Bangkit dari Keterbatasan, Warga Yenbekaki Selamatkan Penyu Sisik dari Ancaman Kepunahan

RAJA AMPAT – Upaya pelestarian penyu kembali menggeliat di Kampung Yenbekaki, Distrik Waigeo Timur, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Kelompok penangkaran penyu di wilayah ini kembali aktif setelah sempat vakum akibat keterbatasan dana, dengan semangat baru untuk menyelamatkan spesies penyu yang kian terancam punah.

Kelompok yang dikoordinatori oleh Yusup Mayor ini kembali bergerak sejak April 2026 bersama lima anggota. Mereka melanjutkan upaya konservasi yang sebelumnya sempat terhenti, dengan fokus utama pada perlindungan penyu sisik, selain penyu hijau dan penyu belimbing.

Menurut Yusup, pesisir Yenbekaki merupakan salah satu habitat penting bagi penyu untuk bertelur. Dalam setahun, penyu-penyu tersebut bisa bertelur hingga tiga kali. Bahkan dalam satu malam, penyu sisik dapat naik ke pantai sebanyak tiga hingga empat ekor, dengan jumlah telur mencapai 120–130 butir per ekor.

“Potensi ini besar, tapi juga rentan jika tidak dijaga dengan baik,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Dalam praktiknya, kelompok ini menjalankan berbagai tahapan konservasi, mulai dari pemantauan saat penyu naik ke pantai, pengukuran ukuran tubuh, hingga evakuasi telur ke lokasi yang lebih aman. Telur-telur tersebut kemudian dipindahkan ke area penangkaran yang telah dipagari untuk melindungi dari predator.

Pemantauan dilakukan secara rutin, baik pagi maupun malam hari, guna memastikan telur dan induk penyu tetap aman dari gangguan, termasuk aktivitas manusia.

Yusup menegaskan, ancaman terbesar bagi penyu sisik justru berasal dari manusia. Penyu kerap diburu karena nilai ekonomisnya, baik untuk konsumsi maupun kerajinan.

“Telur dan dagingnya masih sering diambil. Sisiknya juga dimanfaatkan untuk perhiasan seperti cincin dan gelang,” jelasnya.

Kondisi tersebut berdampak pada terus menurunnya populasi penyu sisik di alam. Karena itu, upaya konservasi yang dilakukan masyarakat menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan spesies ini.

Baca Juga  KPU Raja Ampat Plenokan Rekapitulasi Hasil Perhitungan Suara Pemilu 2024
Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang dilestarikan masyarakat Kampung Yenbekaki, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Foto: Ando Kumuai

Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, kelompok penangkaran di Yenbekaki tetap berkomitmen menjaga habitat penyu. Mereka berharap adanya dukungan dari pemerintah dan pihak terkait agar kegiatan konservasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Kami butuh perhatian dan dukungan agar upaya ini bisa terus berjalan dan berkembang,” harap Yusup.

Langkah kecil masyarakat Kampung Yenbekaki ini menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian ekosistem laut di Raja Ampat, yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. 

Tanpa upaya bersama dan dukungan berkelanjutan, penyu sisik berisiko semakin menurun hingga terancam punah di masa depan.

Penulis: Ando Kumuai

Editor: Aditya Nugroho