WAISAI, RajaAmpatNews – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis minyak tanah (mitan) kembali terjadi di wilayah Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya dalam beberapa hari terakhir in. Kondisi ini menuai keprihatinan berbagai pihak, salah satunya datang dari Ketua UKM IKM Nusantara Kabupaten Raja Ampat, Frits Moom, yang menilai persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena berdampak langsung pada kehidupan masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro.
Dalam pernyataannya kepada awak media, Frits Moom menegaskan bahwa kelangkaan minyak tanah sangat memberatkan warga, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah yang masih bergantung pada mitan untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Selain rumah tangga, usaha kecil seperti penjual makanan, pengolahan hasil laut, hingga pelaku UMKM lainnya juga ikut merasakan dampak serius akibat sulitnya mendapatkan minyak tanah.
“Minyak tanah masih menjadi kebutuhan pokok bagi banyak masyarakat di Raja Ampat, terutama di Waisai. Kelangkaan ini sangat menyulitkan kehidupan sehari-hari dan aktivitas usaha kecil. Saya meminta agar hal ini tidak dianggap sepele,” tegas Frits, di Kota Waisai, Senin,( 8/12/2025).
Ia mendesak PT Pertamina (Persero) Cabang Sorong bersama instansi terkait segera mengambil langkah konkret dengan turun langsung ke lapangan, khususnya ke wilayah Waisai, guna memastikan ketersediaan stok BBM dalam jumlah yang cukup. Menurutnya, kehadiran langsung pihak Pertamina di Raja Ampat penting untuk mengetahui kondisi riil di lapangan, mulai dari distribusi, penyimpanan, hingga potensi adanya penyimpangan.
“Saya mengusulkan agar PT Pertamina Cabang Sorong datang langsung ke Waisai untuk memastikan stok BBM, khususnya minyak tanah, benar-benar tersedia dan bisa diakses masyarakat. Jangan hanya melihat laporan di atas kertas, tapi harus dicek langsung di lapangan,” ujar Frits.
Lebih lanjut, Frits menyoroti adanya dugaan penumpukan atau penimbunan BBM oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Ia menilai ada dua indikator utama yang memicu terjadinya kelangkaan, yakni praktik penimbunan BBM oleh pihak tertentu dan ketidaksesuaian data pengguna minyak tanah di wilayah Waisai dan sekitarnya.
“Tidak tertutup kemungkinan ada oknum yang menimbun untuk kepentingan pribadi. Selain itu, data penerima atau pengguna minyak tanah juga perlu diperbarui dan disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Jika data tidak valid, distribusi pasti tidak tepat sasaran,” tambahnya.
Ia pun meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat untuk bersikap tegas dan proaktif dalam mengawasi distribusi minyak tanah, serta melakukan koordinasi intensif dengan pihak Pertamina agar kejadian serupa tidak terus berulang. Frits menekankan pentingnya tindakan cepat mengingat bulan Desember merupakan momen penting bagi umat Kristiani di Raja Ampat dalam menyambut Hari Raya Natal.
“Menjelang Natal, kebutuhan masyarakat meningkat, terutama untuk keperluan rumah tangga dan kegiatan keagamaan. Pemerintah daerah dan Pertamina harus memastikan bahwa stok BBM dalam kondisi normal, agar masyarakat dapat merayakan Natal dengan tenang dan layak,” tuturnya.
Frits juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam mengawasi distribusi BBM dengan melaporkan jika menemukan adanya praktik penimbunan atau penjualan minyak tanah di atas harga yang ditetapkan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat sangat penting untuk menciptakan distribusi BBM yang adil dan merata di seluruh wilayah Kabupaten Raja Ampat.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau Pertamina semata, tetapi juga tanggung jawab kita bersama. Jika ada yang melihat penyimpangan, jangan ragu untuk melapor,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Pertamina (Persero) Cabang Sorong dan instansi terkait belum memberikan keterangan resmi terkait kelangkaan minyak tanah yang terjadi di Waisai. Masyarakat berharap ada langkah cepat dan nyata agar pasokan BBM kembali normal dan kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu












