Laporan Khusus oleh Petrus Rabu, S.Fil dari Kampung Folley, Misool Timur – Raja Ampat
Di setiap kunjungan ke Kampung Folley, pemandangan ini selalu hadir dengan kehangatan yang sama: mama-mama Papua berdiri di depan kantor kampung, menjaga meja penuh kripik beraneka rasa. Mereka bukan hanya berjualan—mereka sedang membangun harapan.
Kelompok ini bernama Du It De, sebuah kelompok usaha bersama yang digagas dan dikelola oleh perempuan Papua di kampung itu. Produk unggulan mereka meliputi kripik pisang, keladi, singkong, bahkan kripik ikan—semuanya diolah secara mandiri, dari bahan lokal yang selama ini dipandang sebelah mata.
“Keladi dan pisang ini biasanya kita tanam begitu saja. Kadang harganya tidak jelas. Tapi sekarang, karena kita olah jadi kripik, dia jadi emas yang bisa mengalirkan rupiah,” ujar Mama Yuliana Rumfabe, Bendahara kelompok, dengan nada bangga.

Apa yang dulunya hanya dianggap pangan biasa kini menjadi sumber pemasukan baru. Lewat pengolahan sederhana dan kemasan menarik, produk lokal ini menjelma menjadi komoditas bernilai. Setiap bungkus kripik dijual Rp25.000, dan hasilnya digunakan untuk menggaji anggota kelompok sebesar Rp100.000 per kali kerja. Lebih dari sekadar usaha rumahan, ini adalah roda ekonomi baru yang digerakkan oleh tangan-tangan perempuan.
Kelompok Du It De didukung oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) yang memberikan dua tahap bantuan, masing-masing senilai Rp35 juta. Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk peralatan produksi dan pelatihan teknis. Saat ini, mereka telah memiliki rumah produksi sendiri di kampung.
Namun, perjuangan belum selesai. Tantangan utama kini adalah pemasaran.
“Kami siap bikin banyak, tapi pembeli belum tentu ada. Karena itu kami rencana survey ke Waisai, lihat toko atau mungkin bisa jual online,” jelas Mama Yuliana.
Harapan mereka pun mendapat angin segar saat rombongan Bupati Raja Ampat, Orideko I. Burdam, hadir dalam penyerahan dana desa pada 4 Agustus 2025 lalu. Dalam kunjungan itu, semua produk yang dipajang habis diborong oleh rombongan. Bahkan sang Bupati sendiri membeli beberapa produk secara langsung sebagai bentuk dukungan nyata terhadap usaha mama-mama ini.
“Ini luar biasa. Produk lokal seperti ini harus kita angkat dan promosikan lebih luas,” ujar Bupati singkat, sambil membawa beberapa bungkus kripik hasil karya kelompok tersebut.
Kisah mama-mama di Folley bukan hanya soal kripik. Mereka adalah pelajaran hidup bagi perempuan di seluruh Raja Ampat, bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada jalan untuk bangkit. Mereka menunjukkan bahwa keberdayaan perempuan tidak harus selalu tampil di panggung besar—cukup dari dapur kecil di kampung, dengan semangat besar dan kemauan untuk maju.

Dukungan dari NGO seperti YKAN juga membuktikan bahwa sinergi antara masyarakat dan mitra pembangunan dapat memperkuat peran perempuan dalam meningkatkan ekonomi rumah tangga. Upaya ini sejalan dengan misi Pemerintah Daerah untuk mendorong pemberdayaan perempuan Papua sebagai bagian dari strategi pembangunan yang inklusif.
Sebagai jurnalis yang beberapa kali menyaksikan langsung kerja keras kelompok ini, saya merasa bangga. Di balik meja sederhana itu, saya melihat perubahan. Dari keladi dan pisang yang tak menentu harganya, kini tumbuh harapan yang menghasilkan rupiah. Mereka, mama-mama Papua dari Folley, sedang menulis narasi baru tentang peran perempuan dalam ekonomi kampung.
Jangan remehkan produk lokal. Kripik di meja mereka adalah simbol ketekunan, inovasi, dan keberdayaan. Dan jika diberi ruang, mereka tak hanya bisa bertahan—mereka akan tumbuh dan membawa kampung mereka ikut sejahtera.













