Muda Katolik (OMK) Santo Carlo Acutis, Stasi Santa Maria Mater Dei Waisai Raja Ampat ini mungkin terlihat sederhana, tetapi pesan yang dibawa sangat besar. Mereka menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil, dari apa yang kita punya dan dari lingkungan di sekitar kita,” ungkap Rafael.
Ia menilai keterlibatan pemuda dalam menjaga kebersihan lingkungan juga merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman.
OMK Santo Carlo Acutis, Stasi Santa Maria Mater Dei Waisai pun berkomitmen untuk tidak berhenti pada kegiatan di Pantai WTC. Ke depan, mereka berencana melanjutkan aksi serupa dengan membuat dan menempatkan tempat sampah di sejumlah fasilitas umum lainnya, termasuk lingkungan sekolah, kawasan jalan raya, serta ruang publik yang membutuhkan.
“Pelan-pelan kami akan terus bergerak. Kami ingin aksi ini tidak berhenti di Pantai WTC saja, tetapi bisa menjangkau tempat-tempat umum lainnya. Ini adalah bagian dari komitmen pemuda, khususnya Orang Muda Katolik (OMK) Santo Carlo Acutis, untuk ikut menjaga lingkungan di Raja Ampat,” ujar Alfianus.

Bagi OMK Santo Carlo Acutis, Stasi Santa Maria Mater Dei, menjaga lingkungan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda, agar budaya menjaga kebersihan dapat tumbuh secara bersama-sama.
Melalui pemanfaatan drom bekas yang didesain dan dicat dengan warna kuning-putih menjadi tempat sampah, OMK Santo Carlo Acutis Stasi Santa Maria Mater Dei Waisai Raja Ampat, ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan, kreativitas, kepedulian, serta konsistensi untuk menjaga ruang bersama.
Aksi tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga Pantai WTC sebagai ruang publik sekaligus salah satu destinasi wisata yang menjadi bagian penting dari wajah Raja Ampat.












