Tim Evaluator Revalidasi Kunjungi Raja Ampat UGGp, Pemkab Tegaskan Komitmen Jaga Warisan Alam dan Masyarakat Adat

RAJA AMPAT— Pemerintah Kabupaten Raja Ampat menyambut kedatangan Tim Evaluator Revalidasi Raja Ampat UNESCO Global Geopark (UGGp) di Kantor Bupati Raja Ampat, Selasa (18/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian penting dari proses revalidasi status Raja Ampat sebagai UNESCO Global Geopark sekaligus momentum untuk mengevaluasi perkembangan pengelolaan kawasan geopark dalam beberapa tahun terakhir.

Kedatangan tim evaluator disambut dengan tarian adat khas Raja Ampat yang dibawakan Sanggar Seni dan Budaya Mbilim Kayam. Penyambutan tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat Raja Ampat kepada para evaluator.

Setelah prosesi penyambutan, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat bersama Tim Evaluator menggelar pertemuan untuk membahas berbagai aspek yang berkaitan dengan proses revalidasi Raja Ampat UGGp.

KET:
Kedatangan tim evaluator disambut dengan tarian adat khas Raja Ampat yang dibawakan Sanggar Seni dan Budaya Mbilim Kayam.// Foto: Agustinus Guntur (RajaAmpatNews)

Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk kembali menerima kunjungan tim evaluator. Ia secara khusus menyambut Niina dan Chen yang menjadi bagian dari tim evaluasi tersebut.

“Selamat datang kembali di Raja Ampat. Bagi kami, Bapak dan Ibu bukan sekadar tamu yang datang untuk menilai. Bapak dan Ibu adalah saudara yang menjenguk rumah yang harus kita rawat bersama,” ujar Orideko.

Menurutnya, keberadaan tradisi adat seperti Sasi menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat Raja Ampat sejak dahulu telah memiliki kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Bagi masyarakat Raja Ampat, kata Orideko, Sasi bukan sekadar aturan adat, melainkan bagian dari cara leluhur menjaga laut dan memastikan sumber daya alam tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

“Kami sadar sepenuhnya bahwa gunung, laut, terumbu karang, dan manusia di Raja Ampat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” katanya.

Baca Juga  Bupati Raja Ampat Resmikan Masjid Nurul Iman Kampung Waigama

Orideko menegaskan, proses revalidasi bukan semata-mata berkaitan dengan mempertahankan status atau predikat yang telah diperoleh Raja Ampat. Lebih jauh, status tersebut merupakan amanah untuk menjaga lingkungan, budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, predikat Dual Designation UNESCO sebagai Global Geopark sekaligus Cagar Biosfer merupakan bentuk kepercayaan dunia kepada Raja Ampat. Karena itu, pemerintah daerah bersama masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memastikan kepercayaan tersebut dijaga dan memberikan manfaat nyata bagi generasi mendatang.

“Kami tidak berpura-pura menjadi sempurna. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan. Masukan, kritik, bahkan teguran akan kami terima bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang tulus terhadap masa depan Raja Ampat,” tutur Orideko.

Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga agar tradisi Sasi dan berbagai kearifan lokal lainnya tetap hidup serta diwariskan kepada generasi muda.

Selain pelestarian budaya dan lingkungan, pemerintah daerah juga berupaya memastikan masyarakat adat mendapatkan manfaat langsung dari perkembangan pariwisata di Raja Ampat.

“Kami berjuang agar masyarakat adat bukan sekadar penonton di tanahnya sendiri, melainkan menjadi tuan rumah yang paling merasakan manfaat dari pariwisata,” tegasnya.

Orideko menambahkan, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Raja Ampat. Anak-anak Raja Ampat, menurutnya, harus tumbuh dengan kecintaan terhadap laut dan lingkungan, sekaligus memahami bahwa menjaga alam merupakan bagian dari upaya mempertahankan kehidupan mereka di masa depan.

Dalam rangkaian evaluasi, Tim Evaluator dijadwalkan mengunjungi sejumlah wilayah di Raja Ampat, termasuk Waisai, Misool hingga Salawati. Kunjungan lapangan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran langsung mengenai kondisi masyarakat, lingkungan, budaya, serta pengelolaan kawasan geopark.

“Mereka akan bertemu langsung dengan nelayan yang berangkat sebelum fajar, dengan ibu-ibu yang mengolah hasil laut menjadi rezeki keluarga, dan dengan anak-anak yang tertawa riang di tepi pantai. Merekalah wajah asli Raja Ampat yang sesungguhnya,” kata Orideko.

Baca Juga  Danrem 181/PVT Sorong Berikan Nutrisi Tambahan Untuk Penurunan Prevelensi Stunting di Raja Ampat

Ia berharap proses revalidasi tidak hanya menjadi sebuah proses penilaian, tetapi juga menjadi pengalaman yang memberikan kesan positif bagi para evaluator mengenai komitmen Raja Ampat dalam menjaga kekayaan alam dan budaya yang dimilikinya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat Klasina Rumbekwan, menjelaskan bahwa revalidasi kali ini dilakukan untuk melihat perkembangan Raja Ampat UGGp setelah evaluasi sebelumnya pada 2023.

Ia mengatakan, saat ini Raja Ampat berada pada status green card. Melalui proses revalidasi tersebut, pemerintah daerah bersama seluruh mitra berharap status tersebut dapat dipertahankan.

KET:
Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, Klasina Rumbekwan. Saat wawancara bersama awak media di ruang loby kantor bupati Raja Ampat Selasa, (18/8/2026). Foto: Agustinus Guntur (RajaAmpatNews)

“Posisi Raja Ampat sekarang green card. Melalui evaluasi ini kami berharap, bersama mitra dan pemerintah daerah, Geopark Raja Ampat tetap mendapat green card,” jelasnya.

Menurutnya, tim evaluator akan melihat sejauh mana perkembangan Raja Ampat sejak evaluasi 2023 hingga 2026. Salah satu perkembangan yang telah dicapai adalah penambahan sejumlah geosite serta pengembangan berbagai program pengelolaan geopark.

Selain aspek pengembangan kawasan, evaluator juga akan menilai kolaborasi Pemerintah Kabupaten Raja Ampat dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perguruan tinggi, BLUD, hingga mitra geopark di dalam dan luar negeri.

Raja Ampat juga telah membangun kerja sama dengan sejumlah geopark di Indonesia maupun luar negeri, salah satunya Lenggong Geopark di Malaysia.

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan bersama, termasuk rangkaian Geofest, pre-Geofest di Raja Ampat serta kegiatan post-Geofest di Toba Caldera dan Lenggong, Malaysia.

“Yang penting dari itu adalah bagaimana keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian geopark itu sendiri,” ujar Klasina.

Ia menegaskan, keterlibatan masyarakat lokal menjadi salah satu aspek penting dalam keberlanjutan Raja Ampat UGGp. Sebab, keberhasilan geopark tidak hanya diukur dari jumlah geosite, program maupun kerja sama, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat menjadi bagian aktif dalam menjaga dan memperoleh manfaat dari kawasan tersebut.

Baca Juga  FK PKB PGI Resmi Bentuk Panitia KONAS XIX 2026 di Raja Ampat, Orideko Burdam Ditunjuk sebagai Ketua Umum

Proses revalidasi ini pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, pelaku pariwisata, akademisi, mitra pembangunan serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam menjaga Raja Ampat sebagai salah satu kawasan alam dan budaya penting di dunia.