Warga Waisai Mengantre Minyak Tanah hingga Malam, Kelangkaan Jelang Natal Kian Meresahkan

banner 120x600

Waisai, RajaAmpatNews— Kelangkaan minyak tanah di Kota Waisai kembali memicu keresahan warga. Hingga Jumat malam, 19 Desember 2025, pukul 19.20 WIT, puluhan warga masih tampak mengantre di pangkalan HASBI ASH, Kelurahan Waisai, Distrik Waisai Kota, demi mendapatkan minyak tanah yang kian sulit diperoleh.

Sejak pagi hingga sore menjelang malam, masyarakat terpaksa berpindah dari satu pangkalan ke pangkalan lain. Beberapa pusat pangkalan yang sempat membuka penjualan minyak tanah dilaporkan kehabisan stok hanya dalam hitungan singkat, meninggalkan antrean panjang warga yang berharap bisa membawa pulang kebutuhan pokok tersebut.

Seorang warga yang ditemui di lokasi antrean mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami masyarakat. Menurutnya, ia dan keluarganya telah berkeliling sejak pagi untuk mengantre. Namun, ketika giliran mereka hampir tiba, stok minyak tanah di pangkalan tersebut justru habis.

“Kami hari ini keliling antre. Begitu hampir giliran kami, minyak tanahnya habis. Terpaksa kami cari pangkalan lain. Ini sudah antre di pangkalan ketiga,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Warga tersebut juga menyampaikan informasi yang diperolehnya dari antrean sebelumnya, bahwa pasokan minyak tanah baru akan kembali masuk pada akhir bulan. Kondisi ini dinilai sangat memberatkan, mengingat kebutuhan minyak tanah meningkat tajam menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kelangkaan minyak tanah di Waisai bukanlah peristiwa baru. Setiap menjelang akhir tahun, situasi serupa hampir selalu terulang dan seolah menjadi masalah rutin yang belum menemukan solusi konkret. Masyarakat pun mempertanyakan penyebab utama terjadinya kelangkaan ini, apakah akibat distribusi yang tidak lancar, keterbatasan kuota, atau lemahnya pengawasan di tingkat lapangan.

Situasi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. Dibutuhkan langkah cepat dan terukur untuk memastikan ketersediaan minyak tanah tetap aman, terutama menjelang hari besar keagamaan. Tanpa intervensi nyata, warga kecil kembali menjadi pihak yang paling terdampak, dipaksa mengantre berjam-jam demi kebutuhan dasar yang seharusnya mudah diakses.

Pertanyaan besar pun mengemuka di tengah masyarakat: mengapa kelangkaan minyak tanah di Waisai selalu terulang setiap akhir tahun, dan sampai kapan warga harus terus menanggung beban yang sama?

Writer: Agustinus Guntur II Editor: Petrus Rabu