Waisai, RajaAmpatNews — Penanganan kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Waisai terus berkembang. Direktur RSUD Raja Ampat, Meidi Lidia Maspaitella, mengungkap sejumlah langkah darurat yang dilakukan pihak rumah sakit untuk menangani lonjakan pasien yang datang sejak Senin siang (1/12/2025).
Menurut Meidi, RSUD langsung melakukan penanganan klinis sekaligus mengaktifkan dukungan lintas sektor. “Kami langsung melakukan penanganan dari sisi klinis. Untuk kekurangan logistik, kami meminta bantuan Polri, TNI, dan BNPB. Mereka sangat cepat tanggap, termasuk membantu mendirikan tenda darurat di depan rumah sakit,” ujarnya.
Pihak RSUD juga mendapatkan dukungan pencahayaan dari kontraktor proyek di sekitar lokasi. “Kami minta bantuan lampu agar area perawatan tetap terang. Ini penting untuk kenyamanan dan keselamatan pasien,” tambahnya. Untuk memastikan tenaga medis tetap prima, RSUD menyediakan makan dan minum bagi seluruh petugas yang terlibat.

Dalam menghadapi lonjakan pasien, rumah sakit membuka seluruh ruangan yang tersedia, bahkan menggabungkan beberapa ruang untuk meningkatkan kapasitas perawatan. “Kami tambah tempat tidur, menyediakan tiang infus, dan memastikan obat-obatan tercukupi. Kami juga sudah berkoordinasi dengan dinas kabupaten, dinas kesehatan, hingga provinsi untuk membantu suplai,” katanya.
Perkembangan Data Pasien
Hingga berita ini diturunkan, total sementara pasien yang dirawat mencapai 70 orang dan diperkirakan masih dapat bertambah. Mereka berasal dari sejumlah sekolah dan pekerja di Waisai, yakni:
- SD YPK: 29 siswa
- SMK Bukit Zaitun: 4 siswa
- SMP YPK Alfa Omega: 21 siswa
- MTs Lim: 2 siswa
- SD Negeri 29: 9 siswa
- SMP 14: 1 siswa
- Pekerja SMK Bukit Zaitun: 3 orang
- SMA YPK Alfa Omega: 1 siswa
Sebagaimana diwartakan sebelumnya, sejumlah siswa-siswi di Waisai diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan di sekolah. Data awal yang dihimpun menyebut jumlah korban mencapai 67 orang, terdiri atas 63 siswa, 1 guru, dan 3 pekerja. Seluruh korban saat itu langsung dilarikan ke RSUD Raja Ampat.
Peristiwa ini mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. Wakil Bupati Raja Ampat, Mansyur Syahdan, bersama pimpinan dan anggota DPRK Raja Ampat turun langsung memantau kondisi para korban.

Mansyur memastikan persediaan obat dan cairan infus di RSUD masih mencukupi. “Stok obat-obatan dan infus masih sekitar dua ribuan. Dengan jumlah umpreng yang dibagi sekitar dua ribu lima ratus, mudah-mudahan tidak semua dirawat di sini. Kalau semua datang, berarti kita harus minta bantuan lagi karena itu sudah kondisi darurat,” ujarnya saat meninjau perawatan pasien.
Ia mengungkapkan, data awal menunjukkan sekitar 60 orang telah mendapat penanganan medis, sementara sisanya masih dalam proses pendataan. “Kita masih menginventarisir dan memastikan semuanya mendapat penanganan maksimal,” tambahnya.
Terkait penyebab dugaan keracunan, Mansyur menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk memanggil pengelola dapur penyedia MBG. “Kita mau memastikan persoalannya ada di mana agar tidak terulang,” tegasnya.

Namun saat tim pemerintah mendatangi lokasi dapur MBG, pihak pengelola tidak berada di tempat sehingga belum dapat dimintai keterangan. Pemerintah daerah juga masih mempertimbangkan apakah pelayanan MBG akan dilanjutkan atau dihentikan sementara. “Besok baru akan dipastikan apakah dapurnya tetap beroperasi atau tidak,” kata Mansyur.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan RSUD Raja Ampat dan kepolisian. Pemerintah berharap kejadian serupa tidak terulang dan meminta semua pihak memastikan standar kebersihan, keamanan, dan kelayakan makanan sebelum didistribusikan kepada siswa.
Writer: Petrus Rabu












