CKG di Raja Ampat Terkendala Akses dan Fasilitas, Warga yang Ikut Baru 3–5 Persen

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat, dr. Engelbert MS Wader/Foto: Agustinus Guntur/RajaAmpatNews.com
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat, dr. Engelbert MS Wader/Foto: Agustinus Guntur/RajaAmpatNews.com
banner 120x600

Waisai, RajaAmpatNews — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan pemerintah di Kabupaten Raja Ampat belum menjangkau sebagian besar masyarakat. Meski hampir seluruh puskesmas telah menjalankan layanan ini, partisipasi warga masih rendah akibat keterbatasan fasilitas, tenaga kesehatan, serta sulitnya akses wilayah kepulauan.

Hingga awal Desember 2025, jumlah warga yang mengikuti CKG baru berkisar 3 hingga 5 persen dari total penduduk Raja Ampat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Raja Ampat, dr. Engelbert MS Wader, mengungkapkan bahwa secara administratif, cakupan pelaksanaan program sudah berjalan hampir merata di seluruh wilayah pelayanan kesehatan. Namun, animo masyarakat untuk datang langsung memanfaatkan layanan masih tergolong rendah.

“Kalau dari sisi puskesmas, pelaksanaan program sudah mencapai sekitar 90 persen. Tetapi kalau dihitung dari jumlah penduduk Raja Ampat yang mencapai lebih dari 71 ribu jiwa, warga yang sudah melakukan cek kesehatan baru sekitar 3 sampai 5 persen,” ujar Engelbert saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (4/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa CKG merupakan layanan pemeriksaan awal kesehatan yang diberikan secara gratis kepada masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatan dasar, bukan pemeriksaan medis menyeluruh seperti di rumah sakit.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pelaksanaan di beberapa fasilitas kesehatan belum sepenuhnya optimal. Sejumlah item pemeriksaan belum dapat dilakukan secara lengkap lantaran keterbatasan alat medis, bahan pemeriksaan, dan tenaga kesehatan. Kondisi itu berdampak pada kualitas pelayanan yang belum merata.

“Cek kesehatan itu seharusnya dilakukan lengkap sesuai kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak hingga lansia. Namun kenyataannya, beberapa pemeriksaan belum bisa dilakukan karena keterbatasan alat, bahan medis, serta tenaga,” jelasnya.

Data sementara menunjukkan partisipasi kelompok lanjut usia masih sangat rendah. Dari sekitar 71 ribu penduduk Raja Ampat, baru sekitar dua persen lansia yang telah memanfaatkan layanan CKG.

Menurut Engelbert, rendahnya angka pemeriksaan disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah kondisi geografis Raja Ampat yang sebagian besar berupa gugusan pulau. Jarak tempuh dan keterbatasan transportasi menjadi kendala bagi warga untuk mengakses puskesmas.

“Di wilayah daratan seperti Waisai mungkin lebih mudah. Tapi untuk kampung-kampung di pulau, masyarakat harus menempuh jarak jauh ke puskesmas. Ada juga yang sudah datang, tapi alat dan bahan habis, petugas terbatas. Ini yang membuat warga enggan kembali,” katanya.

Ia menambahkan bahwa situasi serupa juga terjadi di wilayah lain di Provinsi Papua Barat Daya, sehingga capaian rendah bukan hanya terjadi di Raja Ampat.

Meski demikian, Dinas Kesehatan terus mengimbau masyarakat agar tidak ragu memanfaatkan layanan ini. Menurut Engelbert, tujuan utama CKG bukan hanya untuk mengobati orang sakit, melainkan sebagai langkah pencegahan agar warga yang sehat tetap terjaga kesehatannya dan mereka yang sudah memiliki penyakit tidak mengalami komplikasi lebih lanjut.

“Kalau orang peduli, dia datang untuk tahu status kesehatannya. Setelah itu baru bisa kita lakukan upaya pencegahan atau penanganan. Itulah esensi CKG,” pungkasnya.

Pemerintah daerah Kabupaten Raja Ampat berharap ke depan ada peningkatan dukungan anggaran, penyediaan alat kesehatan, serta perluasan layanan jemput bola ke kampung-kampung terpencil agar program ini benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Raja Ampat.

Writer: Agustinus Guntur II Editor: Petrus Rabu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *