Tak Ada SMP hingga Kekhawatiran Biaya, Wali Murid Tlogoweru Didorong Tak Menyerah pada Pendidikan Anak

DEMAK – Keterbatasan fasilitas pendidikan, jarak sekolah yang jauh, biaya pendidikan, hingga rendahnya motivasi belajar anak menjadi sejumlah kekhawatiran yang dihadapi wali murid di Desa Tlogoweru, Kabupaten Demak. Persoalan tersebut mengemuka dalam sosialisasi pentingnya pendidikan yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 93 di SDN 2 Tlogoweru, Sabtu (1/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti seluruh siswa-siswi kelas VI SDN 2 Tlogoweru serta sejumlah wali murid. Dalam kesempatan itu, mahasiswa KKN Posko 93 menghadirkan Dian Nafiatul Awwaliyah, dosen Universitas Sultan Fatah (UNISFAT) yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Kehadiran para wali murid menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Sebab, keberlanjutan pendidikan anak tidak hanya bergantung pada kemauan siswa, tetapi juga dukungan keluarga, termasuk dalam pembiayaan dan pendampingan selama menempuh pendidikan.

Dalam pemaparannya, Dian Nafi mendorong para siswa untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurutnya, pendidikan dapat membuka lebih banyak peluang bagi seseorang untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.

“Dengan pendidikan, InsyaAllah dipermudah. Mulai dari memperluas wawasan, menambah relasi, memperbanyak kesempatan, dan banyak hal tak terduga lainnya,” ujar Dian Nafi.

Pesan tersebut mendapat respons positif dari para wali murid. Meski hanya 14 dari total 26 wali murid yang hadir, sesi diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah orang tua secara terbuka menyampaikan berbagai persoalan yang menjadi pertimbangan mereka dalam melanjutkan pendidikan anak.

Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan fasilitas pendidikan di sekitar tempat tinggal. Solehah, salah satu wali murid siswa kelas VI, mengungkapkan bahwa anak-anak di Tlogoweru harus keluar desa apabila ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP atau MTs.

Baca Juga  BPD KKSS Raja Ampat Resmi Dilantik, Tegaskan Komitmen Jadi Mitra Strategis Pemerintah Daerah

“Di sini nggak ada SMP, MTs, Bu. Kalau mau melanjutkan pendidikan itu berarti harus keluar desa. Jauh, Bu,” ungkap Solehah.

Persoalan jarak tersebut kemudian berkaitan dengan persoalan transportasi dan aktivitas orang tua. Minchatul, wali murid lainnya, mengatakan jarak sekolah menjadi kendala apabila anak harus menggunakan sepeda. Sementara jika menggunakan sepeda motor, orang tua juga memiliki kekhawatiran tersendiri.

“Iya, Bu. Kalau naik sepeda kejauhan, tapi kalau dikasih motor khawatir. Ibunya juga nggak bisa nganterin karena kerja,” ujarnya.

Keluhan serupa mendapat anggukan dari sejumlah wali murid lainnya. Selain akses dan transportasi, persoalan biaya pendidikan juga menjadi kekhawatiran yang tidak kalah besar.

Jumianti, wali murid sekaligus wali kelas VI SDN 2 Tlogoweru, menuturkan bahwa biaya pendidikan yang tinggi dapat menjadi tantangan bagi keluarga, terlebih jika anak memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan di bidang yang membutuhkan biaya besar.

“Apalagi anak saya sekolahnya nanti kedokteran. Biaya pendidikannya kan tinggi,” ujar Jumianti.

Tidak hanya persoalan fasilitas dan biaya, faktor motivasi anak juga menjadi perhatian para orang tua. Kasanah, salah satu wali murid siswa kelas VI, mengungkapkan bahwa menjaga semangat anak untuk belajar terkadang menjadi tantangan tersendiri.

“Tapi anak-anaknya juga mood-moodan, Bu. Disuruh belajar sulit,” ucap Kasanah.

Menanggapi berbagai kekhawatiran tersebut, Dian Nafiatul Awwaliyah menegaskan bahwa keterbatasan jarak dan kondisi ekonomi tidak semestinya menjadi alasan untuk menghentikan pendidikan anak.

Ia mengajak para orang tua untuk aktif mencari berbagai alternatif pembiayaan pendidikan yang tersedia. Sejumlah program bantuan dapat dimanfaatkan masyarakat, di antaranya Kartu Indonesia Pintar (KIP), bantuan pendidikan dari BAZNAS dan LAZISMU, serta sejumlah pondok pesantren yang menyediakan pendidikan dengan biaya terjangkau hingga gratis.

Baca Juga  Tanam Harapan untuk Generasi Mendatang, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Hijaukan Desa Sendang Dawuhan

Menurut Dian, informasi mengenai berbagai program tersebut penting diketahui orang tua agar keterbatasan ekonomi tidak langsung dianggap sebagai akhir dari perjalanan pendidikan anak.

Selain akses dan pembiayaan, Dian juga menyoroti pentingnya pola asuh orang tua dalam menjaga motivasi belajar anak. Ia mengajak para orang tua menerapkan pola pengasuhan yang lebih kreatif dan menyesuaikan pendekatan dengan karakter masing-masing anak.

Setiap anak, kata dia, memiliki karakter, minat, dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak, memberikan apresiasi terhadap usaha mereka, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu anak mempertahankan semangat belajar dan tidak mudah kehilangan motivasi hanya karena mengalami kesulitan dalam proses pendidikan.

Sosialisasi yang digelar mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 93 tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi ruang untuk menyampaikan pentingnya pendidikan kepada siswa. Kegiatan itu juga menjadi ruang bagi orang tua untuk menyampaikan persoalan nyata yang mereka hadapi dalam memastikan anak-anak dapat melanjutkan pendidikan.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Posko 93 berharap siswa-siswi kelas VI SDN 2 Tlogoweru semakin termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Di sisi lain, para orang tua diharapkan semakin memahami pentingnya dukungan keluarga serta mampu memanfaatkan berbagai peluang bantuan pendidikan yang tersedia.

Dengan demikian, keterbatasan fasilitas, jarak, biaya, maupun naik-turunnya motivasi belajar anak diharapkan tidak menjadi penghalang bagi generasi muda Tlogoweru untuk terus mengenyam pendidikan dan mengejar cita-cita.

Writer: Tim KKN UIN Walisongo Semarang// Editor: Agustinus Guntur (RajaAmpatNews)