Waisai, RajaAmpatNews — Suasana penuh sukacita dan kekhidmatan mewarnai ibadah pembukaan Kongres II Forum Generasi Muda Gereja Kristen Injili (FGM GKI) di Tanah Papua yang berlangsung di Gedung Pari Conference Center, Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Senin (10/11/2025).
Salah satu momen yang paling memikat perhatian peserta dan undangan ialah penampilan Vocal Grup PAR GKI Bukit Zaitun Moko, yang mempersembahkan dua lagu rohani Papua berjudul “Sye Manseren” dan “Saya Lari dan Mencari”dari Nyanyian Suara Gembira No. 53.
Dengan harmoni vokal yang padu serta iringan alat musik tradisional Papua, penampilan para remaja gereja tersebut sukses menciptakan suasana ibadah yang menggugah dan mendapat sambutan hangat dari seluruh jemaat yang hadir.
Salah satu guru Sekolah Minggu Jemaat GKI Bukit Zaitun Moko mengatakan, penampilan itu bukan sekadar hiburan rohani, melainkan juga wujud pelestarian musik dan budaya Papua di kalangan generasi muda gereja.
“Kami ingin agar anak-anak muda GKI tetap mencintai musik dan lagu rohani Papua, tidak hanyut dengan pengaruh musik modern yang kadang membuat mereka lupa pada akar budaya sendiri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Vocal Grup PAR GKI Bukit Zaitun Moko terus berupaya mengembangkan musik rohani Kristen Papua melalui lagu-lagu pujian yang sarat makna iman dan budaya. Dalam setiap penampilan, mereka kerap memadukan berbagai alat musik tradisional seperti tifa, gitar, ukulele, bas, serta sejumlah alat musik khas lokal lainnya.

Kehadiran mereka dalam pembukaan Kongres II FGM GKI di Tanah Papua menjadi simbol nyata semangat generasi muda gereja untuk memadukan nilai iman dan identitas budaya. Melalui musik rohani Papua, mereka tidak hanya memuji Tuhan, tetapi juga merawat warisan musikal dan spiritual yang menjadi kebanggaan masyarakat Papua.
Kongres II FGM GKI di Tanah Papua diharapkan menjadi momentum penting bagi generasi muda gereja untuk memperkuat iman, mempererat solidaritas, dan meneguhkan tanggung jawab mereka dalam melayani serta menjaga nilai-nilai budaya dan spiritual yang telah diwariskan para pendahulu.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu













