“Tobat dan Kasih: Pedoman Dasar dalam Berelasi dengan Tuhan dan Sesama”

RD. Ardus Endi /Dok.Pribadi
RD. Ardus Endi /Dok.Pribadi

Renungan Harian (Jumat, 13 Maret 2026)

Oleh: RD. Ardus Endi

Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…

Ada dua hal yang menjadi inti pewartaan dari kedua bacaan suci hari ini, yakni pentingnya sikap tobat dan sikap mengasihi. Dalam bacaan I(Hos.14:2-10), Nabi Hosea menegaskan bahwa sikap tobat menjadi sebuah sikap religius yang pantas untuk membentuk kembali relasi yang rusak antara kita dengan Allah. Kalau dosa membuat relasi kita menjadi rusak, maka tobat adalah cara terbaik untuk membetulkan kembali relasi itu.

Melalui Hosea, Allah berfirman kepada umat Israel: “Bertobatlah, hai Israel, kepada Tuhan Allahmu, sebab engkau telah tergelincir karena kesalahanmu. Datanglah membawa kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada Tuhan” (Hos. 14:2-3). Di sini menjadi jelas bagi kita bahwa sikap tobat menjadi satu-satunya jalan bagi kita untuk dapat mengalami keselamatan di dalam Allah. Tanpa sikap ini, mustahil seseorang dapat mengalami keselamatan. Jadi, sikap tobat menjadi jembatan utama bagi kita untuk dapat memperoleh hidup dan keselamatan di dalam Allah.

Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…

Selanjutnya, dalam Injil (Mrk. 12:28b-34), Yesus memperkenalkan Hukum Cinta Kasih. Ada dua butir hukum Cinta Kasih itu, antara lain: Pertama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30). Ini adalah kasih yang bercorak vertikal, yakni relasi kasih antara kita dengan Allah. Relasi kasih ini terwujud dalam sikap iman kita kepada Tuhan. Kita mengasihi Allah berarti kita percaya dan beriman kepada-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa tunjukkan melalui sikap doa dan keterlibatan kita secara aktif dan sadar dalam perayaan Ekaristi.

Kedua, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk. 12:31). Ini adalah kasih yang bercorak horisontal, yaitu relasi kasih antara kita dengan sesama yang berada di sekitar kita. Wujudnya adalah dalam kesadaran dan keberanian kita untuk saling mengasihi, saling peduli, saling berbagi, dan saling membantu satu terhadap yang lain.

Dalam hubungannya dengan butir hukum kedua ini, Yesus mengingatkan kita agar mencintai dan mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Tidak peduli orang ini berasal dari suku mana, dia orang apa, warna kulitnya apa, jabatannya apa, dan sebagainya. Jadi, kita diharapkan untuk mengasihi semua orang sama seperti kita mencintai diri kita sendiri. Itu berarti dosis perhatian, takaran cinta dan ukuran kasih sayang yang kita berikan kepada orang lain harus sama dengan dosis yang kita pakai untuk diri kita sendiri.

Mengapa demikian? Karena pada hakikatnya, orang lain itu adalah bagian dari diri kita. Kita semua adalah sesama saudara di dalam Allah. Tidak ada yang terlahir sebagai musuh bagi sesama. Maka, kita diajak untuk mencintai dan mengasihi semua orang tanpa pandang bulu, tanpa mengkotak-kotakan, tanpa membeda-bedakan. Pada titik ini, kita diajarkan untuk mencintai tanpa melukai perasaan sesama. Mencintai yang satu tidak boleh mengabaikan yang lain.

Saudara/-I, yang terkasih dalam Kristus Tuhan…

Semoga di masa Prapaskah ini, kita semakin setia bertobat dan menghayati spirit kasih Allah dalam berelasi dengan sesama. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.          

*RD. Ardus Endi Adalah Staf Formator Seminari Petrus Van Diepen, Kabupaten Sorong Papua Barat Daya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *