Kemarau Panjang di Raja Ampat, 428 Warga Terdampak Kekeringan dan Puluhan Titik Kebakaran

RAJA AMPAT — Kemarau panjang mulai menekan kehidupan warga di Kabupaten Raja Ampat. Krisis air bersih telah berdampak pada 89 kepala keluarga (KK) atau 428 jiwa, sementara kondisi lahan yang semakin kering meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah kawasan.

Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Raja Ampat per 10 Agustus 2026 menunjukkan, dampak kekeringan tersebar di sejumlah permukiman di wilayah Waisai. Kondisi tersebut ditandai dengan menurunnya debit sumur hingga menyebabkan warga kesulitan memperoleh air bersih.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Guntur Tamima melalui sekretaris BPBD, Abdul Muis menyampaikan bahwa wilayah terdampak antara lain Swaimbon RT 09 Kelurahan Warmasen, Tanjakan Gunung Perumahan 200, Jalan Lukas Dailon, kawasan Kantor Golkar, Jalan Yos Sudarso Kelurahan Sapordanco, serta sejumlah titik di Kelurahan Bonkawir.

“Swaimbon RT 09 menjadi wilayah dengan dampak terbesar. BPBD mencatat 42 KK atau 208 jiwa terdampak kekeringan di kawasan tersebut. Dampak juga tercatat di Perumahan Sosial Pelabuhan 300 Kelurahan Bonkawir sebanyak 12 KK atau 55 jiwa, serta Perumahan Pegawai Warswai Dermaga 300 sebanyak 10 KK atau 55 jiwa,” ungkapnya.

Kebakaran Meningkat di Tengah Kondisi Kering

Lebih lanjut Abdul Muis mengatakan ancaman tidak berhenti pada krisis air. Kondisi kering juga meningkatkan kerawanan kebakaran lahan dan lingkungan permukiman. BPBD Raja Ampat mencatat sejumlah kejadian kebakaran sepanjang 23 Juli hingga 8 Agustus 2026.

“Titik kebakaran tersebar di berbagai lokasi, mulai dari kawasan TPA, Pandawa I-V, Rumah Doa, Waiwo, Warbaryam, sekitar Resort Coriana, Swaimbon, belakang Golkar, TPS, Kwarcab 3504, belakang SMA 1, Kampung Napirboy, kawasan Scuba Kampung Urfar, hingga sejumlah kawasan perumahan, gereja dan TPU,” ujarnya.

Baca Juga  Wakil Bupati Raja Ampat Gelar Open House, Pererat Silaturahmi di Hari Raya Idul Fitri

Beberapa titik bahkan mengalami kebakaran berulang. Kawasan TPA tercatat dua kali terbakar, sementara kawasan Pandawa mengalami beberapa kejadian dalam rentang 25 Juli hingga 5 Agustus.

Kebakaran masih berlanjut memasuki Agustus. BPBD melaporkan kejadian di Kwarcab 3504 pada 2 Agustus, Kampung Napirboy dan kawasan depan Scuba Kampung Urfar pada 4 Agustus, serta sejumlah titik lain pada 5 hingga 8 Agustus.

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kemarau di Raja Ampat bukan hanya menyangkut ketersediaan air. Lahan dan kawasan permukiman yang mengering juga memperbesar peluang api cepat menyebar ketika terjadi kebakaran.

BPBD mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Warga yang menemukan titik api juga diminta segera melaporkannya agar penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas.

Sementara itu, terhadap wilayah yang mengalami kekurangan air, BPBD terus memantau perkembangan kondisi di lapangan. Data 89 KK atau 428 jiwa terdampak kekeringan menjadi indikator bahwa dampak musim kemarau mulai memasuki aspek dasar kehidupan warga, terutama akses terhadap air bersih.