SPPG Maranu Klarifikasi Isu Keracunan MBG di Raja Ampat: Diduga Reaksi Alergi Ikan Cakalang

RAJA AMPAT — Ramainya isu dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kabupaten Raja Ampat yang ramai di perbincangkan di media sosial, akhirnya mendapat klarifikasi dari pihak penyelenggara. Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur 2 Maranu, Erol Triadi Hunihatu, menegaskan bahwa kejadian yang dialami sejumlah siswa di SMP Negeri 14 Raja Ampat dan SD Kimindores lebih mengarah pada reaksi alergi makanan, bukan keracunan massal seperti yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Saat ditemui di lokasi Dapur 2 Maranu, Jumat (5/6/2026), Erol menjelaskan bahwa keluhan yang dialami siswa tergolong ringan. Beberapa siswa dilaporkan mengalami gatal-gatal, sementara sebagian lainnya hanya merasakan iritasi ringan di area mulut setelah mengonsumsi makanan MBG.

“Kalau kejadian di SD maupun SMP itu, lebih tepat disebut alergi. Ada beberapa siswa yang mengalami dampak ringan seperti gatal-gatal. Di SMP, keluhannya hanya di bagian mulut, sementara di SD juga kurang lebih sama,” jelas Erol.

Menanggapi kejadian tersebut, pihak SPPG Dapur 2 Maranu mengaku langsung turun ke lapangan untuk memastikan kondisi siswa serta melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan instansi terkait. Penanganan cepat juga dilakukan bersama Dinas Kesehatan dengan memberikan obat-obatan kepada siswa yang mengalami keluhan.

“Kami sudah turun ke lapangan, berbicara dengan kepala sekolah dan pihak terkait. Kami juga sudah melakukan penanganan dengan memberikan obat, serta dibantu Dinas Kesehatan untuk koordinasi dengan sekolah-sekolah,” ujarnya.

Dari hasil evaluasi sementara, menu ikan cakalang atau tongkol yang disajikan dalam program MBG diduga menjadi pemicu reaksi alergi pada sebagian siswa. Karena itu, sebagai langkah antisipasi, pihak SPPG memutuskan untuk sementara menghentikan penggunaan menu ikan tersebut.

Baca Juga  Wagub PBD: Mahasiswa KKN UGM Telah Tinggalkan Jejak Inspiratif di Raja Ampat

“Kami tidak akan menggunakan ikan dulu untuk sementara, karena memang ikan ini cukup sensitif bagi sebagian anak-anak, terutama yang memiliki alergi,” kata Erol.

Ia menambahkan, pihaknya sebelumnya juga telah meminta data siswa yang memiliki riwayat alergi makanan kepada sekolah-sekolah sebagai bahan evaluasi penyusunan menu MBG ke depan, agar pelayanan gizi bagi siswa tetap aman dan tepat sasaran.

Meski sempat menimbulkan kekhawatiran publik dan ramai diperbincangkan di media sosial, Erol memastikan distribusi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan normal. Setelah dilakukan komunikasi dengan pihak sekolah, pengiriman makanan pada Jumat tetap diterima oleh sekolah penerima manfaat.

“Kami sudah konfirmasi ke sekolah-sekolah, dan pengiriman hari ini tetap berjalan normal serta diterima oleh pihak sekolah,” pungkasnya.

Pihak SPPG berharap masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan informasi yang beredar tanpa klarifikasi resmi, sembari memastikan evaluasi menu akan terus dilakukan guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.

Writer: Agustinus Guntur