Renungan Minggu, 8 Maret 2026
Oleh: RD. Ardus Endi (Staf Formator Seminari Petrus Van Diepen)
“Allah, Tempat Jawab Segala Doa dan Harapan”
Bapak/Ibu, Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Pada hari ini bersama Gereja sejagat, kita memasuki Hari Minggu Prapaskah ke-III. Bacaan-bacaan suci hari ini diambil dari tiga sumber bacaan: Bacaan Pertama (Kel. 17:3-7), bacaan Kedua (Rm. 5:1-2.5-8), dan Injil (Yoh. 4:5-42). Dalam dan melalui narasi bacaan ini, Gereja Katolik mengetengahkan kepada kita perihal sebuah kebenaran iman yang paling mendasar bahwa Allah adalah sosok yang selalu peduli dan penuh belaskasih. Ia peduli pada kebutuhan (bukan keinginan) dan selalu merangkul semua umat manusia dalam pelukan kasih-Nya. Dengan ini, kita pun diajak untuk selalu percaya dan mendekatkan diri dengan Allah. Hanya dengan pilihan sikap itu, kita mengalami keselamatan dan memperoleh kehidupan kekal.
Bapak/Ibu, Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Kitab Keluaran menarasikan dengan jelas bagaimana Allah sungguh-sungguh peduli dengan rintihan dan keluhan umat Israel, bangsa pilihan-Nya. Kepedulian Allah itu terungkap secara eksplisit dalam arahan dan perintah yang disampaikan kepada Musa, pemimpin bangsa Israel: “Berjalanlah di depan bangsa itu…bawalah tongkatmu… pukullah gunung batu itu, dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum” (Kel. 17:5-6). Arahan dan perintah itu dilaksanakan oleh Musa dan pada akhirnya mukjizat kelimpahan air pun terjadi. Bangsa Israel yang kehausan akhirnya diberi kelegaan. Mereka yang patah semangat dan putus asa diberi kekuatan. Mereka yang bersungut-sungut dan yang kerapkali protes pun diberi pelajaran berharga bahwa Allah turut hadir dalam setiap proses dan dinamika hidup mereka.
Berkaca pada pengalaman hidup bangsa Israel ini, maka menjadi jelas bagi kita bahwa Allah bukanlah sosok Pribadi yang apatis, melainkan sosok yang selalu responsif. Allah tidak pernah menutup mata terhadap aneka situasi yang dialami oleh manusia. Allah tidak pernah menutup telinga untuk mendengar setiap rintihan dan keluhan manusia. Allah tidak pernah membiarkan manusia terlelap dalam kegelisahan dan kepedihan yang mendalam. Dan bahwa Allah tidak pernah berhenti mencintai manusia.
Bapak/Ibu, Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Dalam berbagai pengalaman harian, masing-masing kita tentu selalu mengalami sentuhan kasih Allah. Allah menganugerahi kita nafas kehidupan, memberikan aneka talenta dan kemampuan, dan tentunya Allah mengalirkan berkat dan rahmat yang tidak pernah berkesudahan pada hidup dan karya kita. Ini adalah tanda bahwa Allah peduli dan dekat dengan kita. Bagi orang yang kurang percaya, rasanya sulit menyadari hal ini. Namun, bagi mereka yang percaya pada kasih Allah, sudah pasti mengalami kehadiran Allah sendiri.
Hal inilah yang ditekankan oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Kepada segenap jemaat di Roma, Rasul Paulus memberikan kesaksian yang bernas bahwa Allah hadir dan terus mengalirkan rahmat dan damai sejahtera kepada semua orang tanpa terkecuali. Karena besarnya rahmat Allah itu, Rasul Paulus mengingatkan umat di Roma agar senantiasa percaya dan mendekatkan diri dengan Allah. Orang yang selalu berharap dan percaya kepada Allah tidak akan dikecewakan. Tentang hal ini, Rasul Paulus dengan lantang katakan: “…Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan pengharapan itu tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus…” (Rm. 5:2,5). Kepada kita pun, yang hidup di zaman ini, Rasul Paulus memberikan kesaksian yang sama. Bahwa Allah tidak pernah berhenti mencintai kita. Allah telah mengutus Yesus Kristus, Putera-Nya sebagai jaminan keselamatan bagi kita semua. Karena itu, kita diajak untuk selalu percaya dan berharap penuh pada-Nya sebab Tuhanlah, tempat jawaban segala harap dan doa-doa.
Bapak/Ibu, Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Senada dengan ini, mendiang Paus Fransiskus dalam refleksi imannya meyakinkan kita semua bahwa “pengharapan yang diletakkan dalam lautan Kerahiman Allah tidak akan pernah mengecewakan” (spess non confundit). Dalam bingkai inilah, kita kemudian diyakinkan dengan pengalaman seorang perempuan Samaria yang sungguh-sungguh mengalami kesalamatan. Seperti yang dinarasikan dalam Injil, ia yang semula mengalami kegersangan dalam hidup lantaran kehilangan sandaran keselamatan: “ia tidak memiliki suami” (Yoh. 4:17), tidak memiliki pegangan iman yang kokoh; tetapi kemudian mengalami keselamatan berkat perjumpaan pribadinya dengan Yesus di pinggir sumur Yakub. Ia yang semula memberi air kepada Yesus, tetapi kemudian mendapatkan “Air Hidup” lantaran telah berjumpa dan berdialog dengan Sang Mesias. Dalam diri Yesus, ia menemukan jawaban atas setiap keresahan dan kegundahan hidupnya selama ini. Ini tentu sebuah berkat dan rahmat yang istimewa. Pada akhirnya, ia percaya dan berkomitmen penuh mendekatkan diri dengan Tuhan. Pada titik ini, ia menemukan kehidupan dan menimba air keselamatan.
Bapak/Ibu, Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…
Semoga pesan injil hari ini senantiasa menginspirasi kita semua, terutama di masa Prapaskah ini untuk sungguh-sungguh berkomitmen: terus percaya dan mendekatkan diri dengan Allah, Sang sumber kehidupan. Tuhan senantiasa memberkati kita semua. Amin.
RD. Ardus Endi adalah Staf Formator Seminari Petrus Van Diepen-Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya












