RAJA AMPAT – Sebuah kapal dilaporkan karam di perairan sekitar Pulau But, yang berada di sebelah barat Kepulauan Ayau, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Hingga kini, bangkai kapal tersebut telah berada di lokasi selama kurang lebih satu pekan, sementara identitas pemilik maupun asal kapal masih belum diketahui secara pasti.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat, kapal tersebut pertama kali ditemukan dalam kondisi tidak beroperasi, dengan sebagian badan kapal telah terendam air laut. Diduga, kapal tersebut telah ditinggalkan oleh para awaknya.
“Sudah kabur semua dengan kapal yang lain,” ungkap seorang warga setempat.
Keterangan serupa juga disampaikan warga lainnya.
“Orang kapal sudah pergi,” ujarnya.
Dokumentasi foto yang diterima Raja Ampat News pada Selasa, 28 April 2026, memperlihatkan kondisi kapal yang mengalami kerusakan cukup parah, terutama pada bagian lambung. Cat kapal berwarna putih dengan aksen biru tampak mengelupas, sementara bagian bawahnya telah berkarat akibat paparan air laut.

Posisi kapal terlihat miring ke satu sisi, dengan sebagian badan sudah terendam. Ombak yang terus menghantam lambung kapal menunjukkan bahwa kapal tersebut telah lama tidak beroperasi. Kapal juga tampak berada tidak jauh dari garis pantai, dengan latar deretan pohon kelapa yang menandakan lokasinya dekat daratan Pulau But.
Tidak terlihat adanya aktivitas di atas kapal, memperkuat dugaan bahwa seluruh awak telah meninggalkan kapal tersebut sejak beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Anggota DPRK Raja Ampat, Lomerus Rumbewas, membenarkan adanya rencana peninjauan langsung oleh pihak terkait ke lokasi kejadian.
“Besok Pak Kapolres, Komandan Posal, Dinas Perikanan bersama anggota dewan akan turun ke wilayah Pantura untuk mengecek langsung kapal yang kandas di Pulau But,” ujar Lomerus.
Hingga saat ini, penyebab karamnya kapal tersebut belum dapat dipastikan, apakah akibat cuaca buruk, kerusakan mesin, atau faktor lainnya. Masyarakat setempat masih berupaya melakukan penelusuran secara mandiri, termasuk mencari tanda-tanda pada badan kapal yang dapat mengungkap identitas pemilik.
“Kami masih cek di lapangan, mungkin ada tulisan atau tanda di kapal yang bisa menunjukkan pemiliknya. Sampai sekarang belum ada informasi pasti,” kata seorang warga Kepulauan Ayau.

Sebagian warga juga menyoroti lambatnya respons penanganan di lapangan.
“Kalau dari awal sudah ke lokasi, mungkin bisa ada langkah lebih cepat. Jangan sampai setelah kejadian baru dilakukan pengecekan,” ungkap warga lainnya.
Keberadaan kapal karam ini menjadi perhatian serius masyarakat karena berada di jalur pelayaran tradisional yang sering dilalui nelayan. Selain berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran, bangkai kapal juga dikhawatirkan menimbulkan pencemaran lingkungan laut, terutama jika masih terdapat sisa bahan bakar atau muatan berbahaya di dalamnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait identitas kapal maupun penyebab pasti insiden tersebut. Masyarakat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan investigasi menyeluruh serta mengambil langkah penanganan yang cepat dan tepat.
Warga juga mengimbau kepada pihak yang mengetahui atau memiliki informasi terkait kapal tersebut agar segera melapor, guna mempercepat proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Editor : Aditya Nugroho












