RAJA AMPAT – Program Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode II Tahun 2026 di Distrik Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, berakhir dengan Festival Sorai Waisai dan Fun Run di Pantai WTC (Waisai Torang Cinta). Sabtu, (01/8/2026).
Festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian akhir pengabdian 29 mahasiswa UGM yang selama pelaksanaan KKN ditempatkan di empat wilayah, yakni Kelurahan Sapordanco, Warmasen, Bonkawir, dan Waisai Kota.
Selama berada di Waisai, mahasiswa menjalankan sejumlah program bersama masyarakat. Festival Sorai Waisai kemudian menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan hasil pendampingan mahasiswa dengan aktivitas masyarakat, sekaligus mengangkat potensi budaya dan ruang publik di wilayah perkotaan Raja Ampat.
Bupati Raja Ampat Orideko Burdam melalui Asisten I, Yosep Hadi Wijayanto, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam program pengabdian dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa tidak semata-mata menjalankan agenda akademik, tetapi diharapkan mampu memberikan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat melalui program yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Karena itu, program yang dijalankan mahasiswa diharapkan tidak berhenti pada kegiatan selama KKN, tetapi dapat memberikan pengalaman dan manfaat yang bisa dilanjutkan oleh masyarakat,” ujar Yosep.
Ia menilai Festival Sorai Waisai juga memiliki nilai strategis karena mengangkat seni, budaya, dan tradisi lokal. Penguatan budaya dinilai penting bagi Raja Ampat yang tidak hanya dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga memiliki keragaman sosial dan budaya masyarakat.
“Festival seperti ini dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan seni, budaya, dan tradisi lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Di sisi lain, kegiatan semacam ini perlu diarahkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan ikut memperkuat potensi daerah,” katanya.
Yosep juga mendorong agar kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat tidak berhenti setelah program KKN berakhir. Menurutnya, kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui program yang lebih berkelanjutan dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
Bagi 29 mahasiswa KKN-PPM UGM, pelaksanaan program di Sapordanco, Warmasen, Bonkawir, dan Waisai Kota menjadi bagian dari proses belajar langsung di tengah masyarakat.
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan, pengalaman tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan akademik mahasiswa, tetapi juga menjadi bekal untuk memahami persoalan pembangunan daerah dan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencari solusi.
Festival Sorai Waisai dan Fun Run di Pantai WTC sekaligus menandai berakhirnya pelaksanaan KKN-PPM UGM Periode II 2026 di Distrik Kota Waisai.












