Ketua Panitia KONAS XIX Orideko Burdam Dorong Kaum Bapak: Tak Cukup Bicara Peran, Harus Jadi Teladan

RAJA AMPAT — Dari Raja Ampat, kaum bapak gereja-gereja di Indonesia didorong mengambil peran lebih besar dalam menghadapi tantangan keluarga dan perubahan zaman. Konsultasi Nasional (KONAS) XIX FK-PKB PGI menjadikan forum nasional ini sebagai momentum untuk memperkuat kaum bapak sebagai fondasi ketahanan keluarga sekaligus penggerak kehidupan sosial, gereja, dan bangsa.

Ketua Panitia KONAS XIX, Orideko Burdam, melalui laporan video mengatakan forum yang berlangsung 8–12 September 2026 di Gedung Gereja Jemaat Alfa Omega Waisai diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, pergumulan, dan gagasan dalam menjawab tantangan keluarga serta kehidupan sosial saat ini.

Orideko menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta karena tidak dapat hadir secara langsung. Ia menjelaskan bahwa saat ini tengah menjalankan amanah pelayanan di Jakarta. Kendati demikian, Orideko menegaskan komitmennya untuk tetap menyertai dan mendukung seluruh rangkaian kegiatan tersebut.

KONAS XIX mengusung tema “Bapa yang Berakar, Keluarga yang Berbuah” dengan subtema “Pria Kaum Bapa sebagai Terang di Tengah Keluarga dan Bangsa.” Tema tersebut menekankan pentingnya peran bapak sebagai fondasi dalam membangun keluarga yang kuat. 

Menurut Orideko, sejumlah agenda strategis akan menjadi perhatian dalam forum tersebut, mulai dari evaluasi pelayanan dan penguatan jejaring FK-PKB PGI, peningkatan kapasitas kaum bapak, ketahanan keluarga dan ekklesia domestika, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga.

“Dari Raja Ampat, kita berharap lahir komitmen baru. Kaum bapak tidak hanya berbicara tentang peran, tetapi mampu menghadirkan iman, tanggung jawab, dan keteladanan dalam kehidupan nyata,” ujar Orideko. Selasa (8/9/2026).

KONAS juga mendorong kepedulian terhadap persoalan lingkungan, sosial, seni, dan budaya. Dari seluruh pembahasan itu, forum diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis yang dapat menjadi arah pelayanan FK-PKB PGI ke depan.

Baca Juga  12 Tahun Berkarya, Sanggar Mbilinkayam Teguhkan Komitmen Menjaga Budaya Papua di Raja Ampat

Rangkaian kegiatan meliputi ibadah, seminar mengenai krisis keluarga, penyegaran iman, diskusi pemberdayaan ekonomi keluarga, sidang organisasi dan komisi, berbagi pengalaman pelayanan antarsinode, serta kegiatan sosial dan lingkungan.

Peserta juga akan mengikuti kegiatan seni dan kerohanian, seperti vocal group, baca Mazmur, dan cerdas cermat Alkitab. Selain itu, agenda kunjungan spiritual, sejarah, dan UMKM masyarakat Raja Ampat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Penyelenggaraan KONAS XIX di Raja Ampat sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi alam, budaya, dan ekonomi daerah kepada peserta dari berbagai wilayah Indonesia.

Dengan konsep tersebut, KONAS XIX diharapkan tidak berhenti sebagai forum persidangan, tetapi melahirkan langkah nyata yang dapat dibawa pulang dan diterapkan di tengah keluarga, gereja, serta masyarakat.

Panitia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, gereja, peserta, donatur, dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Total anggaran yang direncanakan mencapai Rp2,1 miliar, yang bersumber dari dukungan dan partisipasi berbagai pihak yang tidak mengikat.

“Kiranya dari Raja Ampat lahir bapak-bapak yang semakin berakar dalam iman, membangun keluarga yang berbuah, dan menjadi terang bagi keluarga serta bangsa,” tutup Orideko.