Raja Ampat menjadi rujukan internasional pengelolaan kawasan konservasi berkelanjutan
WAISAI, Raja Ampat News – Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya, kembali menjadi magnet bagi daerah lain dan negara tetangga untuk belajar tentang pengelolaan kawasan konservasi laut yang berkelanjutan. Kali ini, delegasi dari Negara Timor Leste serta dua provinsi di Indonesia, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku, melakukan studi tiru di Raja Ampat.
Kepala BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat, Syafri, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya berbagi pengalaman dan pembelajaran mengenai tata kelola kawasan konservasi yang efektif dan berkelanjutan.
“Raja Ampat kedatangan tamu dari tiga wilayah, termasuk delegasi dari Timor Leste yang terdiri dari camat, lurah, kepala kampung, serta penggiat konservasi. Selain itu, juga hadir perwakilan dari Provinsi NTT dan Maluku,” ujar Syafri di Waisai.

Menurutnya, tujuan utama dari studi tiru ini adalah untuk memahami model pengelolaan kawasan konservasi yang telah diterapkan oleh BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat.
Beberapa hal yang menjadi fokus pembelajaran antara lain:
- Proses pembentukan lembaga pengelola (UPTD dan BLUD);
- Penguatan kolaborasi multi pihak antara masyarakat, pemerintah, swasta, dan NGO;
- Pengembangan sistem pendanaan berkelanjutan;
- Pengelolaan sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung;
- Pendekatan dalam pelibatan serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Selain itu, para peserta juga mempelajari sistem monitoring biofisik dan ekosistem yang dilakukan bersama Universitas Papua (UNIPA) serta metode evaluasi pengelolaan kawasan berbasis EVIKA (Evaluation of Effectiveness of Marine Protected Area Management).
“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membangun koneksi dan memperkuat kerja sama lintas wilayah dalam menjaga kawasan konservasi, khususnya di bentang laut Sunda Kecil yang mencakup NTT, Maluku, dan Timor Leste,” tutup Syafri.
Sementara itu, Ari Benuh, salah satu penggiat konservasi, mengatakan bahwa kehadiran mereka di Raja Ampat, khususnya di kantor BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat, merupakan bagian dari kegiatan yang telah dirancang oleh Conservation Indonesia bersama Conservation Timor Leste.
Menurutnya, kegiatan Studi Tiru Pengelolaan Kawasan Konservasi di Raja Ampat diawali dengan sesi materi, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke sejumlah titik pengelolaan kawasan konservasi perairan.
“Hari pertama kami mengikuti materi, sementara pada hari kedua dan terakhir kami berkesempatan turun langsung ke lapangan bersama teman-teman dari BLUD Raja Ampat. Kami sangat senang karena selain mendapatkan pembekalan teori, kami juga bisa melihat langsung praktik pengelolaan kawasan konservasi yang selama ini dijalankan di Raja Ampat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ari Benuh menyebutkan bahwa daerah seperti Maluku, NTT, Sumatra, dan Timor Leste sejatinya memiliki potensi sumber daya kelautan yang besar, namun belum dikelola secara optimal. Karena itu, ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama berada di Raja Ampat dapat diterapkan di daerah masing-masing.
“Harapan saya, setelah kami kembali ke daerah, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat bisa kami terapkan. Terutama dalam hal memperkuat kolaborasi antara instansi terkait seperti dinas kelautan dan perikanan maupun cabang dinas dalam memajukan kawasan konservasi. Saat ini, di beberapa daerah kami juga sedang berproses untuk mendirikan UPT,” jelasnya.
Mengakhiri keterangannya, Ari berpesan kepada seluruh peserta delegasi studi tiru agar tidak hanya melihat kemajuan Raja Ampat saat ini, tetapi juga memahami proses panjang yang telah dilalui hingga mencapai titik keberhasilan seperti sekarang.
“Jangan hanya melihat Raja Ampat hari ini, tetapi lihatlah proses yang telah dilalui dari tahun ke tahun hingga bisa sampai pada posisi sekarang,” pungkasnya.
Kunjungan tersebut menegaskan posisi Raja Ampat sebagai pusat pembelajaran konservasi laut dunia, sekaligus wujud nyata keberhasilan pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Writer: Derek Mambrasar II Editor: Petrus Rabu













