RAJA AMPAT– Anggota DPRK Otonomi Khusus (Otsus) Daerah Pengangkatan Raja Ampat I, Wolter Gaman, S.S., melaksanakan Reses II di Distrik Waigeo Utara, Kabupaten Raja Ampat. Kegiatan tersebut berlangsung di wilayah adat Suku Maya Sub Suku Ambel yang meliputi Kampung Kabare, Bonsayor, Kalisade, Darumbab, Andey, dan Asukweri. Rabu, (10/6/2026).
Reses tersebut menjadi wadah dialog antara masyarakat dan wakil rakyat untuk menyampaikan berbagai aspirasi terkait pembangunan dan pelayanan dasar yang dibutuhkan masyarakat setempat.
Salah satu aspirasi utama disampaikan Ketua Adat Waigeo Utara Suku Ambel, Yance Lapon. Ia meminta perhatian pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat, terhadap kondisi Puskesmas Kabare yang saat ini menghadapi sejumlah keterbatasan fasilitas dan tenaga kesehatan.
Menurut Yance, gedung puskesmas yang merupakan aset pemerintah pusat telah lama tidak dimanfaatkan secara optimal dan mulai mengalami kerusakan di beberapa bagian ruangan Puskesmas.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama Dinas Kesehatan, untuk melihat langsung kondisi puskesmas yang ada. Gedung tersebut sudah dibangun cukup lama, namun tidak digunakan selama bertahun-tahun sehingga mulai mengalami kerusakan,” ujarnya saat dialog reses.
Ia menjelaskan, bangunan tersebut merupakan aset pemerintah yang diperuntukkan bagi pelayanan masyarakat sehingga perlu segera mendapatkan perawatan dan renovasi apabila terdapat kerusakan.
Selain persoalan bangunan, masyarakat juga mengeluhkan keterbatasan tenaga dokter di Puskesmas Kabare. Saat ini puskesmas tersebut hanya memiliki satu dokter, sementara kebutuhan pelayanan kesehatan terus meningkat.
“Kami membutuhkan tambahan dokter umum dan dokter gigi agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat bisa lebih maksimal,” kata Yance.
Di sisi lain, ia mengapresiasi jumlah tenaga bidan dan perawat yang dinilai sudah cukup memadai. Saat ini terdapat sekitar 40 tenaga kesehatan dan staf pendukung yang bertugas di wilayah tersebut. Namun demikian, masih terdapat kekurangan tenaga gizi. Salah satu petugas gizi yang ada saat ini masih berstatus magang, di kota Sorong.
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah ketersediaan obat-obatan. Masyarakat mengaku sering menerima stok obat yang masa kedaluwarsanya sudah mendekati habis sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk pelayanan kesehatan.
Dalam kesempatan tersebut, Yance juga menyoroti kebutuhan sarana transportasi kesehatan, baik ambulans darat maupun ambulans laut.
Menurutnya, keberadaan ambulans darat sangat penting untuk menjangkau sejumlah kampung yang lokasinya cukup jauh dari Puskesmas Kabare, seperti Kampung Asukweri, Andey, dan wilayah sekitarnya.
Sementara itu, ambulans laut dinilai menjadi kebutuhan mendesak mengingat kondisi geografis Waigeo Utara yang didominasi wilayah perairan.
“Kami sangat membutuhkan ambulans laut untuk merujuk pasien. Ketika transportasi udara tidak tersedia, satu-satunya pilihan adalah melalui jalur laut. Namun saat ini kami hanya menggunakan perahu fiber kecil yang sangat bergantung pada kondisi cuaca,” ungkapnya.
Ia menambahkan, cuaca di wilayah utara Raja Ampat sering kali tidak menentu sehingga transportasi laut yang lebih aman dan memadai sangat diperlukan, terutama untuk menangani pasien dalam kondisi darurat.
Selain fasilitas kesehatan, masyarakat juga mengusulkan penambahan rumah dinas bagi tenaga kesehatan yang bertugas di Waigeo Utara. Menurut Yance, ketersediaan tempat tinggal yang layak menjadi faktor penting untuk mendukung kenyamanan dan keberlanjutan pelayanan tenaga medis di daerah tersebut.
“Petugas kesehatan harus merasa nyaman dan aman saat bertugas. Jika tidak tersedia rumah dinas, tentu akan sulit mempertahankan tenaga kesehatan yang datang bersama keluarganya untuk mengabdi di daerah ini,” katanya.
Meski masih menghadapi berbagai keterbatasan fasilitas dan sumber daya, pelayanan kesehatan di Puskesmas Kabare hingga kini tetap berjalan dan masyarakat masih dapat memperoleh layanan dasar kesehatan dari tenaga medis yang bertugas.
Seluruh aspirasi yang disampaikan masyarakat dalam Reses II tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah dan menjadi bahan perjuangan DPRK Raja Ampat dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Distrik Waigeo Utara.
Writer: Dony Kumuai












