WAISAI, RajaAmpatNews — Festival Pesona Raja Ampat 2025 kembali menjadi panggung besar bagi kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Papua. Bertempat di kawasan Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), ribuan pengunjung dari berbagai daerah menikmati suasana penuh warna yang menampilkan beragam budaya, kuliner, serta hasil karya ekonomi kreatif masyarakat.
Salah satu daya tarik utama tahun ini adalah pameran Noken, tas rajutan tradisional khas Papua yang telah diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO. Keberadaan stan-stan kerajinan tangan dari berbagai daerah di Tanah Papua menambah semarak festival tahunan andalan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat tersebut.
Di antara para pengrajin, Mama Feni — perajin asal Suku Paniai, Papua Tengah — mencuri perhatian pengunjung. Ia datang langsung ke Waisai membawa puluhan Noken hasil rajutannya yang dibuat dari serat kulit kayu dan benang alami, dengan motif khas Paniai yang sarat makna tentang kedamaian, kekuatan, dan persatuan.
“Saya sangat bersyukur bisa hadir di sini. Panitia memberikan ruang bagi kami mama-mama pengrajin untuk memperkenalkan karya kami sendiri. Noken ini bukan sekadar tas, tapi simbol kasih sayang dan kehidupan orang Papua,” ujar Mama Feni sambil tersenyum.
Harga Noken yang ditawarkan beragam, mulai Rp150 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya. Banyak wisatawan terlihat antusias membeli sebagai cendera mata khas Papua, bahkan ada yang mencoba langsung belajar merajut bersama para mama pengrajin.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, Ellen Risamasu, S.T., M.T., menegaskan bahwa festival tahun ini bukan hanya ajang hiburan, melainkan ruang apresiasi bagi pelaku ekonomi kreatif lokal.
“Melalui Festival Pesona Raja Ampat, kita ingin menunjukkan bahwa pesona Raja Ampat tidak hanya laut dan pulau-pulaunya, tetapi juga manusianya, budayanya, dan kreativitas masyarakatnya. Tahun ini kami memberi ruang lebih luas bagi UMKM dan pengrajin lokal,” ungkapnya.
Selain pameran kerajinan, festival juga dimeriahkan lomba tari tradisional, parade budaya, kuliner khas Papua, hingga pertunjukan musik etnik yang menggugah semangat persaudaraan.
Bagi banyak perempuan Papua, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi mereka dalam ekonomi kreatif.
“Kami berharap festival seperti ini terus berlanjut setiap tahun. Kami bisa dikenal, hasil karya kami dihargai, dan kami bisa berinteraksi dengan banyak orang,” tambah Mama Feni penuh haru.
Dengan semangat kebersamaan yang mengakar, Festival Pesona Raja Ampat 2025 kembali menegaskan bahwa keindahan Papua tidak hanya ada di alamnya, tetapi juga di tangan-tangan kreatif yang menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Writer: Dony Kumuai II Editor: Petrus Rabu












