Berangkat dari Kisah Bulus, Dian Nafi Kobarkan Semangat Siswa SDN 2 Tlogoweru untuk Melanjutkan Pendidikan

DEMAK – Sebuah cerita tentang bulus di mihrab Masjid Agung Demak menjadi pintu masuk Dian Nafiatul Awwaliyah untuk memotivasi siswa-siswi SD Negeri 2 Tlogoweru agar terus menuntut ilmu dan berani mengejar cita-cita.

Pesan tersebut disampaikan Dian Nafi, sapaan akrabnya, saat menggelar sosialisasi di hadapan siswa-siswi kelas VI SDN 2 Tlogoweru beserta wali murid, Sabtu (1/8/2026).

Suasana sosialisasi berlangsung interaktif. Dian Nafi mengawali pembicaraan dengan pertanyaan sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat Demak.

“Ibu-ibu, adek-adek, tahu Masjid Agung Demak mboten?” tanya Dian Nafi.

Pertanyaan tersebut langsung mendapat respons positif. Para siswa dan wali murid mengangguk. Masjid Agung Demak memang menjadi salah satu ikon sejarah dan keagamaan yang sangat dikenal masyarakat, khususnya di Kabupaten Demak.

Namun, ketika Dian Nafi melanjutkan pertanyaan mengenai keberadaan gambar bulus pada bagian mihrab Masjid Agung Demak, suasana berubah. Sebagian besar peserta tampak belum mengetahuinya.

“Nah, tahu nggak kalau ada gambar bulus di mihrab imamnya?” tanyanya.

Dian Nafi kemudian menjelaskan bahwa bulus atau kura-kura air tawar yang terdapat pada mihrab Masjid Agung Demak bukan sekadar ornamen. Simbol tersebut memiliki makna historis dan filosofis yang berkaitan dengan perjalanan dakwah, penanda waktu, kepemimpinan, hingga ketahanan.

KET: Dian Nafiatul Awwaliyah menyampaikan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan untuk siswa-siswi kelas VI SDN 2 Tlogoweru beserta dengan wali murid. Foto: Istimewa.

Dari kisah tersebut, Dian Nafi kemudian membawa para siswa pada pengalaman pribadinya ketika menulis artikel ilmiah mengenai bulus. Proses tersebut, kata dia, membuka banyak kesempatan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Dalam perjalanan penelitiannya, ia memperoleh dukungan pendanaan, berkesempatan bertemu dengan ahli biologi untuk mempelajari penyebab semakin langkanya bulus, hingga menemukan berbagai pengalaman dan relasi baru.

“Nah, itu tadi semua karena pengetahuan, Bu. Menambah wawasan, menambah relasi, sampai mendapatkan lebih banyak kesempatan,” tutur Dian Nafi.

Baca Juga  Belanja Pegawai Terus Membesar, Bupati Raja Ampat Ajak PPPK Jaga Kepercayaan Publik

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan pengetahuan tidak hanya memberikan seseorang tambahan informasi, tetapi juga dapat membuka pintu menuju berbagai peluang dalam kehidupan.

Pesan itulah yang kemudian ia tekankan kepada siswa-siswi kelas VI SDN 2 Tlogoweru. Dian Nafi mengajak mereka untuk tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar.

Ia juga mengingatkan para wali murid agar memberikan dukungan kepada anak-anak mereka untuk melanjutkan pendidikan sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.

“Dan menambah pengetahuan itu nggak harus di SMP. Bisa di MTs, di pondok, atau mungkin kalau memang terpaksa ya mengambil Paket B dan C,” jelasnya.

Bagi Dian Nafi, pilihan jalur pendidikan boleh berbeda, tetapi semangat untuk terus belajar harus tetap dijaga. Pendidikan, menurutnya, merupakan salah satu bekal penting bagi anak-anak untuk memperluas wawasan, membangun relasi, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan di masa depan.

Untuk membuat kegiatan semakin menarik, Dian Nafi tidak hanya menyampaikan materi secara lisan. Ia membagikan kertas dan krayon kepada 25 siswa yang hadir.

Para siswa diminta menuliskan nama, cita-cita, hobi, serta hal yang mereka dapatkan dari sosialisasi tersebut.

Suasana kelas pun semakin semarak. Para siswa terlihat antusias mengerjakan tugas yang diberikan. Apalagi, Dian Nafi menjanjikan hadiah berupa buku bagi mereka setelah menyelesaikan tulisan masing-masing.

Kegiatan sederhana itu sekaligus menjadi ruang bagi para siswa untuk mengenali kembali cita-cita mereka dan menuangkan motivasi yang diperoleh selama sosialisasi.

Salah seorang siswa, Nasyrul, bahkan menuliskan cita-citanya menjadi arsitek. Ia mengaku termotivasi setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Biar kayak Bu Dian,” ungkap Nasyrul saat menjelaskan alasan memilih cita-cita tersebut.

Nasyrul ternyata bukan satu-satunya siswa yang memilih profesi arsitek. Sejumlah siswa lainnya juga menuliskan arsitek sebagai cita-cita mereka setelah mendapatkan motivasi dari Dian Nafi.

Baca Juga  BUPATI RAJA AMPAT APRESIASI PARLEMEN CUP I WUJUD PEMBINAAN GENERASI MUDA MELALUI OLAHRAGA FUTSAL PUTRI

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pesan tentang pentingnya pendidikan dapat disampaikan melalui cara yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak-anak. Kisah tentang bulus di Masjid Agung Demak pun akhirnya bukan hanya menjadi cerita tentang sejarah dan simbol, tetapi berkembang menjadi sebuah pelajaran mengenai pentingnya pengetahuan, keberanian bermimpi, dan kemauan untuk terus belajar.

Dari sebuah cerita lokal, para siswa diajak memahami bahwa pengetahuan dapat membuka wawasan, memperluas pergaulan, dan menghadirkan kesempatan baru. Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang melanjutkan sekolah, melainkan tentang mempersiapkan diri untuk mengejar masa depan dan mewujudkan cita-cita.

Writer: Tim KKN UIN Walisongo Semarang// Editor: Agustinus Guntur (RajaAmpatNews)