Hari Doa Syukur PAM GKI di Tanah Papua Jadi Momentum Kebangkitan Pelayanan Pemuda

Koordinator Badan Pelayan Pemuda Klasis GKI Raja Ampat, Koresh Kelelufna
Koordinator Badan Pelayan Pemuda Klasis GKI Raja Ampat, Koresh Kelelufna
banner 120x600

WAISAI, RajaAmpatNews– Persekutuan Anggota Muda (PAM) Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, Klasis Raja Ampat, memperingati Hari Doa Syukur (HDS) yang dirayakan secara serentak oleh pemuda GKI setiap 18 Desember. Perayaan ini menjadi momentum refleksi, evaluasi, sekaligus kebangkitan pelayanan pemuda GKI di tengah tantangan zaman dan dinamika sosial yang terus berkembang.

Koordinator Badan Pelayan Pemuda Klasis GKI Raja Ampat, Koresh Kelelufna, dalam pesan rohaninya menegaskan bahwa Hari Doa Syukur PAM bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan panggilan iman dan tanggung jawab besar bagi pemuda GKI untuk kembali mengambil peran strategis dalam menjaga dan menghidupkan pelayanan gereja.

“Menjadi harapan besar bagi kita semua, khususnya pemuda GKI, agar ke depan mampu menjaga dan merawat GKI ini dengan sungguh-sungguh,” ujar Koresh saat menyampaikan pesan rohani, Kamis (18/12/2025) malam.

Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pelayanan GKI yang dalam beberapa waktu terakhir dinilai mengalami penurunan, terutama dari sisi keterlibatan pemuda. Kondisi ini dinilai ironis, mengingat Tanah Papua secara historis dan kultural sangat lekat dengan keberadaan GKI.

“Dulu kita mayoritas, tetapi hari ini seolah menjadi minoritas di rumah kita sendiri. Secara nyata, banyak pemuda yang mulai kurang peduli terhadap GKI,” ungkapnya.

Menurut Koresh, sikap apatis dan rendahnya partisipasi pemuda dalam pelayanan gereja menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama. Karena itu, melalui momentum Hari Doa Syukur PAM, ia mengajak seluruh pemuda GKI untuk kembali membangkitkan semangat pelayanan serta menyuarakan eksistensi GKI di tengah masyarakat.

“Lewat perayaan Hari Doa Syukur ini, kita berharap pemuda kembali bangkit, mengangkat pelayanan, dan menyuarakan suara GKI, agar GKI tetap eksis, tidak menurun, bahkan semakin bertumbuh,” tegasnya.

Lebih lanjut, Koresh menekankan bahwa peran pemuda GKI tidak boleh terbatas pada aktivitas ibadah dan pelayanan internal gereja semata. Pemuda GKI juga diharapkan menjadi pilar penting dalam mendukung pembangunan masyarakat melalui kolaborasi dengan pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Pelayanan gereja hari ini tidak hanya berfokus pada kegiatan di dalam gereja, tetapi juga menyentuh pelayanan sosial di tengah masyarakat. Di sinilah pentingnya sinergi antara gereja dan pemerintah,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tahun 2025 harus menjadi momentum kebangkitan pemuda GKI, di mana pemuda tidak lagi identik dengan sikap pasif atau rutinitas ibadah semata, melainkan mampu menghadirkan karya nyata yang dirasakan manfaatnya oleh jemaat dan masyarakat luas.

“Pemuda harus memiliki tanggung jawab. Jangan sampai kita hanya dikenal rajin beribadah, tetapi tidak menghasilkan tindakan nyata. Inilah harapan besar kita ke depan,” tambahnya.

Menutup pesannya, Koresh berharap agar Perayaan Hari Doa Syukur PAM GKI di Tanah Papua, khususnya di Klasis GKI Raja Ampat, menjadi titik awal kebangkitan pemuda untuk melayani dengan sungguh-sungguh, baik di lingkungan gereja maupun di tengah masyarakat.

“Kiranya HDS PAM ini menjadi titik awal kebangkitan pemuda GKI untuk melayani secara utuh dan berdampak bagi kehidupan sosial masyarakat,” pungkasnya.

Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *